September 17, 2008...1:02 pm

Mengenai Budaya, Anak Muda dan Globalisasi

Jump to Comments

Beberapa waktu lalu saya membaca kolom dari saudara Ridwan Arif Nugroho, di harian The Jakarta Post (09/13/2008) berjudul Value-Based Development. Dalam Kolom ini Ridwan berusaha mengulas kata pengantar buku Culture Matters: How Values Shape Human Progress-nya Samuel Huntington dalam hubungannya dengan kasus perkembangan pembangunan negara-negara sebagai subyeknya.

Kolom menjadi menarik ketika Ridwan berusaha menganalisis hubungan teori Huntington dengan pembangunan di Indonesia dengan berbagai resistensi baik berupa budaya maupun sistem pendidikan yang ada.

Dilain pihak alih-alih memperkaya budaya kita dengan nilai modern, banyak pula budaya asal kita yang dulunya sebagai dasar pijakan kita bermasyarakat terkikis perlahan-lahan akibat hegemoni-hegemoni budaya barat yang sarat dengan kepentingan pragmatisme ekonominya. Memang saya akui diantara budaya-budaya yang tumbuh dan berkembang sekarang ini, hanya budaya barat yang masih mendominasi diantara yang lain terlepas dari keunikan dan perbedaan-perbedaan satu sama lain. Meski beberapa budaya sudah mulai menunjukkan perkembangan dan mewarnai peradaban dunia kontemporer sekarang, seperti Cina dan India.

Budaya kita seperti gotong royong, musyawarah, kekeluargaan semakin ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari. Adalah sangat disayangkan jika kita tidak melestarikannya dengan konsep efektif yaitu dengan memasukkannya kedalam nilai-inilai pelajaran disekolah misalnya, yang dapat dengan mudah melakukan pembelajaran atau transfer budaya ke anak-anak muda bangsa. Tidak pelak rekontruski system pendidikan adalah titik awal untuk memulainya lagi jika melihat saluran-saluran budaya sudah tidak jalan sebagaimana mestinya dan di sekolahlah anak-anak muda berkumpul serta belajar.

Proses pergeseran nilai budaya ternyata tidak hanya terjadi dalam kemasyarakatan yang bersifat sosial (sehari-hari). Dilingkup agama, pendidikan dan ekonomi juga mengalami hal persamaan yaitu perubahan yang merupakan copied dari luar tanpa melakukan seleksi dan adaptasi.

Di lingkup agama islam misalnya dalam perkembangannya makin terasa perubahannya dekade terakhir terutama paham-paham dari timur tengah yang berafiliasi pada gerakan pemurnian ajaran agama. Gerakan-gerakan ini menurut saya sebenarnya adalah counter back dari pihak-pihak yang kecewa, tidak mau menerima secara positif (desperated) akan perkembangan budaya barat, kemunduran-kemunduran gerakan keislaman dan masih mengagungkan kejayaan masa lampau tanpa melihat kondisi objektif umat. Akibatnya dengan fanatisme yang berlebihan serta didukung pandangan dan langkah tidak sportif maka berujung pada gerakan-gerakan ultra kanan atau lebih dikenal dengan fundamentalisme dan sekarang sudah berkembang bebas di tanah air. Gerakan inisalah satu cirinya lebih mengarah pada politisasi agama yaitu membawa ketentuan-ketentuan ajaran agam masuk dalam wilayah politik tertentu. Menurut asal muasalnya gerakan tersebut merupakan impor dari negara-negara yang memungkinkan gerakan ini bertumbuh kembang, seperti Arab Saudi dan Mesir. Tidak bersumber pada nilai-nilai luhur bangsa. Di Indonesia, gejala-gejala fundamentalisme sudah berkembang dan terus melakukan penyebarannya melalui celah transisi menuju demokrasi yang sedang berjalan. Kesemuanya mari kita bandingkan bagaimana cara beragama, penyebaran (dakwah) syariah, tingkah laku social, motif-motif beragama beberapa gerakan keislaman yang sering membuat berita di media dengan cara-cara atau bentuk keberagamaan pada jaman walisongo, tentu sangat beda, dan terjadi banyak pergeseran bukan?

Dalam lingkup pendidikan, saya melihat dalam kurikulum yang notabene kerangka metode pembelajaran kurang akan nilai-nilai nasionalisme dan kemasyarakatan. Didalamnya lebih dominan pokok-pokok pendidikan barat yang berpusat pada industrialisasi tanpa selektif. Selain itu kurangnya muatan local bangsa menjadikan para pelajar lebih elitis pada keilmuannya dan meninggalkan pemahaman kondisi masyarakat pada umumnya. Hal ini terbukti pada kuantitas mahasiswa peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) berbasis pada pengabdian lebih sedikit daripada orientasi mahasiswa pada kegiatan magang kerja. Selain itu tak ayal pula juga pelajar yang bangga ketika memakai barang-barang produk luar negeri seperti fashion, handphone, aksesoris daripada produksi dalam negeri. Padahal kadang juga mereka memakai foreign branded yang merupakan hasil out sourcing yaitu hasil manufaktur dari Negara dunia ketiga seperti Indonesia juga. Hal ini menunjukkan bahwa para anak didik kita sekarang adalah masih menjadi objek globalisasi disatu sisi dan sangat rendah nasionalismenya.

Dalam ekonomi, masyarakat kita juga mempunyai kebiasaan yang kurang baik akibat modernisasi. Survey AC Nielsen, perusahaan pemeringkat pemasaran internasional, akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga besar dalam hal konsumsi setelah cina dan India di Negara-negara Asia Pasifik. Ini berarti kualitas dan kuantitas komsumtif kita masih tinggi alias boros. Sebagai contoh, kebiasaan menabung oleh anak-anak muda sekarang sangatlah rendah, mereka biasanya baru mengenal kebutuhan ketika sudah berkeluarga. Begitu juga gengsi dan narsisme akan produk luar negeri di kalangan anak muda juga masih mendominasi dalam system pergaulannya. Mereka lebih percaya diri dan merasa sudah sukses ketika dianggap wah atau status sosialnya meningkat dengan mengkonsumsi bukan produk dalam negeri.

Beberapa hal diatas adalah sebagai introspeksi kita sebagai anak bangsa ditengah kompetisi global yang sedemikian tinggi. Banyak diantaranya terjadi pergeseran-pergeseran dalam nilai masyarakat, khususnya pada kawula muda dalam menyikapi kemjuan teknologi dan informasi. Globalisasi adalah sesuatu yang hidup diantara kita dan terus-menerus merangsek pada sendi-sendi kehidupan kita sehari-hari. Jika kita tidak sadar dan terlambat melakukan konstruksi nilai hidup, maka siap-siap kita sebagai bangsa akan menjadi objek globalisasi terus-menerus dan tidak akan menikmati manisnya globalisasi itu sendiri. Anak muda bangsa dalam hal ini adalah mempunyai tugas dan peranan penting kedepan dalam menyokong kekuatan bangsa Negara. Saya pikir ada baiknya kita memulainya dengan introspeksi terhadap diri sendiri. Samuel Huntington dengan bukunya yang saya sebut diatas kali ini menunjukkan analisis dan buktinya. Sebuah hal yang mudah dikatakan, dan sulit dilakukan bukan?

Tulisan ini adalah sekedar comment lepas saya pribadi dan tanpa merujuk pada analisis atau literatur lebih lanjut.

Pleasantville, Ramadhan/September 1429H/2008

3 Comments

  • Wah judulnya dah bagus banget..
    Kalo gitu saya tunggu aja deh..

  • jadi penasaran ingin baca postingannya segera :)

  • Tugas siapakah untuk mengubah persepsi anak-anak muda tersebut?

    Gurukah? Rasanya tidak adil kalau hanya ditimpakan pada guru saja. Bukankah orang-orang yang sukses di luar negeri seharusnya memberi contoh dengan kembali dan memberi kontribusi yang berbeda untuk negaranya?

    Nah….

    Sudahkah mengawali introspeksi terhadap diri sendiri?
    Hehehehe…


Leave a Reply