May 20, 2008...5:49 am

SADARdan SABAR (Buah Pikir Renungan)

Jump to Comments

Realitas hidup memang beraneka ragam macamnya, dan hal ini terbentuk dari aktivitas-aktivitas hidup seseorang beserta pemahaman-pemahaman (filosofi) hidupnya. Keterikatan seseorang akan hukum alam menjadikan masyarakat membuat sistem-sistem hidup berupa menjadikan pijakan, control maupun spirit masyarkat itu sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Dan ketika masyarakat menjalankan kesemuanya dalam kehidupan sehari-hari terjadilah realitas-realitas (exist actually) hidup. Senang, susah, menang, kalah, tua, muda, kaya, miskin, sabar, marah, pemimpin, pembantu dan lain sebagainya adalah bagian-bagian dari realitas hidup manusia. Beragkat dari sinilah kemungkinan bahwasanya teori, filosofi ataupun ideology itu berkembang. Untuk mengurangi pelebaran bahasan dan cakupan, dalam artikel ini berusaha menyampaikan ekses-ekses dari realitas kehidupan itu sendiri sebagai bagian dari kehidupan pribadi penulis secara empiris.

Orang hidup memanglah tidak bisa lepas dari masyarakat. Sedangkan masyarakat sendiri adalah kumpulan-kumpulan orang hidup disuatu tempat beserta hasil karyanya (sistem, teknologi, status, ekonomi) membentuk sebuah community. Jadi ada sebuah alur yang tak terpisahkan satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru sekolah akan menerima gaji dari profesinya dan sebagai gantinya ia haruslah berdasarkan kurikulum yang ada, seorang petani pastilah membutuhkan kebutuhan yang lain selain buah atau tanaman yang diproduksinya, maka untuk mencukupi kebutuhannya petani menjual hasil tanamannya untuk mendapatkan kebutuhan yang lain. Begitulah perkembangan-perkembangan sosial seterusnya dan sampailah pada apa yang dinamakan proses ekonomi sosial. Disini individu maupun kelompok dituntut aktif dalam proses ekonomi supaya dapat terpenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Namun demikian dalam prosesnya individu maupun kelompok mengalami keterbatasan-keterbatasan. Sehingga dalam pencapain tujuannya ada yang mengalami keberhasilan, dan juga kegagalan. Sampailah pada kebutuhan manusia akan agama, yang merupakan pijakan ataupun kontrol hidup dalam proses tersebut. Terlepas dengan adanya berbagai macamnya agama beserta ajarannya, penulis menemui beberapa tema agama yang mengajarkan pada umatnya, salah satunya adalah sadar dan sabar.

Sadar (consciousness) dalam wikipedia berarti menunjuk kepada kualitas kompromi dalam melakukan sesuatu, kesadaran diri, perasaan dan kemampuan menerima hubungan antara diri sendiri dengan lingkungan yang ditempati (Consciousness is regarded to comprise qualities such as subjectivity, self-awareness, sentience, and the ability to perceive the relationship between oneself and one’s environment). Sebagai contoh, seorang sopir yang sadar adalah seorang tahu dan paham bahwa dirinya mempunyai pekerjaan mengantar barang atau orang dengan mobil. Ketika si supir lupa ataupun dalam dalam suatu kondisi yang tidak ada kesesuaian antara dia dengan pekerjaannya maka ia dapat dikatakan tidak sadar (unconsciousness). Dalam cakupan lebih luas seseorang yang sadar dapat diartikan mengetahui dan memahami posisi, tanggung jawab, hak dan kewajibannya dalam kehidupan social, diluar itu seseorang dapat diaktakan tidak atau belum sadar.

Dan kemudian yang lain adalah sabar, yang menurut wikipedia juga berarti kemampuan untuk menunggu, menunda atau melakukan provokasi tanpa emosional dus bisa dikatakan juga kegigihan dan ketenangan dalam menghadapi kesulitan (Patience is the ability to endure waiting, delay, or provocation without becoming annoyed or upset, or to persevere calmly when faced with difficulties). Dari sini sangat kentara perbedaan antara sabar dengan pasrah, yaitu ada unsur kegigihan dan ketenangan dalam sabar. Pasrah (give up) merupakan tindakan pasif dalam menyikapi sesuatu dan menerima apa adanya tanpa ada unsur usaha untuk memperbaikinya.

Sadar dan sabar, memanglah dibutuhkan dalam menyikapi dan menghadapi sesuatu. Hal ini tidak lain adalah untuk menghindarkan diri dari tindakan-tindakan emosional yang berujung pada kegagalan suatu usaha. Disinilah arti penting menyikapi proses social, karena itu adalah biasanya bukan kejadian yang serta merta, melainkan membutuhkan waktu dalam menunggu hasilnya. Bagaimana dengan penerapan kehidupan sehari-harinya? Ok, sebagai contoh perbedaan sabar dan pasrah adalah sebagai berikut; seorang pedagang yang sabar, dia akan membuka barang dagangannya dipasar dengan persiapan usaha kreatifnya sedemikian rupa sehingga barang dagangannya menarik perhatian pembeli seperti kebersihan tokonya, memilih dagangan yang bagus untuk display, memberi service yang baik, memberi diskon dan menunggu dengan tenang sampai pembeli datang, sedangkan pedagang yang pasrah adalah pedagang yang hanya menjual barang dagangannya apa adanya, tidak ada usaha apa-apa untuk menjadikan barang dagangannya menarik untuk dibeli. Selain itu sabar juga memiliki korelasi dengan sadar dalam aplikasinya. Seseorang yang sadar biasanya orang yang tahu kondisi riilnya sendiri, dalam arti sadar akan posisinya, tanggung jawabnya dan hak-haknya, adalah relative memiliki jiwa kesabaran, tentu dengan kadar yang berbeda setiap orang. Seorang yang sadar biasanya tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak usaha yang dirintisnya, karena ia percaya dengan kesabaran akan mendapat hasil dari usahanya melalui proses social.

Semoga menjadi masukan yang positif bagi penulis khususnya, dan pembaca (blogger) umumnya dalam menapaki kehidupan nan keras dan tak kenal kompromi ini. Semoga sukses!

PS: artikel diatas hanyalah pendapat pribadi penulis dan tidak dikemukakan analisis ataupun penelitian lebih jauh sebelumnya, maklum tulisan ini dibuat waktu penulis malas keluar rumah, hujan rintik-rintik sepanjang hari senin, 31 Maret 2008, sebagai membuang rasa sepi sendiri dirumah.

Leave a Reply