June 24, 2009...10:36 am

People Can Change, People Can’t Change

Jump to Comments

Menarik jika mencermati perubahan-perubahan hidup disekitar kita. Tidak kalah menariknya juga ketika bagaimana memandang perpektif perubahan itu sendiri beserta reaksi sosialnya.
Sebagai bagian dari masyarakat sosial yang saling berinteraksi satu sama lain tentunya banyak pengalaman dan pelajaran diperoleh terus-menerus. Dalam konteks tersebut secara individual maupun kelompok akan membentuk identitas yang membedakan satu sama lain. Pembentukannya jika dalam waktu yang lama dan bersifat komunal sering disebut stereotypes. Berbeda dengan yang bersifat spesifik, individual dan partikular dinamakan dengan sikap kepribadian seseorang.
Dalam note kali ini saya hanya akan membahas perubahan sikap seseorang yang ternyata kurang diikuti asumsi dan penerimaan publik terhadap perubahan itu sendiri. Bahkan untuk sebuah perubahan, seseorang harus mengorbankan sesuatu yang melebihi dari kesalahan atau pun kekhilafannya.
Sebagai contoh, seorang mantan pencuri atau preman ketika mau bertobat akan mengeluarkan pengorbanan yang lebih ketimbang orang biasa yang ingin menjadi orang baik. Disinilah kesabaran dan konsistensi yang bersangkutan diuji oleh masyarakat. Jika berhasil maka penerimaan pun tidak serta merta  akan tetapi berlangsung lambat meski kadang ada pula yang masih meragukannya.
Benar pepatah bilang ’sekali arang tercoreng di dahi maka selamanya tidak akan hilang’ masih berlaku dimasyarakat. Orang berbuat sesuatu maka kita akan mengingatnya, terlebih pada perbuatan yang negatif.
Sebenarnya juga bisa dibilang fair dan tidak fair pepatah diatas. Dikatakan fair karena hal demikian sebagai bentuk hukuman, pelajaran untuk yang lain dan mengurangi disorientasi perilaku yang merugikan orang lain. Dengan begitu, orang yang sadar akan berpikir dua tiga kali untuk berbuat kesalahan.
Sebaliknya, sering kali masyarakat tidak punya ampun terhadap kesalahan meski dalam kekhilafan seseorang. Tidak fair jika mereka mengakui kesalahan dan telah mendapat Hukuman setimpal, kita masih saja apriori dan atau tidak pernah percaya ketika berusaha mereka memperbaikinya.
Dari sinilah kita mendapat pelajaran betapa mulianya sikap integritas, tanggung jawab, jujur dan nilai – nilai universal lainnya di mata masyarakat. Di junjung tinggi, tidak pernah dipermainkan dari dulu hingga sekarang.
Nah, tinggal kita yang mempunyai banyak pilihan hidup mau bagaimana dan mau apa?
Hidup kekinian menawarkan berbagai keragaman tingkah laku dan tren yang aneh-aneh. Malah penjungkirbalikan nilai dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Sesuatu yang tidak baik dahulu belum tentu sama dengan sekarang, mungkin saja sebaliknya.

Mohegan lake, NY
15.31 EST, June 23, 2009

Sent from my iPod

Leave a Reply