Siapa yang tidak kenal Amerika? Negera besar dengan beragam julukan. Bagi sebagian orang, adalah mimpi untuk dapat hidup disana. Dalam bahasa cina disebut dengan Mei-guo (negeri yang indah). Tidak tahu persis mengapa dikatakan seperti itu. Tetapi yang jelas, tak dipungkiri disanalah setidaknya sampai sekarang masih dijadikan kiblat modernitas dan kemapanan sebuah bangsa.
Ada yang lebih ektrem lagi yaitu hal-hal yang berbau Amerika pasti disukai, terlepas secara rasional sesuai tidak atas karakternya. Ironisnya, mereka bukan orang Amerika, tetapi orang disekitar kita.
Mungkin kadang terkesan memaksakan diri, tetapi begitulah kiranya kecintaan kita pada budaya sendiri kian terkikis, berganti dengan pragmatisme. Tren inilah yang berkembang di kehidupan sehari-hari. Merasa memiliki budaya bangsa lain daripada mempertahankan ciri khas dan keunikan bangsa sendiri. Dengan kata lain, jiwa nasionalisme semakin luntur.
Kini, nasionalisme terasa lebih bersifat formal, dan dapat diartikan sengan ritualitas-ritualitas yang membosankan seperti upacara dan peringatan hari-hari besar nasional. Minus mendalami dan menghayatinya. Selebihnya kita lebih “memilih” kembali mengekor pada bangsa lain lagi.
Identitas nasional, keunggulan budaya lokal beserta keragamannya menjadi usang dan tercerabut akarnya khususnya dikalangan anak-anak muda. Mereka lebih nyaman dan terbiasa ala barat, gengsi jika memakai produk made in Indonesia.
Celakanya, dalam lingkungan pemerintahan juga terjangkit terkikisnya nasionalisme ini. Alih-alih sebagai penjaga nasionalisme, mereka tidak segan-segan menjual asset-aset berharga nasional (privatisasi) dengan murah kepada asing, dengan dalih pemulihan krisis ekonomi dan optimalisasi BUMN. Sesuatu yang tidak sepatutnya terjadi jika ada niat sungguh-sungguh melakukan restrukturisasi dan reformasi birokrasi.
Selain itu, banyak juga di antara kita yang plesiran ke negera tetangga hanya sekedar belanja murah dalam musim diskon. Bukankah kita tidak sekreatif mereka untuk menciptakan semacam itu?
Korupsi, kolusi dan nepotisme yang masih tumbuh subur di negeri kita tidak lain karena gejala menipisnya nasionalisme. Bayangkan jika seluruh elemen bangsa bersatu mempunyai kesadaran dan pemahaman kolektif akan hal itu, bukan tidak mungkin kita telah menjadi bangsa yang besar dan berwibawa diantara negara lain.
Menuju bangsa yang mandiri
Berbicara nasionalisme bukanlah bicara bagaimana kita mencintai dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Lebih dari itu, bagaimana kita menghormati, mempertahankan dan mengembangkan negara bangsa kita sehingga tercipta kemakmuran dan kemandirian.
Semangatnya disamping ditanamkan juga diperjuangkan terus-menerus.
Para pahlawan pejuang kemerdekaan pun rela berguguran demi mempertahankan semangat dan cita-cita nasionalismenya. Kita pun sebagai penerusnya seharusnya bersikap demikian pula.
Tidak ada salahnya kita belajar dari negara lain untuk itu. Di jepang, Restorasi Meiji berhasil mentransformasikan teknologi dan pendidikan barat dengan masih memegang teguh budaya Bushido-nya.
Tengoklah negara Cina yang sedemikian pesat perkembangan ekonominya tidak lain hasil kerja keras semua bangsanya untuk membangun negaranya. Baik didalam negeri mapun diperantauan, semangat kecintaan kepada tanah air masih besar hingga sekarang.
Untuk mengikutinya keberhasilannya kita tidak harus meniru jalan mereka. Bisa saja kita memiliki jalan lain dengan mengmbil dari sendi-sendi budaya bangsa kita dengan penggalian yang terus-menerus dan melakukan revitalisasi terhadapnya. Mungkin juga didapat ide yang lain yang lebih baik.
Pintu reformasi 1998 seharusnya dijadikan tonggak perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa kita, bukan malah sebaliknya. Demokratisasi dan nasionalisme seharusnya berjalan beriringan.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai semuanya, sepanjang ada konsepsi kolektif kita untuk memujudkan negara Indonesia yang maju dan mandiri.
Pleasantville, NY
1.50 am. June 11, 2009.