February 18, 2009...11:33 am

Kandang Singa, Kedewasaan dan Masa Depan

Jump to Comments

Pada 16 Februari 2009 yang bertepatan dengan president day adalah kebetulan hari libur saya dan juga merupakan tanggal merah disini. Sambil menghabiskan waktu, saya mencoba menulis topic diatas di netbook kesayangan sembari ngopi di Starbucks Cafe sebelah apartemen.

Sebutlah seorang teman, bernama Wawan (bukan nama sebenarnya) yang berasal dari di salah satu daerah di tanah air. Ia seorang pemuda yang memiliki jiwa petualang sehingga membawanya ke negeri paman sam kini. Disinilah saya dengannya dapat bertukar pikiran dan bercerita satu sama lain, dan atas seijinnya saya mencoba menulis pengalamannya sekarang ini.

Usianya yang relatif sudah mendekati usia 30an, ini berarti menjadi persoalan tersendiri terhadap dirinya maupun keluarganya dengan status melajangnya sampai hari ini. Hampir semua teman-temannya di tanah air sudah berkeluarga. Bahkan semua adik kakaknya sudah berkeluarga pula. Dari sinilah ia secara tidak langsung tergugah untuk memikirkan masa depannya, selain itu ia sudah mendapat rongrongan dari orang tua dan saudara-saudaranya untuk menentukan pasangan hidupnya.

Keadaan seperti itulah yang menjadikannya bingung harus bagaimana? Bahkan ia sudah menganggap pulang ke tanah air adalah sama halnya ia masuk kandang singa, yaitu dimana tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menuruti pihak-pihak keluarga untuk mengakhiri masa lajangnya.

Wawan juga menyadarinya bahwasanya ia tidak bisa hidup dalam kebebasan tanpa batas seperti halnya anak-anak muda lainnya. Usia yang terus berjalan serta tidak mau kompromi dengan keinginan memaksanya berpikir realistis. Apalagi dari sisi kebutuhan dan keinginannya sendiri sudah mantab untuk melakukannya.

Akan tetapi masalah tidak berhenti disana, melainkan ia berujar juga harus memikirkan kelanjutan setelah menikah. Bagaimana ia harus mencukupi kebutuhan hidup sandang, pangan dan papan keseharian keluarganya. Untuk itu semua haruslah ada persiapan, tidak bisa dilakukan secara serta merta. Belum lagi kalau nanti sudah mempunyai anak, tentunya beban hidup bertambah pula.

Pemikirannya yang kira-kira sama terjadi pada orang-orang yang akan menuju perkawinan. Memang menuju usia kedewasaan adalah proses yang kadang relatif berbeda orang satu dengan yang lain. Dan Wawan sekarang melaluinya dengan berbagai pertimbangan, dengan alasan ia tidak mau nanti masa depannya serta anak istrinya terlantar tak karuan.

Saya kembali teringat Dani (bukan nama sebenarnya pula), seorang teman lainnya yang sekarang lagi menimba ilmu di Harvard University, Massachusetts, yang pernah bercerita tentang masa mudanya ketika akan menikahi istrinya kini. Ia tidak mempunyai modal apapun dalam arti materi maupun pekerjaan yang mapan, karena ia meminang istrinya kini sewaktu ia belum lulus kuliahnya. Baginya persiapan kelangsungan hidup keluarganya itu bisa dilakukan setelah menikah. Pemikiran masa depan adalah kompromi bersama yaitu dirinya dan istrinya nanti. Bukannya ia memikirkan duluan dan secara tidak langsung tidak mengikutsertakan peranan istrinya nanti. Dulu pada waktu meminang pun ia hanya bermodal nekat dan keseriusan untuk menikah kepada keluarga si perempuan. Usaha meyakinkan orang tua adalah intinya, setelah itu jika disetujui maka ia menjalankan rencana selanjutnya. Jika tidak, ia pun tidak kehilangan apa-apa, minimal mendapatkan hikmah.

Dua cerita antara Wawan dan Dani kelihatannya cerita yang sama-sama sinkron satu sama lain, dengan kata lain Wawan bisa mengambil pelajaran dari pengalaman Dani sewaktu memutuskan untuk menikah. Pemikiran yang terlalu panjang dan rinci akan keputusan menikah atau tidak biasanya akan membuat bingung kita sendiri. Pada akhirnya, keragu-raguanlah yang tampak dalam keputusan itu.

Hal ini pun sudah mulai terlihat pada diri Wawan, yang semakin lama semakin intens menimbang-nimbang dampak keputusannya. Lebih jauh lagi, ia sudah memandang kalaupun pulang ke tanah air sama halnya masuk kandang singa.

Satu lagi pelajaran dari Dani, yaitu istri kita adalah manusia yang bisa berpikir dan berkembang. Ia bukanlah benda mati serta menuntut pengaturan sepenuh hidupnya dari kita. Dengan begitulah, secara tidak langsung masa depan keluarga akan terbentuk dengan sendirinya. Bahkan bisa juga semua perhitungan dan rencana kita sendiri mentah ketika berhadapan dengan keadaan dan kemampuan kita setelah berkeluarga. Dus, disana kita tidak bisa memaksakan diri sekali lagi seperti dulu dengan berbagai pertimbangan.

Sampai pada akhirnya, setelah pertemuan terakhir dengan Wawan, saya dibuatnya bangga dengan pertimbangan dan keputusannya untuk mengakhiri hidup diluar negeri. Ia memutuskan untuk memberikan kelonggaran waktunya dalam mempersiapkan diri, sambil menunggu selesainya pekerjaan dan sekolah yang ia tempuh sekarang ini dengan waktu yang pasti. Ia tidak memandang kehidupan masa depannya dengan kebimbangan-kebimbangan, melainkan diganti dengan rencana-rencana yang realistis dan pasti. Ia sadar bahwa setiap keputusan selalu mengandung resiko, tinggal kita bisa tidaknya mengolahnya. Demikian juga dalam kesempatan atau tidak adalah tergantung kita untuk melakukan aksi terhadapnya. Bukannya menunggu lagi kesempatan dan hanya menilainya saja, tidak diambil langkah apapun.

Semoga sukses Wawan, semoga ia dapat meraih apa yang di inginkan.

Semoga bermanfaat.

Pleasantville, NY

February 16, 2009

1 Comment


Leave a Reply