Rasanya kita yang hidup di Indonesia hampir setiap hari selalu menyempatkan membahas perkembangan politik tanah air dalam pembicaraan-pembicaraan. Terlebih sekarang ini pada musim kampanye menjelang pemilu menjadi topik yang menarik dan harus diulas secara bersama.
Entah karena mungkin kita adalah bangsa yang mempunyai sense politik yang sangat tinggi ataukah pemahaman kita akan arti penting dan proses politik sehingga partisipasi atasnya kadang melebihi yang lain.
Sudah mahfum kita menemui obrolan tentangnya di warung kaki lima, tempat ibadah, kantor-kantor, mall sampai pasar malam pun selalu ada.
Memang topik politik memang selalu menarik dan berkembang. Apalagi setelah kita melihat manuver-manuver para politisi yang kadang membingungkan, kadang pula memprihatinkan. Ditambah dengan pemberitaan media-media yang masif. Tambah klop semua.
Pemberian porsi yang ‘berlebihan’ sudah pasti tidaklah baik. Apalagi kurang dibarengi kesadaran dan aktualisasi yang benar maka akan menimbulkan masalah-masalah ditengah jalan.
Dalam proses demokrasi kita sekarang telah terjadi hal demikian. Politik kekuasaan cenderung lebih mengemuka daripada politik yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Slogan-slogan partai politik serta janji para politikus tidak lebih hanyalah untuk mendapatkan simpati dan dukungan suara untuk mendapatkan kedudukan.
Di sisi lain partisipasi aktif masyarakat dalam politik semakin rendah. Banyak juga oknum-oknum diantaranya melibatkan diri dalam aksi dukung-mendukung untuk sekedar mendapatkan uang semata.
Singkatnya, semuanya semakin serba pragmatis. Disinilah mengapa biaya politik kita menjadi relatif mahal daripada negara lain.
Begitulah fenomena-fenomena yang terjadi proses politik kita. Hambatan-hambatan dalam proses transisi demokrasi kita seharusnya dapat dilalui dengan baik, melangkah terus ke perubahan yang lebih baik. Bukannya menjadi patron akan kekuasaan dan jabatan semata.
Kadang saya berpikir demikian. Masalah-masalah kebangsaan makin silang sengkarut bukan karena orang atau hal-hal lain, melainkan kita sendiri yang menutup mata dan semakin mempertajam kepentingan-kepentingan pribadi, golongan, partai dan sebagainya diatas kepentingan bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari kesalahan masa lalu dan menatap ke masa depan dengan penuh percaya diri. Bukankah begitu?
March 29, 2009
Sent from my iPod
1 Comment
March 31, 2009 at 8:58 pm
Ada celetuk menarik dari masyarakat bawah, bahwa; pilcaleg mendatang ini hakekatnya kita ngasih kerjaan pada pengangguran yang punya banyak modal.
Hehehe…, benar juga. Karena para caleg itu pada ngunggulin program yang ‘menyenangkan’ aja.
Realisasinya ?? Hmm…jangan-jangan nanti mereka lupa