October 20, 2008...4:27 am

Kejujuran

Jump to Comments

Pernah suatu ketika saya berkesempatan berbincang-bincang dengan seorang teman, sebutlah Sam namanya. Sam adalah seorang perantau yang tadinya adalah seorang intelektual muda yang selalu bergelut dibidang pendidikan dan sampai akhirnya kita bertemu di negeri Paman Sam dalam kondisi yang berbeda.

Sam yang kini sudah bisa dibilang lama diluar negeri dengan tipikal perantau umumnya yaitu motif ekonomi yang menjadi concern dalam hidupnya. Maklum Sam berasal dari keluarga yang kurang beruntung pada awalnya. Ditinggal bapaknya ketika dia menginjak SMA kemudian kakaknya menyambung cita-citanya sampai dia mencicipi bangku kuliah. Meski tidak sampai selesai kuliah di universitas yang diidam-idamkan, berhubung terlilit masalah ekonomi juga sampai akhirnya ia memutuskan keluar dari bangku kuliah dan berangkat ke amerika untuk “menyambung” ekonomi keluarganya.

Kerja keras teman saya ini selama di amerika sedikit demi sedikit membuahkan hasil mengangkat perekonomian keluarganya. Uang yang didapat dari bekerja siang dan malam ditabungnya dalam berbagai bentuk investasi tanah dan keuangan di Indonesia.

Kini keadaan sama sudah berbeda dengan yang dulu selalu dihantui dengan masalah keuangan berganti dengan kebingungan menempatkan uang hasil jerih payahnya.

Saya teringat pada waktu itu, saya dengan dia berbincang-bincang disebuah rumah makan setelah hang out dengan teman-teman lainnya. Sam memulai pembicaraannya dengan keadaannya selama ini hingga keinginnannya untuk berinvestasi di tanah air untuk kesibukannya nanti setelah balik dari perantauan dan sumber keuangannya kelak setelah menikah.

Dia mengakui keadaan ekonomi di Indonesia masih susah dari berbagai segi. Lapangan pekerjaan yang sepi, biaya hidup yang meningkat terus menerus tanpa diimbangi dengan gairah perekonomian yang nyata pula, jumlah pengangguran yang meningkat terus menerus dan sederet masalah perekonomian bangsa lainnya.

Disisi lain dia juga mengakui banyak teman-teman yang sudah menempuh pendidikan tinggi bahkan ada yang sampai berhasil menjabat sebuah instansi pemerintah. Singkatnya, banyak teman-temannya yang berhasil pula tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa diajak bekerjasama dengan dirinya. Sebuah hubungan bisnis investasi tentunya. Kemudian apa korelasi permasalahan Sam dengan kontek kejujuran?

Ternyata kebingungan Sam berpangkal pada kurangnya mengenal teman-temannya dalam arti jujur. Selama ini pertemanannya hanya sebatas teman tidak pernah mereka menjalin hubungan bisnis dengan Sam. Sam mengatakan bahwa banyak teman-temannya yang berhasil dan pintar-pintar secara akademis, akan tetapi dia belum tahu tingkat kejujuran mereka. Dalam bisnis, masih menurutnya, tidak membutuhkan orang yang pintar atau predikat sekolah yang tinggi. Akan tetapi modal dasar kejujuranlah yang menjadi prioritasnya. Baru kemudian syarat-syarat yang lainnya seperti pengalaman, kualifikasi pendidikan, tanggung jawab, integritas dan lain sebagainya.

Menurut Sam, kejujuran adalah track record awal dalam ia memilih kolega untuk berbisnis. Tanpa kejujuran, sederet kualifikasi lainnya tidaklah berguna. Bisnis adalah uang, dan uang biasanya buta akan kualifikasi atau predikat yang disandang seseorang tidak pengaruh dengan kejujuran seseorang dalam mengolah uang. Malah banyak yang sebaliknya, kemampuan atau pengalaman seseorang dalam keuangan menjadikan lebih pintar mengakali uang itu sendiri untuk tujuan pribadi. Berbagai macam kasus korupsi di media memperlihatkan bahwa perilaku negative ini telah menjadi budaya bangsa selama ini. Kurangnya nilai kejujuran baik dalam kehidupan kerja maupun sehari-hari menjadikan sikap (korupsi) tidak bertanggung jawab ini membuat bangsa ini semakin jauh dari bangsa yang maju.

Semoga saja tidak menjadi sedemikian parah. Perubahan-perubahan yang terjadi akhir-akhir ini sangat layak di apresiasi dalam usaha memperbaiki dan membangun bangsa menjadi lebih baik. Pemberantasan korupsi harus kita dukung secara penuh dan tidak mengenal sikap menyerah.

Kembali kepada nilai kejujuran seperti yang dipermasalahkan oleh Sam. Kejujuran memanglah penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan harus tanpa syarat untuk melakukannya. Tentang parameter kejujuran, dalam arti sejauh mana dapat dikatakan jujur, dan apakah jujur itu memiliki tempat yang tepat untuk dilakukan? Mungkin hal-hal ini dapat menambah referensi nilai kejujuran yang dibutuhkan oleh Sam dalam mencari rekan bisnisnya.

Referensi singkat yang saya temukan artikel Albert Hendra Wijaya dalam website www.siutao.com menyebutkan bahwa jujur jika diartikan secara baku adalah “mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran”. Lebih jauh definisi ini tidaklah selalu tepat arti harfiahnya, dalam arti memiliki batasan-batasan dan lebih bersifat kondisional dalam aplikasinya, sepanjang tidak keluar dari tujuan dan makna dasar.

Bagaimana parameter jujur? Apakah kejujuran dapat diartikan ulang (diabaikan) demi kepentingan kebaikan? Kapan orang harus jujur secara harfiah, kapan juga tidak? Mungkin Sam lebih mendalam lagi mengenali pengertian dan batasan-batasan kejujuran itu sendiri, serta tidak memiliki patokan-patokan yang baku dan kaku yang pada akhirnya menyulitkan dirinya sendiridalam memilih rekan bisnis. Tentu hal ini sangatlah mungkin membawa pengertian kejujuran yang mutlak ke pengertian relatif dan komprehensif. Ini lebih baik daripada mengurung diri pada satu pedoman pengertian suatu nilai tanpa adanya adaptasi maupun rekontruksi terhadap kondisi sekitar. Sekali lagi, tentu tidak lepas dari tujuan dan makna dasarnya.

Mohegan lake, NY. 3.38 pm. Oct 19, 2008.

1 Comment


Leave a Reply