May 20, 2008...6:20 am

MENIKAH

Jump to Comments

Menikah, sebuah kata yang sudah lama ngetrend dikalangan teman-teman sekolah penulis sekarang ini. Melihat dari segi usia dan keadaan, memang sudah waktunya dan normal-normal saja kalau trend menikah terjadi. Dengan rata-rata usia yang hampir tidak jauh beda, secara psikologis memang sudah mantap untuk melakukannya, apalagi ditambah dengan keadaan rata-rata teman-teman yang secara garis besar sudah mulai menikmati “hasil jerih payah sekolah” sebelumnya. Bahkan sampai banyak kisah lika-liku mereka yang menarik untuk dicermati sebelum, akan dan sesudah menikah, kendati penulis sendiri pun belum melakukannya.

Beberapa waktu lalu penulis menerima sebuah berita seorang kawan dekat. Salah satu teman kita akan MENIKAH! Namun seperti yang disebutkan ada lika-likunya, yang ternyata merupakan masalah yang mungkin relative kerap terjadi. Menikah memang relative mudah untuk berteori namun sulit untuk dilakukan. Masalah selalu ada ketika kita menilik kasus per kasus dalam proses pengambilan keputusan untuk menikah. Sebagai missal ada seseorang yang ingin sekali menikah, tetapi belum mendapatkan pasangan, kemudian ada seseorang yang sudah mempunyai pasangan tetapi dengan pertimbangan lain seperti ekonomi, ketidaksejutuan keluarga maupun ketidakkesiapan psikologis kedua belah pasangan maka kandas juga, adapula yang masih menjaga hati terhadap pasangan idamannya, ternyata dijodohkan dengan orang lain, ada juga yang memiliki begitu banyak pilihan maka tidak terpilih semua dan sederet aneka ragam masalah yang melatarbelakangi sebuah perkawinan. Begitu rumit dan pelik urusan ini sampai agama mengaturnya dan Negara pun mengeluarkan undang-undang untuk masalah ini.

Tak bisa dipungkiri, menikah adalah kebutuhan lahir dan batin, disamping merupakan tuntunan agama dan bagian dari adat. Untuk beberapa kalangan, malah menyebutnya bagian dari gaya hidup. Terlepas dari itu semua, kembali kepada makna menikah secara harfiah yaitu pengikatan janji oleh seorang laki-laki dan perempuan (bukan antara laki-laki dan laki-laki atau sebaliknya) untuk hidup bersama dalam bentuk keluarga. Tentunya proses pendasarannya pada aspek-aspek yang ada, semisal; agama, maka tujuan, mekanisme, sampai pelaksanaannya mendasarkan pada aturan-aturan agama terkait dan sebagainya. Dengan begitu menikah tidaklah beda dengan masalah-masalah keseharian kita. Tetapi mengapa banyak orang bingung untuk melewatinya? Sekali lagi adalah sekedar penulis berteori, sehingga maklum jika ada hal-hal yang terlewatkan atau tidak pas antara tulisan dengan prakteknya.

Mari kita berangkat dari asumsi, yang membentuk keyakinan kita terhadap pernikahan. Apabila sebuah asumsi itu dimudahkan maka asumsi tersebut akan mudah diselami, begitu sebaliknya. begitu juga menikah, apabila kita berpikir menikah adalah sebuah hal yang ruwet dan tidak ada kesinambungan didalamnya, maka pastilah kita akan menemui kesulitan ketika akan menikah. Bukankah sebuah permasalahan itu diapit dua kemudahan? Dan mengapa mengambil hal yang sulit ketika akan menikah?

Banyak orang idealis dalam menilai pernikahan, sehingga terjebak dalam nilai, aturan ataupun standar-standar yang dibangunnya sendiri. Mereka kadang lupa/kurang mengukur diri dalam menentukan nilai ideal dalam kontek pribadi masing-masing apalagi mengkomparasikan antara ukuran diri, nilai ideal dan pasangan. Sebuah kepercayaan di jawa dalam memilih pendamping hidup, haruslah dilihat Bibit, Bobot, Bebet. Bibit berarti keturunan atau asal usul, sedang bobot berarti keluarga, lingkungan serta dengan siapa teman-temannya, dan terakhir bobot berarti nilai diri pribadi yang bersangkutan, termasuk didalamnya,  kepribadian, pendidikan dan kepandaian, pekerjaan, gaya hidup dan iman. Kepercayaan tersebut boleh-boleh saja dilakukan, bahkan harus karena bagian dari usaha, tetapi harus diingat pula mengkomparasikan dengan kesadaran diri sehingga sinergis satu sama lain.

Selain itu ada pepatah dan atau sebuah kepercayaan yang mungkin berasumsi positif tentang menikah. Pepatah itu menyatakan bahwasanya kita (laki dan perempuan) diciptakan tidak sempurna, maka untuk mencapai kesempurnaan maka dilakukanlah menikah, sehingga saling melengkapi, saling mengisi dan saling memenuhi segala kekurangan yang ada. Maka ketika menikah, mengapa harus mengambil asumsi menyulitkan kita dikemudian hari atau memilih jalur berputar sampai membingungkan. Bukankah yang menikah itu adalah kita, bukan orang lain? Bukankah masalah yang timbul dari orang lain itu tergantung kita untuk menyelesaikannya? Bukankah dengan menikah kita bisa menyelesaikan masalah bersama-sama? Bukankah asumsi itu kita sendiri yang memilih? Mengapa tidak yang baik saja untuk kita, sehingga kita bisa melewatinya dengan mudah?

Sesuatu yang patut kita renung kembali dalam menata diri menuju masa depan kita nanti. Sebuah hal yang mudah dikatakan dan sulit untuk dilakukan tentunya, bukan? Semoga kita diberi kemudahan dan kelancaran dalam melewatinya.

Ps. This article dedicated to my best friend in Jombang

01.00 am,  April 06. 2008
Pleasantville, NY

1 Comment


Leave a Reply