Pagi itu sangat dingin sekali sampai menyengat kedalam pori-pori kulit. Beruntung sekali ketika itu saya memakai blazer dengan paduan sweater, hem dan beberapa kaos. Dengan begitu meski tidak memakai jaket tebal, hawa dingin sudah tidak bisa menyerang lagi keseluruh tubuh.
Bersama pak ahmad, setelah menunaikan shalat berjamaah hari raya idul adha segera meluncur ke apartemennya di kawasan Queens, NYC. Kira-kira dengan berjalan hingga 8 blok dari masjid Al Hikmah, sampailah saya dan Pak Ahmad di apartemennya untuk open house kecil-kecilan.
Menurut pak Ahmad, dulu biasanya setiap tahun menyelenggarakan acara open house dan dihadiri banyak orang. Tetapi sekarang banyak orang-orang Indonesia yang notabene bekerja dan domisili didaerah tersebut banyak yang sudah pulang kampung, sehingga jumlah warga Indonesia semakin sedikit setiap tahun. Dan suatu waktu berkata, kemungkinan hari itu adalah open house terakhir di apartemennya. Pak ahmad juga sudah capek tinggal di amerika untuk bekerja dan bertahun-tahun pisah dengan sanak keluarganya di Indonesia.
Demikianlah kira-kira keadaan banyak warga Indonesia yang datang merantau ke negeri paman Sam untuk bekerja mengais dollar yang tidak kunjung habis. Akhirnya tiada pilihan lain, pulang ke kampung halaman adalah jalan yang terbaik setelah mendapat modal cukup yang didapat selama bekerja, daripada menghabiskan waktu untuk bekerja dan tidak ada kepastian di masa depan.
Hidup disini (dan mungkin dimana saja) biasanya kita dihadapkan dengan kendala keuangan, dan itu berarti harus bekerja apa saja asal bisa survive dan mungkin menabung. Apalagi khususnya para warga Indonesia yang memang datang ke amerika dengan latar belakang kesulitan ekonomi, maka mau tidak mau harus bekerja ekstra keras.
Meski kebijakan-kebijakan federal pemerintah yang semakin ketat ternyata tidak menyurutkan tekad para imigran untuk mengadu nasib di negeri paman Sam ini.
xx
Singkat cerita, saat itu satu persatu teman-teman yang berdomisili sekitar New York datang mampir kerumah pak Ahmad.
Sambil menyantap nasi rawon, lumpia dan beberapa buah, mereka menikmatinya sambil bercerita berbagai hal dalam pekerjaannya. Ada yang mengeluh, kecewa sampai gembira dalam meluapkan unek-unek mereka yang luapkan dalam setiap obrolan-obrolan.
Obrolan-obrolan biasanya memang terjadi mengalir begitu saja. Selain yang berkenaan dengan pekerjaan dan masalah keimigrasian, tak luput juga membahas perkembangan-perkembangan yang terjadi di tanah air. Tentunya dengan orang kampung dan tidak mendasarkan pada teori-teori seperti layaknya diskusi ilmiah di kampus.
Pak Usman, begitu kita memanggilnya adalah kakak pak Ahmad memulai obrolan warung kopi kita waktu itu. Selanjutnya peserta obrolan lainnya saya sebut bersamaan dengan obrolan berikut.
“Krisis ekonomi sekarang ini memang berat, orang-orang amerika sudah banyak yang tidak punya uang”gumamnya, “buktinya restoran tempatku bekerja sepi banget ndak kayak dulu. Dulu orang pada datang kalau lunch dan dinner-pun langganan sering kali datang, tetapi sekarang mereka datang cuma 1 kali dalam sebulan. Bagaimana dengan pekerjaanmu, Bie?” Tanya pak Usman ke Abie, orang jawa yang kebetulan bekerja sama dengan pak Usman.
“Sama Pak, sepi sekarang, Cuma kalau weekend masih mendinglah dari pada teman-teman, malah ada yang tutup kerjaannya, juragannya bangkrut” sahut Abie sambil geleng-geleng seakan meresapi kehidupan krisis ini.
Tak lama diseberang sambil menyantap rawon, jambrik menyahut, “ krisis sekarang ini betul-betul susah, banyak orang-orang sini nganggur. Kebetulan banyak temanku orang sini banyak yang kena PHK. “Wah kalau gini gimana dengan kita nanti ya?”.
“ Kita ya harus bersyukurlah masih bisa bekerja, ndak kayak mereka yang orang sini dan tidak bekerja. Rejeki ada yang ngatur Brik, kita bisa berusaha dan berdoa saja” jawab Pak Ahmad. “ Kalaupun krisis masih terus dan makin parah, saya pikir yang penting kita hanya bisa bekerja, gajian dan kirim uang ke indo cukuplah, capek disini lama-lama. Kita kesini hanya untuk bekerja, bukan untuk foya-foya. Setelah dapat modal, baliklah ke indo, apalagi pemuda kayak kamu masih banyak yang harus dikerjakan” tambahnya“.
Jabrik mengangguk dan berkata, “Iya pak, aku juga begitu habis ini pulang saja, seenak- enak di rantau masih enak di indo, menikah dan hidup seadanya saja. Mungkin tani lagi pak, soale bisnis susah di indo dan banyak saingan”.
Nugraha, pemuda dari Jakarta yang sudah lama tinggal disini menyahut, “Iya, gue denger juga gitu. Teman-temanku bilang bisnis susah dan kalaupun ada banyak saingan. Itupun susah untuk bersaing dengan pemain lama. Hidup juga susah di Jakarta, pemerintah juga kurang peka terhadap wong cilik. PHK makin banyak, penggusuran kakilima, operasi penduduk. Bukannya memberikan perhatian dan perlindungan, eh malah ditekan. Susah jadi wong cilik disana.”
“Ada pemilu lagi, banyak pejabat yang sibuk ngurusin partainya sendiri dan cari dukungan maunya. Lupa dengan kewajibannya menjadi wakil rakyat. Politisi sana dari dulu sama saja. Reformasi atau tidak sama saja?” tambahnya.
Pak Ahmad segera menimpalinya,” Yah, akhirnya dimana-mana sama orang kayak kita kemana-mana di himpit. Di amerika kena krisis, makin susah cari kerja, di Indonesia apalagi. Dari dulu perubahannya sangat sedikit?, Yang enak ya hidup sewajarnya saja. Waktunya kerja ya kerja, gajian ya gajian. Pusing ngurusin mereka, apalagi nuntut janji politisi kita. Mereka lebih banyak ngomong thok, tanpa melakukan apa-apa.”
Tak lama berselang, Pak Usman mencoba mengalihkan topic pembicaraan (mungkin pusing dan bikin jengkel juga dia ngurusin politik), “ Pak Wahab, dari tadi kok diam saja? Ngantuk apa mikir pekerjaan? Santai pak, hari ini hari libur, nikmatilah! Oh ya gimana katanya mau menikahkan anaknya di Surabaya, Pak?”
Pak Wahab, lelaki paruh baya yang berasal dari jawa timur yang mempunyai pekerjaan sebagai cleaning service temporer di Manhattan, setengah tergugah dan menjawab, “ Oo itu Pak, sudah menikah dua minggu lalu. Wah pusing, apa-apa mahal disana. Bahan makanan, dekorasi, sewa tempat, .. Waduh ternyata diluar perkiraan banyak. Tabungan di Ibune arek-arek ludes untuk anak perempuannya. Jadi sekarang yang disini ngumpulkan uang lagi dari nol. Tapi alhamdulillah ini pernikahan anak perempuan saya yang terakhir”.
xx
Takl terasa jam sudah menunjukkan angka 1.53 siang. Obrolan warung kopi hari itu mengalir kesana kemari tanpa ada agenda yang jelas. Sambil melepas kangen memang biasanya sebagian warga berkumpul makan-makan dan menghabiskan waktu untuk ngobrol di hari liburan. Begitulah kiranya sepintas obrolan orang-orang biasa yang mungkin lebih banyak mengunggapkan kekecewaan akan krisis ini dan dalam menyikapi keadaan sekitarnya. Mereka memang tidak peduli apa alasan para pejabat yang beraneka ragam. Dalam benak mereka memanglah sederhana; bagaimana mereka dapat bekerja? Bagimana mereka nyaman dalam bekerja? Tercukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya, tidak mendapatkan bayangan-bayangan yang mengkhawatirkan dalam kehidupannya dan sebagainya sebagaimana keinginan masyarakat pada umumnya.
Orang-orang warung kopi biasanya mengomentari fenomena publik dengan kacamata yang tidak berbelit, lugas dan realistis. Meskipun tidak memakai kerangka berpikir yang scientific, mereka memakai logika masyarakat sebagai sandaran berargumentasi. Hal tersebut kadang menjadikan pandangan-pandangan yang keluar lebih realistis daripada para analis ataupun pengamat sosial.
Tidak ada waktu mereka untuk membuka buku dulu sebelum mencoba mencerna isu-isu yang ada seperti para mahasiswa ataupun para professor di kampus. Mereka lebih tertarik membaca dari kacamata objektivitas dan mengkoparasikan realitas dengan masa lalu sebagai bahan acuan berkomentar. Hasilnya obrolan-obrolan yang keluar juga tidak lepas dari kebutuhan dan kejadian yang ada disekitar kita serta memancing beragam komentar yang tergantung dari pengalaman pribadi mereka masing-masing.
Ungkapan kepuasan, kegembiraan maupun kekecewaan seringkali diluapkan dalam obrolan-obrolan wong cilik di warung kopi dan bukannya mengumbar atau bermain isu di media sebagaimana layaknya public figures sekarang ini.
Mereka tidak mengejar kepentingan tertentu, ataupun bermain sesuatu dibalik kesemuanya. Dasar hati mereka tulus dan terbuka. Mereka menerima anda, para politisi, pejabat, pendeknya kita semua. Entah itu sebagai tempat bertukar pikiran, bercanda, keluh kesah ataupun mungkin lebih jauh lagi sebagai korban kebijakan publik.
Sekarang tinggal kita bagaimana memandang mereka? Jawabannya tergantung kita sendiri memandang mereka dalam bingkai nurani (common people) atau memakai segala atribut kita yang susah melepas dari kepentingan dan kemauan? Atau mungkin tak acuh dengan mereka dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, sehingga kita tidak bersentuhan dengan mereka, tidak tahu-menahu mereka dengan kita, karir dan kekayaan kita semakin menjulang tinggi?
Yang jelas kita sebagai masyarakat tidak lepas satu sama lain. Ketergantungan dengan yang lain adalah hal yang mutlak dan dalam bentuk apapun. Kontribusi orang lain dalam diri kita secara langsung maupun tidak langsung haruslah kita sadari bersama. Diluar itu, keberagaman adalah keniscayaan yang menjadi realitas sosial. Kembali lagi, tinggal kita memahami dan memandang mereka?
Pleasantville, December 2008
2 Comments
December 29, 2008 at 2:59 pm
Kalau pulang ke Indonesia, kayaknya bisnis obat, deh..
Banyak orang stress disini :-s
December 30, 2008 at 7:44 am
Hahaha… Sampeyan bisa aja.