Berikut ini saya akan sedikit banyak mereview beberapa pengalaman tentang pluralisme dan implementasinya. Tentunya dalam kontek keseharian dan disekitar lingkungan penulis.
Hari-hari menjelang liburan panjang hari hatal dan tahun baru memanglah menyita banyak waktu saya untuk diluar rumah. Hal ini sangatlah berbeda dengan kebanyakan warga amerika yang lebih banyak meluangkan waktunya untuk liburan serta berkumpul bersama keluarga.
Mungkin juga sangat berbeda juga dengan teman-teman atau orang-orang yang hidup di Indonesia. Dengan adanya event-event tersebut, hari liburan semakin panjang untuk di nikmati bersama keluarga. Tidak lain karena penggabungan hari libur yang panjang.
Kalau tidak salah ada sebuah kebijakan baru dari pemerintah yaitu untuk menyiasati kualitas dan efektivitas kerja nasional. Untuk itu kebijakan tersebut menyatakan bahwa perlunya penggabungan hari libur nasional dengan hari libur biasa. Implikasinya menghilangnya hari “kecepit” nasional dimana hari itu sudah menjadi kebiasaan hari mangkir kerja nasional sehingga kinerja peegawai tidaklah maksimal. Selain itu dengan hari efektif kerja yag beruntun dan tidak ada jeda maka kinerja dan konsentrasi kerja semakin besar. Begitulah kira-kira perhitungannya, tapi entah kenyataannya?
Kembali kepada cerita diatas. Pada tahun-tahun ini kebetulan beberapa hari raya islam juga dirayakan yaitu hari raya idul Adha dan 1 Muharram. Untuk keperluan tersebut, saya meminta ijin kepada Ms. Courtney, guru pengajar, untuk tidak menghadiri kelas seperti biasanya di pagi hari. Tanpa harus ada surat penggantar ataupun keterangan lainnya dengan informal mungkin lebih baik dan lebih jujur. Maklum ijin untuk merayakan hari besar agama mungkin tidak terlalu lazim disini kecuali terutama hari-hari besar agama Kristen. Hal ini bisa jadi persoalan jika mereka yang notabene American People tidak tahu-menahu tentang hari besar agama lain khususnya Islam jika meminta ijin meninggalkan kelas. Oleh sebab itu kiranya dengan ijin informal mungkin sedikit banyak bisa memberi penjelasan dan pengertian terhadapnya secara langsung.
Dan ternyata diluar dugaan, Ms. Courtney tahu bahwa keesokan harinya adalah hari raya Idul Adha dan meski juga tidak tahu hari besar apa dan bagaimana itu? Akhirnya saya menjelaskan dengan singkat perihal hari-hari besar agama Islam. Dia begitu terbuka dan keingin-tahuannya yang tinggi akan hal yang berbeda dengan lingkungannya.
Diakhir pembicaraan, ia menutup percakapan dengan berkata, “ OK, Agung Happy Id’l Adha, Hopefully you have a lot fun and don’t forget be happy with that”, setengah bercanda.
Begitulah salah satu gambaran pluralisme yang terjadi di akhir-akhir ini. Selain itu masih banyak lagi hal-hal yang mungkin kadang memaksa kita untuk berperilaku pluralistik terhadap yang lain.
Hal-hal terjadi biasanya setiap menjelang hari libur agama. Sudah menjadi kebiasaan disini untuk mengucapkan Selamat hari raya (sesuai dengan perayaan waktu itu) kepada semua orang. Tidak membeda-bedakan orang satu dengan yang lain. Sesuatu hal lucu dan mengharukan yaitu ketika saya menerima banyak ucapan Selamat natal dari teman-teman, meski sebagian dari mereka tahu bahwa saya seorang muslim dan tidak memperingatinya. Anehnya, mereka bertanya lebih lanjut apakah saya tidak merayakannya? Menurutnya natal adalah milik semua orang. Tidak peduli agama apapun yang and yakini, semangat natal haruslah bahagia. Untuk itu saya diundang makan malam bersama teman-teman dan dia berjannji tidak ada ritual keagamaan kekristenan didalamnya.
Hal tersebut diatas sangatlah sulit kita untuk tidak melebur menjadi satu sebagai bentuk perhormatan dan penghargaan terhadap mereka. Selain setiap orang melakukan hal yang serupa juga banyak teman-teman yang beragama lain juga ikut merayakan natal. Sebaliknya, seringkali mereka menanyakan apa yang saya lakukan ketika hari raya agama, apakah ada peringatan semacam pesta yang mana memungkinkan mereka ikut serta didalamnya atau cuma ritual keagamaan yang terbatas. Biasanya saya jawab seadanya saja supaya mereka mengerti bagaimana untuk memposisikan diri.
xx
Mungkin saya harus jelaskan mengapa saya bercerita seperti diatas. Keinginan pribadi saya untuk eksplorasi nilai-nilai pluralisme dalam kehidupan sehari-hari semakin tak terbendung. Ketika melihat fenomena-femonena dalam masyarakat yang semakin jauh dari hal tersebut dan lebih memperlihatkan gejala-gejala eksclusifitas terutama dalam kehidupan beragama. Selain itu perilaku yang kontra produktif dalam menyikapi perbedaan semakin ditunjukkan secara terang-terangan. Sering kali dalam media kita menyaksikan sentiment-sentimen negative diungkap dalam bentuk sikap serta perbuatan yang pada akhirnya merugikan orang lain. Lebih jauh sikap-sikap tidak toleeran ini memaksa kita untuk ikut bertindak secara emosional juga dalam menyikapinya. Akan tetapi di pihak lain, nilai-nilai pluralisme tetaplah dijaga oleh sebagian orang. Dan pada mereka-mereka yang saya sebut terakhir inilah merupakan teladan-teladan bagi kita semua. Pada giliranya mungkin kita dapat menjadikan sikap mereka untuk bahan renungan dan reorientasi sikap keberagamaan dan bersikap positif objektif dalam perbedaan dengan kita.
Dalam kelas, ada sebuah mata pelajaran cultural studies yang mempelajari tentang keberagamaan budaya-budaya di lingkungan sekitar kita. Subject tersebut mengeksplorasi perbedaan-perbedaan budaya (agama termasuk didalamnya) yang ada di sekitar. Tujuan akhirnya adalah kita bisa mengerti dan menghormati keaneragaman budaya yang berkembang. Lebih lanjut dalam kasus partikular scope materi sampai pada pengenalan dan pemahaman budaya dari teman-teman kelas yang kebetulan dari berbagai macam budaya bangsa, sebut saja China, Taiwan, Korea, Italia, Turki, Cuba, Brazil dan terakhir Indonesia
Dengan pengajaran yang santai penuh canda tanpa meninggalkan esensi materi satu per satu anggota kelas menerangkan social budaya beserta turunannya masing-masing seperti nilai dan norma, bahasa, agama, makanan dan lain-lain. Hal-hal yang tidak baik dan dilarang (tabu) juga masuk dalam kategori penjelasan per item.
Dari penjelasan-penjelasan mereka yang dibawakan secara terbuka dan jujur, memang kadang kita merasakan hal yang aneh dan mungkin geli mendengarnya. Akan tetapi disana kita dituntut untuk menghormatinya dengan baik. Nuansa keakraban seperti ini memang jarang ditemui dimana teman-teman mencoba “Confessed” terhadap apa yang mereka inginkan maupun sebaliknya, sehingga kita dalam komunikasi dalam kelas menghargai dan menghormati satu sama lain. Tidak kalah penting juga penjelasan Ms Courtney yang American Scottish tentang latar belakang budaya amerika sehari-hari yang pada dasarnya plural dan mempunyai semangat pluralisme yang tinggi.
Diakui akibat kepentingan politik dan semakin menguatnya konservatisme di berbagai level masyarakat akhir-akhir ini sebagai bagian dari politik pencarian identitas diri yang tidak lain muncul secara simultan dengan ekses-ekses dari globalisasi.
Hal-hal lain yang dijumpai dalam pelajaran diatas adalah pengkondisian keberagaman-keberagaman dalam cara pandang kekayaan budaya manusia dan menjadi pelengkap satu sama lain sehingga menutupi kelemahan-kelemahan yang ada. Dengan kata lain, tidak ada perabadan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah peradaban yang saling mengisi satu sama lain serta terpolarisasi dalam peradaban-peradabann yang kuat dan damai.
xx
Dalam kontek keindonesian, pluralisme yang konon menjadi pondasi kebangsaan semakin jauh dari kenyataan. Sikap penghormatan dan penghargaan masyarakat semakin tipis terhadap perbedaan yang ada dalam masyarakat. Apalagi dirangsek dengan kepentingan-kepentingan hipokrit sebagian pihak serta penyerapan nilai-nilai yang ahistoris dengan budaya bangsa Indonesia tanpa melalui filterisasi yang objektif. Alhasil, beberapa kolompok masyarakat sudah sedemikian berani menampilkan perilaku-perilaku yang tidak bersahabat dengan kelompok masyarakat lain.
Entah ini adalah proses pendewasaan lebih lanjut dari masa kebebasan era reformasi yang memungkinkan semua elemen, ideiologi bahkan kepentingan segala politik bisa masuk dan mencari eksistensi sendiri-sendiri. Dan atau pula ini adalah bukti kerapuhan dan kesadaran yang kurang dalam tataran kebangsaan dan kenegaraan dalam diri bangsa Indonesia sendiri. Yang jelas untuk mengantisipasi efek-efek negatif masyarakat lebih lanjut haruslah kita melakukan pemberdayaan pada masyarakat ulang (reengineering society) pada pola-pola bhineka tunggal ika. Disisi lain kekompakan antara rakyat dan pemerintah dalam hal kesatuan pembangunan negara bangsa, dimana rakyat memberikan legitimasi kepada pemerintah dan sebaliknya pemerintah bersikap objektif dalam menilai permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Pemerintah besikap profesional dan mengedepan kepentingan public serta tidak menjadi patron-patron kepentingan politik tertentu atau malah bermain-main didalamnya.
Saya yakin memang perubahan tidaklah dapat dilakukan secara serta merta karena harus menyiapkan tatanan yang kuat untuk menuju kesana. Untuk itu kita dituntut kesadaran kita dalam mengedepankan kepentingan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi dalam usaha pembangunan ini. Bukankah pluralisme adalah lebih indah daripada kita bersikap intoleran dan memaksakan diri-sendiri, Bagaimana pendapat anda?
January 8th, 2009. Pleasantville, NY