June 17, 2008...5:04 am

Angan dan Kenyataan

Jump to Comments

Angan, kalau tidak salah mempunyai pengertian sesuatu yang kita inginkan, cita-citakan sama halnya dengan harapan, tanpa mempedulikan kita dapat meraihnya atau tidak. Seseorang yang berangan-angan menjadi seorang presiden, belum tentu suatu saat menjadi presiden. Begitu juga seorang direktur sebuah perusahaan besar pada suatu saat berangan-angan menjadi tukang becak, bisa jadi dengan kemauan dan kerelaannya yang tinggi terwujud menjadi tukang becak. Tidak ada salahnya dengan orang yang berangan-angan, bahkan diperlukan dalam kehidupan. Seseorang berangan-angan bisa diartikan dia mempunyai harapan di masa depan. Kesadaran dan kemauan yang keras, dapat menjelmakan angan-angan menjadi semangat pada diri seseorang dalam berusaha, sehingga pada akhirnya menjadi kenyataan. Nah, berarti disini angan-angan mempunyai segi positifnya dalam hidup. Bagaimana dengan yang negatif?

Seorang pemalas yang selalu berangan-angan menjadi seorang milyuner tanpa mau berusaha dan bekerja keras, tidak mungkin angannya menjadi kenyataan. Tidak pernah disebutkan dalam cerita nyata bahwa pengemis akan berubah menjadi orang kaya tanpa merubah pandangan hidupnya dan kerja kerasnya yang gigih. Dunia orang malas memandang hidup lebih sempit, harta, kekayaan, ilmu dan kebahagian adalah datang dari tuhan, tidak perlu susah-susah bekerja, jika waktunya sukses akan sukses juga pada akhirnya. Angan akan menjadi lamunan atau mimpi di siang bolong, istilah konotasinya. Hidupnya akan terbuai dalam angan yang melebihi kemampuan diri dan lebih banyak mengobral cerita-cerita kosong untuk dijajakan setiap hari. Demikian berarti angan menjadi seseuatu yang negatif bagi seseorang.

Angan dan kenyataan seperti halnya nada, syair dan ritme dalam sebuah lagu. Sebuah lagu yang baik, adalah enak didengar, terasa lantunan iramanya dan syair lagunya cocok dengan musiknya, yang tentunya jenis musik berbeda satu sama lain, tergantung penikmatnya. Disini karena nada dan irama sangatlah penting untuk menentukan estetika sebuah lagu. Bagi anda penggemar musik hip-hop, misalnya, anda tidak terlalu mempermasalahkan nada dalam memilih musik, karena hip-hop lebih mengedepankan ritmis dalam nafas lagunya. Begitu sebaliknya, bagi anda yang menyukai karya-karya classic musical seperti Bach, Beethoven, Antonio Vivaldi, justru alunan nada yang syahdu itulah kuncinya disamping ritme yang naik turun.

Dengan demikian, angan dan kenyataan lebih sekedar merupakan harmoni kehidupan selayaknya nada, syair dan ritme mempunyai tempat tersendiri dan saling berkolaborasi membentuk lagu kehidupan. Lagu yang membawa kita dalam dunia fantasi dan nyata, yang terkadang sebenarnya berjarak serta saling tidak bersesuaian satu sama lain. Alangkah baiknya jika keduanya berjalan beriringan dan sisi positif angan terdapat pada kita menjadi sebuah semangat hidup. Mari bermimpi dan bersemangat!

12.50 am EST, Selasa, 17 Juni 2008. Pleasantville, NY.

1 Comment


Leave a Reply