Beberapa waktu lalu kaum muslim didunia merayakan hari raya Idul Adha, dengan menyelenggarakan shalat hari raya secara berjamaah dan ritual kurban hewan untuk dibagikan kepada fakir miskin sebagai replikasi manifestasi kepercayaan nabi Ibrahim as, terhadap Allah SWT untuk melakukan penyembelihan terhadap anaknya, nabi Ismail as.
Untuk masyarakat muslim Indonesia di amerika khususnya New York yang nota bene mempunyai masjid sendiri yaitu masjid al Hikmah yang terletak di kawasan Queens, juga menyelenggarakan sholat bersama minus ritual kurban. Memang untuk ritual kurban disini saya akui sedikit ribet, karena harus melalui presedur administrasi yang harus dilengkapi, apalagi ritual kurban sendiri adalah kegiatan musiman dan pula bukan untuk tujuan bisnis.
Memang sejak saya berdomisili di kawasan Upstate New York, beberapa kali menyempatkan diri pergi ke masjid komunitas Indonesia tersebut. Kemarin, setelah mendapatkan ijin dari pengajar di kelas yang saya ikuti pada hari itu, pagi harinya langsung bergegas menuju masjid Al-Hikmah.
Pagi hari di musim dingin seperti ini, peserta shalat kebanyakan para warga negara Indonesia yang tinggal di sekitar New York, disamping itu banyak juga saudara-saudara muslim dari beragam nasionalities yang kebetulan berdomisili sekitar masjid.
Di tengah-tengah mereka sambil mengucapkan takbir bersama menunggu khatib memulai shalat, saya merasakan semangat kebersamaan mereka sangat tinggi diantara satu sama lain. Tidak ada pengkotak-kotakan aliran ataupun semacamnya yang membatasi mereka untuk berkumpul bersama di hari raya tersebut. Situasi yang mungkin agak berlainan jika kita hidup di negara kita sendiri.
Di Indonesia, dalam keberagamaan dan kebersamaan kadang sering kali menjadi permasalahan tersendiri oleh banyak pihak. Apalagi situasi akhir-akhir ini seiring banyaknya kaum muslim dengan proses pencarian jati diri dalam beragama akibat berbagai macam tekanan dan ketidakadilan yang secara bersamaan pula terjadi proses mengerasnya fundamentalisme beragama. Hal ini tidak pelak diantaranya menjadikan militansi sempit dilakukan oleh sebagian umat islam serta pembatasan-pembatasan meski terhadap sesama muslim kerap dilakukan.
Agama menurut pandangan bagi sebagian mereka adalah seolah-olah satu-satunya jalan yang paling benar tanpa melibatkan unsur lain yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Esklusivme menjadi tren dalam kehidupan masyarakat, identifikasi beragama lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat kasat mata seperti kebanggaan penggunaan aksesoris tubuh sebagai lambang ketakwaan, bukannya lebih menekankan pada esensi-esensi moral agama.
Lebih lanjut, bentrok satu ormas dengan yang lain sering menjadi tontonan di media, para imam dengan mudah menyalahkan imam yang lain tanpa ada sikap tawadlu, hasut-menghasut sudah jadi bumbu dakwah keseharian dan komentar-komentar yang jorok serta tidak bertanggung jawab terhadap umat semakin memperkeruh keadaan. Ditambah lagi era reformasi membuka seluas-luasnya akan kebebasan pers, yang menjadikan pemberitaan-pemberitaan yang vulgar dan massif, memungkinkan menyulut emosional umat secara kolektif dan simultan.
Sungguh ironi memang, dinegara yang sebagian besar penduduknya muslim, dari dulu sampai sekarang masih saja tidak ada pennghargaan dan penghormatan satu sama lain. Lebih jauh sempat terpikir, apakah ada yang salah dalam kehidupan beragama selama ini? Ataukah apakah ada yang salah dalam islam? Bukankah islam mengajarkan perdamaian? Mengapa di negara barat yang umumnya umat islam menjadi minoritas, kekerasan meskipun ada adalah sangat rendah intensitasnya. Kalau sudah begitu, mengapa kadang sebagian orang selalu apriori terhadap nilai-nilai barat? Bukankah secara objektif kita teertinggal jauh dalam segala hal dari mereka? Dan bukankah tidak salah kalau kita mempelajarinya atau bahkan menirunya yang tentunya sesuai dengan nilai-nilai islam?
Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa di dunia barat sebenarnya adalah contoh gambaran masyarakat islami. Mereka memiliki budaya yang saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Selain itu banyak hal yang saya temui sendiri budaya-budaya mereka yang sesuai dengan ajaran islam dan lebih jauh saya berpendapat bahwa mereka menjadi kuat dan maju karena salah satu unsur yang menopang adalah karakteristik masyarakat yang seperti itu. Tidak salah jika dalam artikel tersebut menyebut barat lebih islami daripada kita sendiri.
Kemudian bagaimana dengan nasib umat islam sendiri jika kita “enggan” untuk berubah? Bukankah Allah SWT sudah jelas menyatakan bahwa tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berinisiatif merubahnya?
Secara ringkas, memang ide refleskional seperti ini tidaklah seperti menulis analisis yang disertai teori-teori yang berderet ataupun penelitian secara ilmiah, akan tetapi fenomena-fenomena masyarakat secara general adalah sudah cukup relatif objektif yang terangkum dalam kehidupan keseharian untuk dijadikan dasar untuk memikirkan kembali apa yang telah terjadi selama ini serta keadaan kekinian masyarakat. Dus, kita dapat menariknya kedalam rencana-rencana strategis positif keumatan kedepan. Saya rasa dengan begitu kita akan mudah menciptakan strategi dakwah akan menjadi efektif dan keprogresivitasan umat beragama akan nyata dirasakan dalam masyarakat.
Kehidupan beragama kita selama ini lebih cenderung membuka kedalam dan menutup keluar sehingga kita mengalami disharmoni dalam komunikasi dengan umat agama lain.
Dengan kata lain, sikap membeda-bedakan yang mendominasi sikap kita daripada mengedepankan persamaan satu sama lain. Akibatnya lagi-lagi kita mengunci pintu keterbukaan dan membuka pintu kecurigaan, yang biasa debalut dengan segala dalih-dalih agama. Sekali lagi bagaimana kurukunan antar umat beragama akan terwujud jika kita masih saja tetap seperti itu?
Semua agama mempunyai persamaan, terlebih untuk agama samawi yaitu Islam, Kristen dan Yahudi, demikian pula mereka juga tidak luput dari perbedaan-perbedaan. Berangkat dari sini, kita bisa menjadikan persamaan sebagai semangat persatuan dalam bingkai kerukunan dan pembangunan bangsa. Dengan perbedaan kita bisa memulai untuk menghormati dan menghargai dengan yang lain yang berujung pada pemahaman dan terjadinya keharmonian dalam masyarakat.
Kembali kepada cerita di atas. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi waktu setempat. Khotib memulai shalat berjamaah kemudian dilanjutkan dengan khutbah dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pagi itu saya melihat banyak diantara jamaah yang membawa anak-anaknya untuk shalat berjamaah. Suatu hal yang bagus untuk penanaman jiwa keagamaan anak-anak, terlebih mereka akan belajar sosialisasi umat berbagai etnis di masjid, serta juga kadang-kadang kegaduhan mereka sering kali mengganggu kekhusyukan kita sewaktu shalat.
Seusai shalat idul adha, para jamaah keluar ke halaman masjid untuk menikmati kopi atau teh panas beserta aneka makanan ringan ala Indonesia sebelum berangsur-angsur meninggalkan masjid. Demikian sekilas pengalaman shalat hari raya Idul Adha kemarin di masjid Al Hikmah yang benar-benar membawa hikmah yaitu banyak bertemu teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa.
Perjalanan kereta Pleasantville-Grand Central
11 December 2008
1 Comment
December 23, 2008 at 3:56 pm
Dalam banyak kasus, kelompok mayoritas selalu merasa ‘lebih’ dan tak segan berkelakuan yang aneh-aneh. Entah apa tujuannya. Apakah sekedar ingin menunjukkan kekuatannya, ataukah hanya ingin mendapatkan pengakuan masyarakat bahwa memang mereka benar-benar ‘kuat’