Begitulah judul film tersebut yang penulis sempat tonton sewaktu liburan natal tahun lalu di Jacob burn cinema (gedung bioskop film-film indie), Pleasantville, New York yang kebetulan terletak didekat rumah apartemen. Sekedar Informasi, gedung bioskop ini sangat efektif beroperasinya yaitu tidak setiap hari buka, melainkan khusus weekend di hari-hari biasa dan hari-hari menjelang liburan saja.
Keputusan menonton film tersebut sebenarnya tidak sengaja, waktu itu jadwal liburan memang tidak jelas dan secara tiba-tiba keinginan mencoba movie theater terdekat. Pada waktu itu pilihan penulis 2 film yaitu slumdog millionare (SM) atau the readers yang ternyata sama-sama menyabet berbagai penghargaan diberbagai festival film akhir-akhir ini. Karena keterbatasan waktu, akhirnya memilih menonton SM dikarenakan ketertarikan akan synopsisnya dan perasaan penasaran ketika melihat film-film India satu-persatu memasuki pasar amerika. Hal ini secara umum film-film India sedikit demi sedikit menarik hati konsumen internasional. Pertanda yang positif dalam pengembangan dan pemasaran film kedepan seperti produksi film-film Hollywood yang sudah mendapatkan tempat tersendiri dimata pemirsa dan sistem pemasaran yang bagus sehingga hampir dipastikan film-film tersebut kebanyakan dapat menjadi sumber keuntungan tersendiri.
Kembali ke film SM. Memang menarik skenario film tersebut yag mengisahkan Jamal malik yang memenangkan kuis who wants to be millionare? versi indianya “Kaun Banega Crorepati yang secara kebetulan adalah titik puncak merupakan perjalanan-perjalanan hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan presenter kuis tidak lain adalah hikmah-hikmah hidup yang telah lalui selama ini sehingga ia dapat menjawabnya dengan baik meski juga kadang tidak.
Bermula dari kehidupan masa kecil Jamal dan kakaknya, Salim di kawasan kumuh Mumbai yang sebagian besar dihuni penduduk muslim disana. Kemudian setelah ibunya meninggal setelah terjadi bentrok penduduk lokal antara umat Hindu dan Islam, mereka tidak mempunyai apa-apa lagi kecuali hidup sebatang kara dalam pengembaraan. Dan seterusnya bertemu dengan Latika, seorang gadis yang juga korban kerusuhan, menyatakan diri mereka sebagai three musketeer. Si salim sebagai Athos, Jamal sebagai Porthos dan latika tidak disebutkan namanya karena belum membaca buku cerita three musketeer terlalu jauh sehingga mereka tidak tahu nama tokoh ketiganya. Begitulah awal-awal bagaimana cerita SM dibawa dan seterusnya alur membawa bagaimana si Jamal dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuis.
Begitulah film SM garapan sutradara Danny Boyle dan Loveleen Tandan penulis tonton dan mendapat sambutan hangat dari para pemirsa amerika. Sebagai catatan lain SM berhasil meraup pendapatan yang lebih dari separuh total biaya produksi film yaitu US $ 15 juta. Lebih lanjut tentang informasi film tersebut bisa situs bebas wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Slumdog_Millionaire dan untuk awards yang di menanginya http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Slumdog_Millionaire_awards.
Secara umum dalam pengamatan pribadi penulis film-film asia sudah mulai mengisi kehadirannya di belantika perfilman Hollywood dan insan perfilman internasional. Semoga hal ini dapat menginspirasi perfilman nasional Indonesia yang sedang bangkit dan dapat berkembang lebih luas dan positif. Tidak melulu menjajakan egosentrisme kota, mistik yang irrasional dan cinta yang berujung pada gairah nafsu.
Masih banyak modal-modal yang dapat dipakai dan digali dalam pembuatan film sebagai indentitas industri perfilman seperti yang terdapat dalam akar-akar budaya masyarakat nasional maupun local setempat, fenomena masyarakat kontemporer, sejarah anak bangsa, berbagai inspiratif dari terbukanya era reformasi kini dan lain sebagainya. Sebagai bahan pertimbangan, film-film India yang umumnya berdurasi lama dan identik dengan tontonan yang membosankan, film yang dibumbui musikal yang terus menerus eksis, filosofi-filosofi kehinduan dan pengayaan nilai-nilai masyarakat hindustan adalah salah satu contoh branded bollywood yang terbukti mampu memodifikasi dalam dunia modern yang sarat dengan efek-efek globalisasi dan akhirnya mendapat perhatian tersendiri dikalangan pemirsa film. Begitu juga dengan kasus film-film eropa, amerika latin dan cina yang mempunyai cirri khas yang berbeda dengan produksi film-film Hollywood. Selamat berkembang dan maju insan film nasional!
January, 13. 2009
Pleasantville, NY
3 Comments
January 14, 2009 at 8:37 am
Pada beberapa bagian film ini mengingatkan pada Daun Di Atas Bantal lho. Kalo pengen berbicara di festival internasional, harusnya sineas Indonesai lebih banyak mengangkat persoalan di masyarakat yang universal dengan bumbu lokal. Tentu pemukiman kumuh di Mumbai beda banget dengan pemukiman kumuh di pinggiran kali di jakarta misalnya. Saya yakin disitu banyak tersimpan cerita menarik yang siap diangkat.
January 16, 2009 at 12:46 pm
Belum ada bukti, bagus ndak nya.
Ada punya filmnya?
Share dong….
February 14, 2009 at 10:36 pm
kmrn teman2 ktr saya membicarakan film ini, ktnya beda dr film2 india biasanya.. jd penasaran saya..
thanks infonya Pak..
*nyari download-an dl ah
salam kenal yaaaa