October 19, 2008...3:32 am

Resiko

Jump to Comments

Hidup memang menawarkan beragam warna-warni kehidupan. Tinggal kita pandai-pandainya memilihnya, yang sebenarnya kita bebas untuk melakukannya dan bukan karena paksaan ataupun berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Tentunya hal ini kita harus mendudukkan diri pada hal yang jernih (objektivitas) bukan terkait oleh emosi kita sendiri.
Perlu diakui memang hidup selalu penuh dengan pertimbangan-pertimbangan yang bisa berkenaan dengan kita sendiri ataupun orang lain. Setiap keputusan kita tentu berkait pada orang lain juga selain kita sendiri.
Setiap keputusan selalu mengandung resiko. Ini sudah jelas dan pula resiko tidak bisa kita hindari sedikitpun, karena resiko selalu menempel pada keputusan. Hal penting dari itu adalah bagaimana kita bisa meminimalkan, mengalihkan atau menunda resiko pada saat yang tepat dalam keputusan kita.
Resiko disini bukan berarti hanya dampak (effect) negatif dari apa yang kita kerjakan, akan tetapi segala apa yang terjadi setelah aksi kita lakukan yang timbul secara bersamaan (simultan) atau sesudahnya.
Kemampuan kita dalam mengelola resiko tidak lepas dari pengalaman dan kecakapan menyikapinya. Semakin capable kita menempatkan dan menghasilkan keputusan maka akan semakin ringan menyelesaikan masalah serta mudah kita mencapai tujuan yang kita inginkan, begitu sebaliknya.
Dalam dunia pekerjaan sering kita jumpai istilah the right man on the right place. Ini berarti dalam pekerjaan dituntut untuk menempatkan orang-orangnya yang sesuai dengan kemampuannya. Hal ini akan memudahkan perusahaan untuk kompetitif dan meraih tujuan perusahaan. Adagium tersebut sama dengan karakteristik manajemen pada umumnya yaitu menekankan efektivitas dan efisiensi untuk meraih benefit-benefit darinya.
Seseorang yang baik ketika dihadang berbagai masalah dan dituntut untuk memecahkannya selalu memikirkan resiko-resiko yang timbul ketika memutuskan/memecahkan masalahpmasalah tersebut. Tidak seperti orang gegabah yang selalu tergesa-gesa dalam memutuskan masalahnya. Tidak berpikir panjang dalam menimbang resiko-resiko dari perbuatannya. Saya mempunyai teman yang bekerja di bagian jual beli saham (Bursa Efek Indonesia) yang kerjanya meneliti, menganalisis, memutuskan saat-saat yang baik dan buruk untuk beli atau jual saham. Kebetulan juga klien-klien teman saya ini cukup gemuk alias bermodal besar. Jikalau teman ini dalam pekerjaannya gegabah maka bukan tidak mungkin akan rugi besar dalam perdagangannya. Apalagi mengingat keadaan krisis ekonomi sekarang ini, dimana banyak harga saham yang berjatuhan. Tetapi saya bersyukur sekali dengan teman ini tipe orang yang sabar dan ulet, dalam artian ia mengerti resiko-resiko yang akan terjadi ketika ia memutuskan kapan untuk beli atau jual saham.
Berbeda lagi dengan teman saya yang lain, sebutlah Adi namanya. Dia adalah pedagang grosir di salah satu pasar tradisional Jombang. Usahanya maju, bahkan omzet penjualannya menjelang hari-hari besar sampai milyaran rupiah dalam satu bulan. Akan tetapi situasi akhir-akhir ini adalah situasi ekonomi sulit, banyak pengangguran, lapangan kerja sulit yang berakibat koleganya bangkrut, banyak orang gelap mata untuk mendapatkan uang, penipuan dimana-mana kurang disadarinya. Dengan masih berpegang pada kepercayaan pada kolega dan kelancaran bisnis meski disaat krisis, dan tidak mengupdate liabilities dan collateral kolega-koleganya dalam memberikan hutang (kredit) barang dagangan maka saat-saat akhir ini Adi mengalami keguncangan dalam bisnisnya. Untung saja tidak parah sampai menguras kekayaan usahanya secara drastic, tetapi cukup membuat shock baginya dengan banyaknya pengemplang utang dari koleg-koleganya yang memang bangkrut dan juga yang gelap mata.
Resiko-resiko yang dihadapai teman yang bekerja di bursa dengan Adi, sang pedagang grosir tidaklah sama diantara masing-masing. Teman yang satu resiko atas kepercayaan dari orang lain dan yang lain resiko memberikan kepercayaan pada orang lain. Sama-sama beresiko dan sama-sama memerlukan pertimbangan yang matang sebelum membuat keputusannya. Tentu kita tidak mau seperti Adi teman saya itukan? Alangkah baiknya kita berpikir jernih, tidak tergesa-gesa, objektif dan bijak dalam memutuskan segala sesuatu yang menimpa kita.
Semoga Tuhan selalu menjadikan kita umat yang sabar dan tidak tergesa-gesa. Amin.

Mohegan Lake, NY 3.29 pm

1 Comment

  • Berpikir jernih, sabar, obyektif, bijak, dan tidak tergesa-gesa.

    Hmm…, saran yang bagus :)

    Tapi seringkali staff selalu tidak sabar menunggu keputusan akhir akan masalah yang dihadapi.

    Aku lebih tertarik dengan pendapat seorang ‘teman’ yang mengatakan bahwa kebijaksanaan seseorang adalah proses yang hampir tidak pernah selesai.

    Tinggal bagaimana kita menyiasati proses tersebut agar tidak monoton dan mematahkan semangat kita. :)


Leave a Reply