September 2, 2008...3:56 pm

Penjajah dan Dijajah

Jump to Comments

Untuk kali saya akan mengajak pembaca blog sekalian flash back kepada sejarah terjadinya kolonialisme di negara-negara dunia yang mampu mencatat merubah dinamika dan kemajuan negara-negara eropa pada umumnya. Tulisan ini hanya sekedar note ringan saja dan hanya saya paparkan secara general dan singkat saja sejarah masa lampau dimana penjajahan dimulai, dan kata dijajah terbentuk dalam masyarakat masa itu. Selain itu tentunya tulisan ini lebih bersifat gumaman saja, sebagai reaksi sesaat penulis melihat banyaknya media lokal Indonesia memaparkan berita tentang kebangkitan nasional beberapa waktu lalu, dan tentunya kesemuanya tidak mendasarkan pada kajian ilmu secara empiris yang mendalam.

Adalah Merkantilisme yang saya tengarai sebagai biang dari semua kolonialisme yang terjadi pada masa lampau. Paham ini menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara hanya ditentukan oleh banyaknya aset atau modal yang disimpan oleh negara yang bersangkutan, dan bahwa besarnya volume perdagangan global teramat sangat penting. Aset ekonomi atau modal negara dapat digambarkan secara nyata dengan jumlah kapital (mineral berharga, terutama emas maupun komoditas lainnya) yang dimiliki oleh negara dan modal ini bisa diperbesar jumlahnya dengan meningkatkan ekspor dan mencegah (sebisanya) impor sehingga neraca perdagangan dengan negara lain akan selalu positif. Merkantilisme mengajarkan bahwa pemerintahan suatu negara harus mencapai tujuan ini dengan melakukan perlindungan terhadap perekonomiannya, dengan mendorong eksport (dengan banyak insentif) dan mengurangi import (biasanya dengan pemberlakuan tarif yang besar).

Ajaran merkantilisme dominan sekali diajarkan di seluruh sekolah Eropa pada awal periode modern (dari abad ke-16 sampai ke-18, era dimana kesadaran bernegara sudah mulai timbul). Peristiwa ini memicu, untuk pertama kalinya, intervensi suatu negara dalam mengatur perekonomiannya yang akhirnya pada jaman ini pula sistem kapitalisme mulai lahir. Kebutuhan akan pasar yang diajarkan oleh teori merkantilisme akhirnya mendorong terjadinya banyak peperangan dikalangan negara Eropa dan era imperialisme Eropa akhirnya dimulai.

Ditambah dengan kegagalan kerajaan perancis yang absolut dan tidak peka terhadap perubahan masyarakat pengaruh wacana enlightment kala itu. Akhirnya terjadilah revolusi Perancis besar-besaran dari sistem monarki beralih ke kedaulatan rakyat. Imbasnya sangat nyata pada sistem ekonomi dan dicabutnya otoritas gereja dalam kehidupan ekonomi karena dianggap resisted pada perubahan dan pencerahan.

Begitulah kira-kira asumsi saya mengenai sejarah penjajahan yang sambung menyambung dengan keadaan dataran eropa sebagai pusat terjadinya kolonialisasi. Dinamika yang terjadi lebih banyak membuka pintu dan menjadikan sistem ekonomi kapitalisme bertumbuh-kembang dimana-mana.

Pada masa-masa itu, Inggris, Portugis, Spanyol, Perancis dan sejumlah negara-negara eropa mulai mengembangkan perdagangannya dan mencari sumber-sumber komoditas baru dibelahan dunia lain yaitu asia, amerika latin dan afrika. Perdagangan antar negara, dan persaingan dagang serta memenangkan kompetisi merkantilisme sudah mulai kentara sampai terjadi peperangan dan terciptalah penghisapan hasil sumber daya dari Negara-negara koloni terhadap negara ordinat atau lebih dikenal penjajahan.

Dalam sejarah kasus Indonesia, penjajahan terjadi silih berganti akibat persaingan dagang seperti yang saya ungkap diatas. Mulai dari masuknya portugis, spanyol dan belanda. Belanda paling lama menguasai wilayah-wilayah indonesia dengan memonopoli perdagangan terutama rempah-rempah. Terhitung mulai dari tahun 1602 dengan memanfaatkan celah tumbangnya majapahit dan berdiri kerajaan kecil-kecil dan perang antar keluarga kerajaan, belanda mulai menguasai jalur perdagangan nusantara dengan mendirikan lembaga dagang belanda atau VOC (Verenigde Oostindische Compagnie). VOC yang semula bertujuan monopoli dagang nusantara yang sering berakhir pada penekanan pada pribumi yang mencoba menjual barang dagangannya kepada non belanda. Pada masa-masa awal VOC memang berdiri sendiri dari pemerintah kerajaan Hindia Belanda. Kekuasaan tersebut diberikan oleh parlemen belanda untuk mengatur perdagangan disana sampai pada akhir abad 18 VOC mengalami kebangkrutan dan pemerintah belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816.

Dari tahun ke tahun penekanan kepada penduduk lokal nusantara semakin menggigih sampai pemerintah belanda menjadikan hindia belanda sebagai salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. Meski begitu persaingan dagang dengan saudagar-saudagar local yang bersimpul pada kesultanan dan kerajaan kecil yang tersisa membuat terlibat dalam politik internal pada masa itu.

Pertempuran diponegoro, peperangan mataram, banten dan sejumlah peperangan lainnya yang melibatkan pasukan belanda adalah lebih banyak dari ekses-ekses yang timbul dari persaingan dagang, sikap hindia belanda terhadap penduduk pribumi dan terganggunya hubungan keberagamaan islam terutama pada pemimpin-pemimpin agama sebagai akibat mandat kristenisasi dari pemerintah belanda yang mencoba masuk melalui pintu VOC, meski banyak pertentangan pula terutama pada oleh DR Snouck Horganje.

Sampai pada tahun 1830 dikenal sistem tanam paksa (cultuurstelsel) mulai diterapkan. Lagi-lagi karena kompetisi dagang dunia waktu itu pemerintah Belanda mengenalkan system ini, dimana memaksa para penduduk menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia seperti teh, kopi, tebu dan lain sebagainya. Hasil tanaman itu kemudian di ekspor ke mancanegara dengan cara monopoli dan membawa kejayaan besar pemerintah Belanda khususnya, yaitu mengangkat negara belanda menjadi negara industri kaya.

Sistem ini dihapus dan dilaksanakan lebih bebas setelah pemikian kritik terhadap tanam paksa yang ternyata ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang. Pada tahun 1901, setelah melihat peranan negara koloni terutama di kawasan nusantara, maka pihak belanda membuat kebijakan politik balas budi, dimana memberikan kesempatan besar kepada golongan penduduk pribumi dalam menempuh pendidikan, memberikan, membangun dan memperbaiki sistem irigasi untuk keperluan pertanian dan proyek transmigrasi.

Namun sayang, kebijakan irigasi dan transmigrasi dalam politik etis tersebut disalahgunakan hanya untuk kepentingan perkebunan Belanda dalam bentuk kerja rodi. Kebijakan pendidikanlah yang sangat berjasa dalam perkembangan bangsa sampai pada tahun 1908 tercipta kebangkitan nasional oleh para pelajar-pelajar pribumi.

Pada masa-masa inilah yang saya sebut masa emas untuk bangsa Indonesia yang mulai sadar akan belenggu feodalisme, diskriminasi social budaya dan kolonialisme. Dan pada masa ini pula menjadikan pertukaran mental budaya antara orang belanda dan pribumi, sampai dikenal dengan emansipasi dan penuntutan pendidikan yang lebih layak.

Titik kebangkitan nasional yang membentuk bangsa Indonesia sebagai kesatuan untuk melepas dari berbagai belenggu selama itu mengalirkan jiwa nasionalisme pada bangsa. Hingga pada tahun-tahun berikutnya kita mengenal gerakan-gerakan cinta tanah air serta kebangsaaan, seperti sumpah pemuda 1928 dan pemberontakan-pemberontakan yang berlatar pada nasionalisme dan pengusiran kolonialisme, seperti pemberontakan 10 nopember.

Begitulah alur sejarah bangsa Indonesia dalam proses pengenalan diri dan pembentukan sampai pada penyadaran diri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan setara dengan bangsa-bangsa lain didunia.

Sekarang waktunya kita tinggal mengisi kemerdekaan dan kematangan bangsa yang berdasar pada nasionalisme. Kita tahu bentuk kolonialisme selalu berubah menurut jamannya. Kapitalisme adalah jelmaan yang paling tepat untuk penggambarannya terkini. Belum lagi kapitalisme memujudkan prosesnya yang sempurna, kini telah kita mengenal globalisasi. Kesemuanya bisa menjadi ancaman sekaligus kesempatan untuk kita dan nasionalisme kita. Tentu bergantung kepada kita akhirnya, karena kompetisi global sudah semakin cepat dan kuat dengan didukung teknologi yang modern.

(Tulisan ini diolah dari berbagai sumber)

Pleasantville, 2nd Ramadhan 1429.

1 Comment

  • Silah simak, semoga bermanfaat
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html

    Kompilasi Liputan Khusus Kompas (40 artikel berita-feature dan opini)
    : Ekspedisi 200 Tahun Anjer-Panaroekan (Anyer-Panarukan)

    Bacaan penting untuk refleksi 100 tahun kebangkitan nasional, 10 tahun reformasi

    jalan raya daendelshingga jalan tol trans jawa

    Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
    kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
    Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
    Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”

    -Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
    dikutip oleh Redaksi Kompas untuk pengantar edisi khusus ini

    salam hangat
    andreas iswinarto


Leave a Reply