ANDA sedang sekolah sekarang? Atau anda dalam status bekerja? Jika anda masih sekolah, pesan saya, bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu karena tidak semua orang mendapat kesempatan seperti anda. Banyak diantara teman-teman kita, saudara kita bahkan orang-orang disekitar kita tidak lebih senyaman anda sekarang dibangku kelas dengan berbagai alasan. Selain itu ada juga mempunyai kesempatan tersebut tetapi minat dan tujuan untuk meng-upgrade diri dengan akademis tidak ada.
Begitu juga ketika bekerja, sama halnya dengan sekolah. Tidak semua orang mendapat kesempatan bekerja seperti anda. Banyak pengangguran-pengangguran yang bukannya tidak mau bekerja tetapi mereka kurang kompetitif memasuki dunia kerja yang sengit alias kurangnya daya saing diri dengan angkatan kerja lainnya. Taruhlah seperti ini, dunia kerja menawarkan lapangan pekerjaan sebanyak 10 % dari total pekerjaan yang ada, sedangkan jumlah tenaga kerja yang menganggur sebanyak 40 % dari total angkatan kerja yang sudah bekerja. Untuk memenuhi lapangan kerja 10 % diatas maka tersisa 30 % yang akhirnya menganggur. Perbandingannya satu orang bekerja dengan tiga orang menganggur. Kompetisi yang sengit, bukan?
Pesan saya lagi, dalam pekerjaan anda berhak untuk menentukan apa saja jika anda kebetulan termasuk orang yang mempunyai daya saing yang tinggi. Sebaliknya jika tidak demikian, sebaiknya anda menyenangi pekerjaan anda dan melakukannya sebaik mungkin. Itu realistis ketimbang menuruti keinginan yang berlebihan tetapi tidak didukung kemampuan yang memadai.
APA hubungannya dengan sekolah sambil bekerja? Begini ada memang kondisi-kondisi dimana kita dihadapkan dalam beberapa pilihan yang sulit, salah satunya adalah kita dalam keadaan sekolah tetapi juga kita harus bekerja untuk mensupportnya. Kondisi yang benar-benar berat dilakukan seorang diri dalam waktu yang bersamaan. Kendala waktu, uang dan pikiranlah yang lebih banyak menyita pilihan hidup tersebut.
Dalam waktu yang sedemikian singkat, kita harus membagi sebaik mungkin jika kita tidak mau fail satu sama lain. Waktu sekolah mengharuskan kita belajar, duduk dibangku kelas, mencari literature dan mengerjakan tugas. Belum lagi mengurus urusan pribadi seperti istirahat, tidur, hiburan, bersih-bersih yang ternyata menghabiskan waktu tersendiri. Ditambah waktu yang dihabiskan dalam pekerjaan dan perjalanan. Menelaah satu persatu memang sangatlah banyak dan terasa waktu amat berharga sekali penggunaannya, sehingga tidak ada acara hang out atau pergi pesta.
Urusan uang biasanya penyebab semua diatas. Cerita menjadi lain jika kita sudah siap dana untuk sekolah. Kita menuntut ilmu bisa all out dan concern sebaik mungkin tanpa ada kekhawatiran mandek ditengah jalan atau memikirkan kebutuhan untuk hidup. Kita sekolah bisa merasakan nikmatnya sekolah dengan belajar, bersosialisasi dengan teman sekelas sampai mengikuti acara-acara diluar jam pelajaran.
Bagaimana jika kita mempunyai niat atau dalam keadaan sekolah sedang dana kita kurang? Mau tidak mau yang satu ini kita harus mencukupi kebutuhan sendiri seperti saya ungkap diatas sebagai konsekuensi pilihan hidup. Demi masa depan yang lebih baik. Demi harapan yang telah kita idam-idamkan.
Saya akui memang melakukan sekolah sambil bekerja adalah sesuatu yang tidak maksimal hasilnya. Dalam sekolah biasanya kita tidak sepenuhnya disana. Begitu juga dalam pekerjaan, kita kurang sense didalamnya juga dan pikiran mungkin pada jadwal-jadwal setelah kerja.
Pikiran, seperti yang telah saya bahas diatas sebagai konsekuensi dari dua pekerjaan dalam satu waktu. Pikiran selalu terbagi oleh diberagam tempat yaitu sekolah, kerjaan, rumah selalu menempati posisi awal sebelum yang lain. Jika tidak demikian, biasanya semua akan amburadul dan tidak ada jeluntrungannya.
Penyusunan jadwal acapkali kita perhitungkan urgentsitas tidaknya dalam aktivitas harian. Penyusunannya pun bentuknya terserah pribadi masing-masing. Ada yang dalam bentuk tulisan terstruktur atau dikomputer (memakai software tertentu misalnya), ada juga yang malah hanya dicongak saja. Saya pribadi biasanya anya menulis schedule yang penting-penting saja diantara rutinitas harian dan tidak membuat aturan-aturan diri yang terlalu rigid. Pernah suatu kali saya mencoba tersruktur seperti diatas, malah merasa tersiksa dan terpenjara dalam aturan-aturan kita sendiri. Akhirnya saya sesuaikan dengan karakter diri yang biasanya nyantai dan lebih bebas. Sepanjang secara general aktivitas dapat dilakukan meski tidak semua on time dan masih dalam penundaan-penundaan maka saya pikir masih dalam batas aman.
Satu lagi poin penting dari hikmah sekolah sambil kerja. Kita bisa belajar banyak dari kehidupan social yang tidak semua tercover dalam akademis, termasuk teori-teori disekolah banyak juga yang kurang aplikatif di dunia kerja. Perpaduan ini merupakan proses pengkayaan tersendiri bagi kita. Ketegaran hidup akan himpitan dan kombinasi kehidupan social yang nyata dengan akademis akan menjadi balancing dalam pribadi kita. Sebuah pelajaran yang berharga dan tidak semua orang bisa istiqomah menjalaninya.
Begitulah kiranya pilihan hidup yang kadang tidak semua sesuai dengan keinginan kita. Dus, dari sinilah kita bisa mengambil pelajran hidup pula. Semoga teman-teman di sekolah, blog dan dimana saja tidak gampang patah semangat dalam menjalaninya. Ternyata masih banyak juga diantara kita yang kebetulan mempunyai nasib yang serupa, tentunya dengan tujuan yang berbeda-beda.
Pleasantville, NY. Ramadhan 24th 1429 H.
8 Comments
September 24, 2008 at 1:42 pm
BIG terimakasih untuk artikel ini.
October 15, 2008 at 12:49 am
Aku sempat merasakan kuliah sambil bekerja tapi gak kuat.. Benar2 hebat orang yang bisa..
October 15, 2008 at 2:00 pm
Itu yang kulakukan pada 2002 lalu.
Di awal-awal kuliah, semuanya berantakan.
Jam kerjaku mulai 6:30 pagi sampai 13:15 siang. Kuliahku dimulai jam 13:30 sampai jam 18:00 walaupun jarak rumah – kantor – kampus hanya sekitar 4km, tapi bayangkan kalau di busy traffic . Bisa lebih dari 15 menit aku di jalanan. Belum lagi kalau musim hujan datang. Deuuhhh….lengkaplah penderitaanku. Karena pasti malamnya ada pekerjaan extra untuk nyuci motor dan pakaian basah.
Belum lagi kalau ada tugas kantor dan kuliah. Praktis, aku masuk rumah (pulang) jam 20:00
Aku nggak bisa milih harus mendahulukan yang mana. Aku kerja untuk kuliah, aku kuliah juga untuk peningkatan karir.
Ini jurus yang kulakukan, dan kuanggap efektif:
1.) Menyewa kost dekat kampus dan kantor, untuk transit disiang hari. Jadi cuman untuk mandi dan sholat aja.
2.) Segera menyelesaikan segala tugas kantor.
3.) Nyari teman kuliah yang bisa diajak “simbiosis mutualisme”
4.) Membangun partnership dengan dosen dan petinggi kampus *** kritikan mereka, bikin aku malu untuk putus sekolah ***
Dan yang the most important thing adalah KOPI.
Itu teman setiaku ketika harus berkutat dengan tugas kuliah dan kerjaan. Dari awal bangun….lembur….bahkan ketika harus terjaga semalam suntuk.
Hasilnya kunikmati sekarang
March 30, 2009 at 8:11 pm
wuih…
thx yha artikelnya
^^
May 17, 2009 at 7:47 pm
nama saya andy,tahun ini saya pengen bgt kuliah sambil bekerja,saya lulusan smu thn 2006,dan saya ngerasa masih ingin belajar dan melanjutkan pendidikan (kuliah).tapi saya sedikit ragu tentang waktu dan keuangan,..ada saran buat saya?,…
May 18, 2009 at 10:51 pm
@ andy, Maju terus pantang mundur, tetapi harus realistis dengan keadaan kita.
Memang banyaj tantangan yang dihadapi kedepan jika 2 buah pekerjaan di kerjakan secara bersamaan. Susah, senang, berat ringannya tergantung manajemen waktu dan pandangan kita dalam menilai hidup dan keteguhan akan goal yang kita putuskan. Mari kita saling mendukung untuk maju bersama-sama..demi masa depan yang lebih baik tentunya.
July 4, 2009 at 12:52 pm
duh w lgi cari kerjaan sambil sekolah …
biar w bisa ngeringanin beban keluarga w …
kl ada tlg hub w di:
08999759707
thanks
July 7, 2009 at 12:37 pm
@ dicky, Hidup tidaklah semudah membalik telapak tangan. banyak perjuangan yang harus dipertaruhkan jika ingin berhasil. semangat dan percaya diri intinya. saya yakin dicky bisa berhasil suatu saat nanti. amin.
saya sekrang berdomisili di amerika, banyak cerita2 hidup terjadi. begitu juga di indonesia, tidak beda.