Kehidupan seseorang tidak bisa serta merta dapat disimpulkan berbanding lurus dengan kualitas hidupnya. Maksudnya, kita tidak bisa selalu tepat dalam menelaah hidup seseorang dari gaya hidupnya saja.
Mari kita perhatikan kasus orang kaya dengan si miskin. Kehidupan orang kaya yang terbiasa hidup serba wah dan berkecukupan, ternyata ada saja perilaku yang aneh dikerjakan, seperti mencoba hidup selayaknya orang yang sengsara. Mencoba hidup ala kadarnya atau bahkan kembali hidup secara primitif. Tayangan survival di televisi yang mempertontonkan uji nyali dan ketahanan hidup di tengah hutan ala tarzan adalah satu contoh dari ungkapan diatas.
Suatu logika hidup bisa memungkinkan berjalan terbalik ketika hidup tersebut terus-menerus dalam kemapanan, atau dapat dikenal dengan postmodernisme.
Dalam makalah psikologi yang masih kontroversial, A Theory of Human Motivation yang memperkenalkan teori hierarki kebutuhan (Abraham Maslow;1943)
Menerangkan bahwa kebutuhan manusia secara umum dapat dibedakan kedalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid hierarki yaitu psicological, safety, love/belonging dan self -actualization. Kesemuanya merepresentasikan kebutuhan hidup secara berurutan (dan bisa juga acak).
Pada contoh kasus diatas tampaknya sangat relevan untuk menjawab ‘keanehan-keanehan’ yang mereka perbuat. Ketika kebutuhan dasar (psycological) orang terpenuhi maka tingkat kebutuhan mereka akan berkembang pada tahap-tahap lebih lanjut. Demikian seterusnya sampai tahap akhir dimana kemudian mereka mengimprovisasi arti dan makna hidup dengan berbagai cara.
Pada titik puncaknya akan mengalami kejenuhan serta melahirkan perilaku dan tindakan – tindakan yang tidak biasa.
Dalam kekurangan ada kenikmatan
Seorang yang miskin tidak mempunyai apa-apa tiba-tiba karena sesuatu mendapat pekerjaan sebagai pegawai negeri. Baginya ini sebuah kepuasan tersendiri mendapat pekerjaan tetap dan dapat mencukupi kebutuhannya.
Selanjutnya tingkat kepuasan si miskin akan bertambah lagi ketika ia dapat membeli rumah dan mobil baru dan akan meningkat lagi jika mempunyai villa, jabatan yang lebih tinggi, bisnis dimana-mana dan seterusnya. Sampai pada akhirnya tingkat kepuasannya menemui titik jenuh. Ia merasa sudah semua telah dipunyai dan dilakukan. Sampai tiba-tiba ia ingin mencoba kembali hidup seperti awalnya yang serba terbatas.
Perilaku diatas menunjukkan seperti yang diulas sebelumnya yaitu ketika pemenuhan suatu kebutuhan terus-menerus memungkinkan nilai kepuasan tersebut akan berubah. Disini, si miskin yang berubah menjadi berpunya pada akhirnya ingin merasakan kembali kenikmatan di waktu susah. Meski kadang kalaupun terjadi di kehidupan nyata, tidak serta merta dapat dilakukan terkait dengan status sosial dan hal tertentu pada seseorang.
Di sebut kenikmatan dalam kekurangan karena dalam hidup serba kekurangan ternyata terdapat nilai kenikmatan yang tidak dimiliki ketika dalam keadaan berlebih. Untuk itulah dalam ajaran agama kita dianjurkan untuk tidak berfoya-foya dan menekankan pentingnya membantu orang lain dengan sedekah. Ajaran agama mengajarkan demikian supaya kita terhindar dari sikap sombong dan suka menghambur-hamburkan. Lebih pentingnya lagi jika kita berusaha berempati dan menolong orang lain maka dalam kehidupan sosial akan tercipta keadilan dan keharmonisan.
Bukankah hal tersebut adalah hal yang baik?
New York, NY
March 30,2009
Sent from my iPod
1 Comment
March 31, 2009 at 9:07 pm
Yup !!