June 20, 2008...3:05 pm

Change Is Good

Jump to Comments

Beberapa waktu lalu penulis mengantar seorang teman untuk keperluan belanja, tepatnya di Macy’s 34th St, NYC. Setiba disana berkeliling sebentar, lalu pada tujuannya yaitu ke stand-stand kosmetik untuk keperluannya. Maklum teman penulis seorang cewek, jadi seperti kebiasaannya haruslah sabar menunggunya, apalagi soal kecantikan perlu perhatian khusus dimata kaum hawa.

Kuputuskan untuk menunggu di balkoni ada kios Starbucks Café diatas stand-stand kecantikan yang cukup terkenal kayaknya seperti Dior, Chanel, Sheseido, Clinique dan masih banyak lagi. Dari atas penulis bisa melihat dengan jelas lalu lalang customers di bawah dan dekorasi-dekorasi mall dari jauh. Tidak jauh dari balkoni terdapat tulisan yang besar Change Is Good tertera di stand yang diperbaiki begitu menarik perhatian. Mungkin tulisan dimaksudkan pihak manajemen mall tidak jauh dari maksud renovasi stand itu sendiri, tetapi khayalan penulis mempunyai makna lain setelah melihat sebagian besar customers dan seller Agent adalah imigran dari asia, eropa dan amerika latin. Pikiran jauh kembali kebelakang, para imigran dari berbagai benua datang ke amerika tentu dengan berbagai motifnya yang sejak awal membawa bermacam-macam aneka budaya dan kebiasaan asal imigran. Dari sini tak terelakkan amerika menjadi tempat bertemunya budaya-budaya dunia seiring dengan pesatnya populasi imigran akhir-akhir ini. Akulturasi antar budaya yang dibawa para imigran sangat massif terjadi baik antar budaya imigran maupun dengan budaya orang amerika serikat, yang konon juga adalah turunan dari budaya eropa sendiri. Hal-hal yang mungkin tampak dalam kehidupan sehari hari bisa kita lihat dari jenis-jenis makanan, fashion, bahasa-bahasa asing yang di adopsi ke bahasa inggris dan masih banyak lagi lainnya.

Proses saling percampuran dan renovasi budaya dalam masyarakat terjadi secara damai, dan membentuk indentitas baru amerika yang muncul digenerasi muda. Maka dulu kita kenal amerika dengan image cowboy telah bergeser dengan yang lain. Budaya Cowboy masih tetap tumbuh tetapi lebih bergeser pada orang-orang yang hidup di Midwest atau untuk orang-orang berkulit putih saja yang hidup di country, sedangkan wajah amerika sangatlah beragam sekarang. Disanalah para imigran mengalami pergulatan sendiri membentuk indentitas baru yang merupakan kombinasi sana sini. Tanpa disadari perubahan ini tidak lepas juga dari budaya amerika sendiri yang terbuka dengan yang lain, perekonomian dengan pondasi yang kuat dan perkembangan teknologi yang agresif yang kesemua saling mendukung globalisasi, termasuk juga globalisasi budaya.

Tidak aneh jika selama ini Amerika masih menempati posisi yang berpengaruh dalam berbagai bidang di dunia. Konsep keterbukaan dan kapitalisme telah menghantarkannya pada efisiensi dan akulturasi yang optimal, terlepas dari aspek-aspek negative yang mengikutinya. Hal yang sungguh berbeda dari masa sejarah gelap eropa, pada masa gereja membungkam kebebasan masyarakat dan amerika/barat ternyata telah belajar dari sana.

Adalah Samuel Huntington dengan karya terkenalnya Clash of Civilization, yang menengarai terjadinya potential conflicts pada budaya-budaya besar dunia yang pada dasarnya semua budaya tidak memiliki kesamaan. Huntington dengan karyanya berhasil mempengaruhi opini dunia tentang kebudayaan sehingga menjadi rujukan dimana-mana dan anehnya sangat tidak akrab dengan proses akulturasi yang sedemikian terus menerus terjadi. Tampaknya Huntington tidak menyadari terjadinya hal tersebut di Amerika yang negerinya sendiri dengan damai sebenarnya. Penulis menengarai bahwa nuansa politislah yang lebih kental didalamnya sehingga isu-isu konflik dan perbedaan kerap dijadikan landasan terutama dalam kepentingan politis negara. Isu terorisme dan islam berseberangan dengan pihak barat salah satu contoh terkini yang lebih mengedepankan perbedaan serta menjauhkan dari kesan saling dialog dan persamaannya. Hal ini juga memungkinkan konflik berlanjut kepada budaya-budaya besar yang lainnya seperti amerika latin, sinic/china, orthodok, hindu maupun jepang, jika karyanya tersebut masih dipakai.

Terlepas dari konflik antar peradaban diatas, optimisme positiflah sikap yang terbaik dalam menyikapi lingkungan sekitar kita, tetangga kita, teman kita yang mungkin kebetulan beda dari kita , karena peradaban tidak lain tidak ada yang sempurna dan harus saling belajar satu sama lain untuk menjadi budaya yang kuat. Bukankan dalam kaidah ushul fikih disebutkan al muhafadzatu ’ala al qadimis shalih, wal akhdu bil jadidil ashlah (memelihara sesuatu yang lama tetapi baik, dan menerima sesuatu yang baru, yang lebih baik). Change is good, isn’t it?

Pleasantville, NY

Leave a Reply