June 26, 2009...11:45 am

Starbucks dan warung kopi pak Sabran

Jump to Comments
Taken from flickr

Di Amerika memang tidak ada warung kopi ala pak Sabran, warung ketan kopi yang melegenda di dekat rumah saya sewaktu kecil. Warung tersebut tidaklah besar dan luas, akan tetapimempunyai keunikan dibanding warung-warung malam disekitar. Selain lama  jam operasional buka juga menu makanan yang disediakan berbeda antara pagi, siang dan malam. Tidak heran jika menjadi jujugan orang-orang yang kelaparan khususnya dimalam hari.
Salah satu menu favorit adalah kopi panas dengan ketan hangatnya. Dengan seduhan air panas di campur kopi goreng asli lokal menjadikan aroma yang semerbak sewaktu dihidangkan. Sedang ketannya di labur dengan bubuk kacang menambah kenikmatan dirasa.
Itu cerita jaman dulu, kini tidak tahu lagi bagaimana kelanjutannya. Apalagi jaman sudah berubah demkian pesat. Banyak bisnis-bisnis serupa bukan saja merambah di perkotaan saja tetapi juga di pedesaan serasa tidak ada bedanya. Persaingan bisnis yang semakin kompetitif di segala lini, memaksa pelaku usaha untuk berkreativitas dan mengembangkan ide-ide yang lebih baik.

Kalau dulu, orang berjualan sederhana saja, tinggal menaruh barang di meja atau digantung dalam sebuah geledak toko, tinggal menunggu konsumen datang untuk membeli. Sekarang berjualan konvensional tersebut mungkin akan ditinggal oleh penjual maupun pembeli. Seperti  kasus warung kopi Pak Sabran diatas, yang hanya mengandalkan kebutuhan makan konsumen dan kurang mengindahkan lokasi, modifikasi serta elemen manajemen lainya. Dan, bandingkan dengan kualitas café-café maupun restoran masa kini.

Budaya konsumerisme dalam kehidupan kita menuntut hal yang demikian. Semakin banyak persaingan, semakin banyak pilihan. Akhirnya, semakin banyak yang jatuh, juga yang bangun. Begitulah kira-kira menurut asumsi pasar bebas.

Era globalisasi sudah mulai terasa di kampung-kampung tempat tinggal kita dibesarkan. Ini bukan berarti tidak baik, dan kita tidak boleh antipati terhadapnya. Segi positif dan negatifnya selalu ada, tergantung kita cenderung ke arah mana. Tidak ada bedanya dengan globalisasi, yang berarti peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia diseluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer dan bentuk interaksi-interaksi lainnya sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. (wikipedia; globalisasi)

Sering pula dapat dikatakan dengan universalisasi, dimana kita mempunyai kesamaan sikap dan selera satu sama lain. Suatu yang unik kalau melihat fenomena bertebarannya aneka globalisasi dibidang ekonomi dengan bertebarannya perusahaan multinasional  di nusantara kita seperti Shell, Mc Donald, Carrefour, Starbucks Coffe dan lain sebagainya di belantara nasional kita. Ironinya, alih-alih kita menyadari dengan bijak, terkalahkan dengan budaya hedonis dan konsumerisme yang masuk dalam keseharian. Begitu juga dengan para pejabat negara yang masih terlihat lebih memihak pada  asing demi kepentingan pragmatis ekonomisnya, daripada memberikan perlindungan pada ekonomi lokal dan potensi-potensi dalam negeri.

Kembali kepada cerita warung kopi, saya mempunyai pengalaman menarik dimana seorang teman dengan bangga mengatakan kalau suka hang out dan minum kopi di Starbucks Coffe. Aroma dan rasa kopinya terasa beda dengan kopi yang lain. Tidak heran jika ia rela merogoh koceknya lebih daripada membeli kopi di warung kaki lima. Padahal kalau mau jujur, banyak juga kopi-kopi yang merupakan produk lokal Indonesia yang dibuat di Starbucks. Kalau sudah begitu, rasanya tidak ada yang beda dengan semuanya, kecuali budaya, brandednya dan kemasannya.

Berbeda dengan orang amerika, mereka pergi ke Starbucks Coffe karena disana kurang adanya  kedai kopi yang rasanya memadai. Kopi sekedar untuk mengopi, di starbucks menawarkan rasa, makanya orang-orang sana memilihnya. Bagaimana dengan kita? Akankah lebih mengutamakan gengsi dan pamornya? Ataukah lebih baik ikut andil dalam melestarikan budaya dan ekonomi lokal kita? Saya pikir masih banyak diantara kita yang salah persepsi dalam memandang globalisasi? Mungkin karena definisinya sendiri yang masih berubah bentuk bergantung cara memandangnya. Semoga masih banyak warung-warung kopi Pak Sabran yang menawarkan rasa dan diminati oleh orang banyak.

11.36 EST. June 25, 2009

Pleasanville, NY

Leave a Reply