
Hari itu hari Selasa, 11 maret 2008, kebetulan ada janjian makan malam dengan teman di salah satu Japanese restaurant dikawasan Mohegan lake,New York. Pukul 6.00 malam ku telah siap untuk berangkat keluar. Udara dingin diluar masih saja belum berlalu meski saving daylight time (perubahan jam lebih awal) dimulai sejak hari minggu kemarin. Ini menandakan musim semi segera tiba dan barulah musim panas setelah itu.
Pukul 6.10 malam kusetir mobilku pelan-pelan ketika memasuki Taconic State parkway (salah satu highway dikawasan Weschester County,NY). Maklum banyak polisi state akhir-akhir ini yang berkeliaran menangkap pengemudi yang melewati speed limit dijalan. 20 menit kemudian tibalah disana, teman-temanku sudah menunggu beberapa menit sebelumnya. Singkat cerita, ketika asyik-asyiknya menikmati pesanan makanan jepang berupa sushi, udon dan tempura, tertarik olehku beberapa tamu yang baru dating direstoran tersebut. Terlihat sebuah pasangan setengah baya bule dengan membawa anak “beraneka ragam”. Jumlahnya ketika itu ada 4 anak dari beberapa etnis. Kebetulan mereka duduk bersebelahan dengan aku dan teman-temanku. Kesempatan ini tak kulewatkan untuk menyapa mereka dan ujung-ujungnya menanyakan anak-anak mereka. Mereka ramah dan mereka memperkenalkan anak-anaknya yang kelihatan kesemuanya berusia dibawah 7 tahun. Dua anak mereka ternyata di adopsi dari afrika dan kebetulan mereka kembar laki-laki, satu anak perempuan mungil tampak berwajah oriental berasal dari cina dan satu yang terakhir serta kelihatan paling besar diantara mereka adalah hasil dari perkawinan 6 tahun lalu.
Ketika ku bertanya mereka, mengapa mereka mengadopsi anak? Jawaban mereka simpel sekali. Mereka menjawab semua orang pada dasarnya sama, begitu juga anak tidak harus mereka lahirkan dari perkawinan mereka. Mengadopsi adalah salah satunya cara untuk mendapatkan anak, disamping kita juga bisa membantu kehidupan mereka. Dus, anakpun tergantung pada kita bagaimana mendidiknya. Tidak peduli anak siapapun kalau cara mendidiknya tepat maka anak akan terarah hidupnya. Terpikir olehku ternyata didalam kehidupan sosial yang sekuler dan bebas seperti di amerika seperti ini, masih ada keluarga yang berpandangan beda dan bias dikatakan menentang arus dalam system kekeluargaan di amerika. Tetapi terlepas dari itu, mereka adalah orang-orang berhati mulia, dan seperti merekalah selayaknya kita mencontoh dalam kehidupan bermasyarakat. Tak bisa dipungkiri kebanyakan dari kita terlalu sibuk oleh permasalahan diri kita sendiri dan juga kita masih tidak bisa lepas oleh pemikiran-pemikiran perbedaan seperti ras dan agama. Hal-hal tersebut menjadikan kita sangat egois terhadap orang lain dan simpati serta empati kita terhadap orang lain minim sekali.
Bayangkan ketika mereka memutuskan mengadopsi anak dari keluarga lain, terlepas dari permasalahan keluarga untuk memperoleh anak dari perkawinan, sudah berapa anak yang tertolong masa depannya, karena adopsi biasanya diperoleh dari mereka keluarga yang tidak mampu maupun anak-anak yang tidak mempunyai orang tua lagi. Bayangkan kita, anda dan semua orang-orang yang mampu melakukan hal yang sama, mungkin banyak masa depan anak-anak yang tidak mampu maupun tidak punya siapa-siapa tertolong masa depannya dan mendapatkan kasih saying dari orang tua meski dari orang tua angkat. Bukankah fungsi dan peranan orang tua dengan orang tua angkat adalah sama? Bukankah ini sesuatu hal yang baik bagi kita semua?
Tak terasa makan malam dengan teman-teman lebih banyak ngobrol dengan mereka. Makanan diatas meja sudah habis dan beberapa minuman terlihat tinggal botol saja, sedangkan jus jeruk yang kupesan pun tinggal gelasnya. Akhirnya aku dan teman-teman berpamitan dengan mereka dan menyatakan senang sekali dalam percakapan dengan mereka.
1 Comment
June 11, 2008 at 6:06 am
gw mo share, gw relakan anak gw untuk di adopsi. plz help me….thx