
Sebuah organisasi tentu sangat mendambakan tujuan daripada organisasi tersebut tercapai. Ini sesuai dengan kaidah organisasi itu sendiri yang berarti kumpulan social dalam suatu wadah atau tempat yang memiliki kesamaan tujuan dan bersama-sama memujudkannya dengan segala upayanya serta peranan anggota dalam pengelolaannya, yang mana membedakan dengan lingkungannya. (An organization is social arrangement which pursues collective goals, which controls its own performance, and which has a boundary separating it from its environment). Dalam pengertian kontemporer, organiasi berkembang menurut bidang-bidang yang melingkupinya dan semakin kompleks. Organisasi sendiri berasal kata yunani, ὄργανον (organon) yang berarti alat. Penulis sengaja tidak melebarkan cakupan organisasi tersebut diatas, dengan maksud membatasi masalah dan lebih memfokuskan pada pengertian secara umum serta relevansinya.
Pada umumnya organisasi mempunyai beberapa unsur antara lain; tujuan, keanggotaan, lingkup kerja, kepemimpinan (kepengurusan), dan strategi yang kesemuanya terangkum dalam sebuah manajemen orgnisasi. Organisasi yang kuat biasanya memiliki korelasi positif terhadap unsur-unsur yang tangguh tersebut diatas, karena peranan manajemen yang tepat dan terstruktur akan memudahkan para anggotanya untuk mengatur dan menguraikan dalam bentuk-bentuk kerja yang menyokong tujuan organisasi tersebut.
Kemudian, apakah manajemen yang tepat dan terstruktur menentukan membawa organisasi mencapai kesuksesan? Ada poin yang mesti ditelaah sebelum menjawab pertanyaan terebut.yaitu kesadaran anggotanya dalam memperjuangkan tujuan. Tanpa kesadaran anggota belum tentu sebuah organisasi bisa sukses dan berhasil. Menurut pandangan penulis penelaahan ini terbagi menjadi dua yaitu sebelum dan sesudah organisasi itu ada. Paradigma pertama, proses kesadaran dalam organisasi berawal dari kesadaran masing-masing individu dan kemudian memiliki kesamaan diantara mereka sehingga pola kesadaran yang terbentuk lebih bersifat natural dan lebih cenderung emosional ikatannya antara satu angota dengan yang lainnya. Hal ini biasa terjadi pada organisasi-organisasi skala kecil terbatas atau organisasi yang baru saja berdiri.
Paradigma kedua, proses kesadaran dapat dibentuk dari manajemen yang baik, sehingga dalam tahapannya manajemen memberikan bentuk-bentuk penciptaan kesadaran diantara anggota organisasi. Dalam hal ini terlihat pada metode-metode manajemen kerja organisasi khususnya masalah keanggotaan yang berupa pembinaan, pelatihan, proses perekrutan anggota, dimana metode-metode tersebut menuntut kerja keras anggota lama melakukan penetrasi kepada anggota baru untuk mengubah cara pandang, memberikan cara berpikir yang baru dan menumbuhkan sense of belonging terhadap organisasi. Dengan begitu kesadaran “buatan” telah diciptakan yang pada akhirnya para anggota akan melakukan penguatan-penguatan dan pengarahan (synergy) ke seluruh elemen manajemen.
Terlepas dari konteks kedua paradigma diatas, lebih jauh lagi, kesadaran menimbulkan militansi dalam anggotanya. Militansi ini menciptakan semangat (spirit), kepatuhan dan pengorbanan dalam diri anggota yang secara sadar ataupun tidak sadar menjadi kekuatan yang positif bagi organisasi. Semakin militant seorang anggota akan semakin aktif anggota tersebut untuk organisasi. Biasanya mereka lebih dikenal dengan sebutan kader. Jumlah mereka terbatas dan memiliki peranan dan tugas yang luas. Pada skala organisasi kecil, dengan jumlah keanggotaan terbatas akan lebih mudah mengarahkan militansinya dan lebih ramping model struktur kerjanya. Sebaliknya pada organisasi skala besar biasanya memerlukan jumlah kader yang lebih untuk menjaga arah organisasi dan mengurusi pembinaan anggota yang lain. Sedemikian kompleksnya organisasi besar dalam manajemen maupun masalahnya, maka biasanya untuk meringankan dan membantu pimpinan organisasi maka dibutuhkan tim think tank. Tim ini beranggotakan kader-kader yang militansi sudah tidak diragukan lagi dan yang kebih penting memiliki kompetensi didalamnya. Secara umum tugas think tank antara lain menyerap aspirasi dan informasi yang kemudian menganalisa untuk kepentingan organisasi, dan membantu memberikan masukan kepada pimpinan organisasi dalam membuat keputusan.
Militansi memang sangat sulit dalam pembentukannya dan bukan merupakan produk massal yang mudah mencetaknya. Diperlukan kerja keras setiap elemen organisasi untuk concern dan pembinaan yang berlanjutan, karena militansi dan kesadaran tidak ubah seperti dua sisi kon yang tak terpisahkan. Pada akhirnya organisasi yang mempunyai kader-kader militant akan lebih mudah untuk menjalankan roda organisasinya dan mencapai tujuan organisasi itu sendiri. Bagaimana pendapat anda?
Wrote at Thursday, May 22, 2008. Bus between Boston – New York.
