February 17, 2009...6:53 am

Radio dan Peluang Bisnisnya

Jump to Comments


Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis tentang perkembangan radio di Indonesia khususnya pada tingkatan daerah. Akan tetapi karena beberapa kesibukan dan setelah berkesempatan komunikasi dengan seorang teman yang kebetulan seorang professional radio daerah , maka saya sengaja membelokkan topik awal dengan topic yang anda baca sekarang ini.

Dany, seorang teman sekolah dulu sewaktu di Indoensia sekarang ia menjadi seorang professional di salah satu grup pebisnis radio lokal mengungkapkan bahwa crowded komunikasi di tanah air karena kurangnya kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai regulator yang berkenaan dengan pengaturan dan pengawasan kebebasan masyarakat. Khususnya radio, ia mengungkapkan bahwasanya perkembangannya sangat pesat melebihi kuantitas media massa yang lain. Tidak aneh karena untuk membuat pemancar radio, orang tidak perlu memerlukan modal yang besar sehingga fenomena jor-joran antar teman maupun tetangga pun seakan tidak dilarang. Sebuah fenomena yang memprihatinkan, ketika pemerintah pusat maupun daerah tidak berbuat banyak akan hal itu, sedangkan kebebasan beraspirasi di terjemahkan oleh masyarakat dengan kebebasan melakukan segalanya tanpa memperdulikan hukum yang sudah ada maupun perhargaan terhadap yang lain.

Disinilah saya melihat penyakit sosial tahap kronis masih ada dalam proses demokratisasi bangsa. Civil yang merupakan subyek dan objek dalam sosial melakukan penyempurnaan terhadap demoralisasi bangsa selain di birokrasi pemerintahan. Akan tetapi, saya sadar perubahan-perubahan tidak bisa dilakukan secara serta merta melainkan melalui proses yang panjang dan tidak akan pernah berhenti. Perbaikan-perbaikan dalam struktur sosial, birokrasi maupun regulasi sampai saat ini contohnya, adalah buat hasil kerja kita sebagai bangsa dalam memperbaiki diri.

Kembali kepada ulasan Dany diatas. Memang banyak stasiun radio-radio lokal yang gelap alias tidak berijin dan umumnya dilakukan tidak untuk motif bisnis. Hal tersebut menurutnya masih susah untuk mengaturnya dan itu diakui oleh pemerintah daerah sendiri. Kemudian, bagaimana dengan perkembangannya nanti? Bukankah akan lebih baik di buat aturan-aturan sehingga dapat dijadikan landasan hukum maupun pijakan dalam berkompetisi, ketika kita mulai berpikiran bisnis?

Teman yang satu ini mengungkapkan solusinya. Dalam keadaan yang masih semrawut sekarang ini, ketika berbicara bisnis radio adalah peluang yang masih besar karena pada dasarnya kue bisnis radio masih di monopoli oleh beberapa grup saja. Proporsi jumlah radio gelap dan tidak gelap memang tidak sebanding. Akan tetapi ceruk konsumen radio masih besar dan belum tergarap secara serius. Istilah pemasarannya, kurangnya segmentasi dan penetrasi dalam pengelolaan radio. Banyak radio-radio lokal yang berijin tidak jelas konsumennya akan dibawa kemana. Ditambah dengan profesionalisme yang kurang sehingga hasilnya mutu siarannya yang tidak mengena pula.

Disinilah menurut saya kesempatan itu ada. Entah sadar ataupun tidak, Dany telah mengungkapkan sebuah peluang beserta solusinya. Peluang itu adalah untuk memulai bisnis radio, sedangkan solusinya adalah dengan menerapkan profesionalisme dalam kinerjanya. Ini berarti memakai konsep-konsep pemasaran yang berupa segmentasi, penetrasi dan branding kepada konsumen yang tercakup dalam profesionalisme di per-radio-an adalah sangat penting untuk menggaet konsumen pemirsa.

Saya yakin, konsumen sekarang tidaklah benda mati melainkan subjek yang dapat membedakan dan memberi judgement akan kebutuhannya. Mereka tahu mana mutu radio yang bagus dan memberikan kepuasan serta sebaliknya.

Mengenai kompetisi frekwensi, meskipun masih menjadi persoalan dan itu bukanlah hal yang penting, buktinya persaingan selama ini aman-aman saja meski itu tidak baik. Solusinya, sambil menunggu kebijakan-kebijakan yang akan turun, sepanjang kita memiliki frekwensi yang jelas, para pemirsa akan memberikan apresiasi terhadap gelombang radio anda. Sedangkan frekwensi-frekwensi radio gurem janganlah khawatir, karena mereka tidak akan bertahan lama sesuai dengan motif mereka.

Mengenai kompetisi konsumen, seperti yang saya ungkap diatas ditambah kebutuhan masyarakat kedepan, seperti pemilu, hiburan, media komunikasi dan aktualisasi, pendidikan dan lain sebagainya dapat dipastikan akan menambah kesempatan itu untuk memulai bisnis.

Bagaimana dengan anda?

Penulis adalah seorang penikmat radio

Pleasantville, NY

February 16, 2009

3 Comments


Leave a Reply