June 11, 2009...10:33 am

Konsistensi dan Kesabaran

Jump to Comments

Konon, Pak karim, seorang penjual mie ayam sekitar kampus di malang. Bertahun-tahun menjalankan pekerjaan tetapnya dengan sabar. Sebelumnya ia adalah bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan yang akhirnya terkena PHK. Kebutuhan dan tuntutan hidup keluarga, ia harus merelakan semua dan menjadikan ia menjadi seorang penjual mie ayam.

Waktu itu, anak-anaknya sudah muali memasuki masa sekolah. Tentu membutuhkan biaya secara kontinyu, supaya mereka tidak putus sekolah. Pak Karim adalah seorang yang hidup diantara harapan dan realita. Ia sadar bahwa anak adalah amanah sekaligus investasi dunia akhirat. Keberhasilan anak  tidak lain adalah keberhasilan orang tuanya juga.

Setiap sore dengan gerbong yang didorong mengitari kawasan kos-kosan mahasiswa, pak Karim kerap kali membayangkan  kelak anak-anaknya jika sudak besar dapat  melanjutkan ke perguruan tinggi seperti para konsumennya. Hanya itulah seakan-akan semangat dan tekad usahanya, sehingga kebutuhan sehari-hari terukupi dan anak-anak dapat membayar SPP.

Dengan pendapatan yang tidak seberapa dari penjualan Mie ayam setiap malam hari, kemudian paginya dibuat belanja barang bahan, kebutuhan rumah dan sisanya ditabung. Pak Karim melihat hasil kerja kerasnya  20 tahun setelahnya. Kini, anaknya baru saja lulus dari perguruan tinggi negeri.

Sebuah kisah yang mungkin tidak bisa kalau dijelaskan dengan logika semata. Akan tetapi begitulah keadaannya dan sering kali terjadi keajaiban yang ada disekitar hidup kita.

Dalam hidup, orang kadang membuat keputusan tidak serta merta dengan kebebasan memilih. Kadang orang membuat keputusan berawal dari tidak adanya pilihan, seperti Pak Karim diatas.

Banyak juga diantara kita terbuka mata ketika melihat keberhasilan orang. Sayangnya, kita sering kali tidak tahu-menahu pengorbanan dan perjuangan seseorang meraihnya.

Pak Karim dengan sabar dan konsiten dengan gerbong mie ayamnya bertahun-tahun memetik hasilnya kini. Mungkin juga jika Pak karim senantiasa tidak bersikap demikian, keluarganya menjadi berantakan dan bahkan anaknya tidak sampai masuk perguruan tinggi. Itulah nilai-nilai dibaliknya.

Konsisten merupakan ketetapan ataupun kesamaan kita akan pada suatu perbuatan. Disini peranan emosional sangat diperlukan. Sedangkan sinergisitas kecerdasan emosional dan spiritual membuat seseorang akan sukses dan berhasil termasuk diantaranya dalam tempat bekerja (Agustian, 2001). Begitulah sikap konsisten akan parallel dengan kesabaran.

Kesabaran sendiri berarti sikap menahan diri (betah) pada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Sabar tidak pula sifat yang menunggu-nunggu tanpa melakukan sesuatu. Sikap pak Karim diatas bentuk contohnya.

Semakin tinggi keimanan (spiritual forms)seseorang , maka akan lebih tinggi pula kesabarannya. Begitu pula dengan kesabaran hidup semakin damai dan tidak mudah berubah pikiran serta tujuan akan senantiasa hanya masalah waktu.

Dalam surat Al baqarah: 156, Allah SWT berfirman, “sesungguhnya Allah selalu menyertai orang-orang yang sabar”. Kesabaran kita akan selalu mendapat keridhoanNYA.

Setiap kesabaran kita juga bukan berarti dalam keputuasaan, tetapi dalam berusaha (Ikhtiar).

Semoga kita dapat meneladani nilai-nilai pak Karim diatas di kehidupan keseharian kita. Bukankah kesuksesan dan keberhasilan yang kita cita-citakan?

10.53 am. June 10, 2009.

Pleasantville, NY

Leave a Reply