May 20, 2008...5:55 am

Being single parent? Why not?

Jump to Comments

Fenomena masalah keluarga memang tidak ada habisnya. Mulai dari dulu hingga sekarang masih saja berlanjut, apalagi didukung dengan kekuatan media massa di era teknologi sekarang ini, kita semakin cepat dapat mengakses dan mengikuti perkembangannya seperti yang bisa lihat di koran, majalah bahkan tayangan-tayangan infotainment yang marak di televisi.

Menu-menu infotainment mengekpose dunia selebriti dalam pola tingkah lakunya yang cukup menarik perhatian pemirsa. Maklum selebriti mempunyai asumsi yang begitu apresiatif di benak masyarakat dengan segala kelebihannya dibanding orang biasa sehingga mempunyai nilai jual yang lebih untuk ukuran komersial. Lebih jauh dari itu permasalahan yang diangkat didalamnya adalah sama halnya terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Tindakan kawin-cerai, pisah ranjang, cheating, orang ketiga, poligami dan sebagainya adalah suatu hal yang normal terjadi dalam masyarakat.

Berangkat dari tema diatas, sebenarnya permasalahnnya akan berdampak pada satu hal yaitu keluarga. Padahal dari keluargalah kesemuanya memulai masalah satu persatu. Bagai peribahasa ‘Duluan mana telur sama ayam?’. Pada dasarnya unsur keluarga ada dua yaitu adanya orang tua dan anak sebagai keberlanjutan keturunannya. Dalam artian asal mulanya, orang tua disini berarti ibu dan bapak, tetapi terdapat pergeseran makna seiring perkembangan jaman. Orang tua bearti mereka yang mempunyai hak dan tanggung jawab dalam mengasuh dan menghidupi seorang anak. Dan selanjutnya kita mengenal orang tua asli, asuh, angkat dan sebagainya.

Dalam tatanan masyarakat modern yang sebagian besar dipengaruhi logika, individualistik dan materialistik. Begitu juga kehidupan keluarga juga dibangun tidak lepas dari 3 unsur diatas. Pada akhirnya keluarga berkurang fungsinya sebagai tempat sosialisasi antar anggota keluarga dan juga tempat pendidikan nilai anak. Orang tua dalam dunia modern terlalu sibuk dalam aktivitas karir dan untuk mengurusi kebutuhan anak sebagai gantinya lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga informal lainnya seperti penitipan anak, kindergarden, lembaga kursus dan sebagainya sebagai tujuan tempat sosialisasi nilai dan pematangan karakter anak.

Anak dalam pandangan religius adalah sebagai amanah yang diberikan tuhan kepada kita dan merupakan tanggung jawab orang tua didunia dan diakhirat. Sedangkan dalam pandangan social, anak merupakan bagian dari keluarga kita yang tak terpisahkan dan juga bagian dari kebutuhan kita meneruskan generasi lebih lanjut. Menurut hemat penulis, perkembangan anak sangat ditentukan oleh kultur keluarga yang kita bentuk, lingkungan social dan pendidikan. Keluarga sebagai tempat sosialisasi anak pertama kali dan menempati dominasi dalam perkembangan anak sangatlah vital dituntut peranan orang tua dalam memberikan perhatian dan arahan (penanaman nilai) kepada sang anak. Keluarga (dalam hal ini orang tua )yang gagal dalam memberikan peranannya akan membelokkan anak kepada hal-hal yang negatif dalam perkembangannya, seperti broken home, desperate, narkoba dan sebagainya.

Berbagai dampak negatif tersebut dapat dicegah jika kita sebagai orang tua memberikan prioritas lebih kepada anak. Bagaimana dengan kasus kawin-cerai atau dengan kata lain permasalahan terjadi di orang tua anak, seperti yang lagi marak sekarang ini? Kita sebagai orang tua yang baik sudah selayaknya tidak mencampuradukkan hal ini dengan anak. Dan kalaupun toh, kita akhirnya menjadi single parent (berhak mengasuh anak) dari pasangan kita janganlah dijadikan masalah bagi kita, karena anak adalah rahmah tuhan dan membawa rejeki bagi kita dikemudian hari, dengan catatan; kita sebagai orang tua haruslah memberikan asuhan dan pendidikan yang baik bagi anak.

Jika pada suatu saat kita (single parent) mempunyai masalah dengan keluarga kecil kita, semisal akan memutuskan mencari pasangan baru/menikah lagi sebaiknya hal ini dibicarakan secara mendalam dengan anak kita. Pertimbangan penerimaan calon pasangan baru kita terhadap anak adalah sangat penting untuk perkembangan anak dan keberlanjutan rumah tangga kita. Bukankah menjadi single parent akan lebih baik dari pada mendahulukan kepentingan pribadi kita? Sembari menunggu dan berusaha mencari jodoh selanjutnya yang akan datang kepada kita dan membawa kemaslahatan bagi keluarga kita. Bagaimana pendapat anda?

Wrote at Pleasantville, NY – 22nd April 2008

2 Comments


Leave a Reply