May 19, 2008...2:51 pm

Mencermati Gerakan mahasiswa (Sebuah obrolan)

Jump to Comments

Demonstrasi 1

Beberapa hari yang lalu kusempatkan telepon teman akrabku semasa dibangku kuliah Malang. Sudah lama tidak berjumpa sehingga obrolan-obrolan yang keluar masih terbatas kabar dan dunia gerakan kemahasiswaan sekarang disana. Menarik memang temanku yang satu ini. Gaya bicaranya masih pelan dan tenang namun masih memakai pilihan kata yang memukau jika dicerna. Maklum dia salah satu “penggemar” dunia pemikiran, tassawuf dan “kebatinan”. Sebagai mantan aktivis dan memegang berbagai jabatan politis kampus secara tidak langsung dia mengikuti naik turunnya suasana politis kampus. Apalagi ditambah dengan domisilinya yang masih dekat dengan kampus kesayangan , Universitas Brawijaya, Malang, maka sedikit banyak kontribusi pembelajaran dan pemberdayaan masih terasa di mahasiswa-mahasiswa juniornya.

Pembicaraan yang agak lama melalui sambungan telepon jarak jauh tersebut memang cukup untuk mengenang perjuangan-perjuangan bersama dulu ketika sama-sama mahasiswa. Namun ditengah pembicaraan kutangkap beberapa poin tentang dunia kemahasiswaan disana. Poin pertama, sepertinya dia kecewa tentang pekembangan gerakan tersebut. Dia menyatakan banyak sekali mahasiswa sekarang meninggalkan wacana sebagai bekal idealisme dan lebih enjoy masuk bidang politik praktis kampus, sehingga secara tatanan ideology dan wacana masih dangkal. Ketergiuran mahasiswa-mahsiswa sekarang akan jabatan politis yang nampak wah dihadapan teman-teman mahasiwa beserta fasilitas-fasilitas yang didapatnya dari kampus menjadikan mahasiswa sekarang lebih oportunis dan hipokrit jika menyikapi kebijakan-kebijakan kampus dan membaca realitas dimasyarakat. Poin kedua, banyak pula para mahasiswa yang memilih jalur hura-hura selama kuliah. Jadi dunia kuliahnya tak ubah dunia SMU plus nongkrong, jalan-jalan dan segala kebebasan hedonisme. Mereka ini memiliki tujuan kuliah selama ditunjang fasilitas dari orang tua yang berada entah dari kota maupun desa dan menghanyutkan diri dalam kebiasaan hidup anak muda urban yang syarat dengan bau barat, dari style sampai musik. Setelah lulus mencari lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh perusahaan. Ujung-ujungnya kampus hanya untuk mencari syarat pelengkap mencari pekerjaan. Soal wacana? Jangan ditanya mereka juga fasih dalam menerangkan perkembangan musik, movies, dan tren-tren terbaru mengenai mode dan makanan. Poin ketiga, tentang tren belajar agama mahasiswa. Tak bias dipungkiri, media dakwah yang jitulah yang dapat menarik hati para mahasiswa untuk belajar agama sambil menimba ilmu dikampus. Hal ini adalah bukanlah hal yang buruk dan merupakan hak setiap individu mahasiswa. Tetapi masalahnya jika terdapat ekses-ekses kurang positif dalam mengimplementasikan kehidupan beragama dengan kampus dan masyarakat. Bagaimana cara mengendalikannya? Apalagi paham-paham keagaaman yang kurang toleran dan ekslusif ini sangat massif disebarkan oleh (maaf) kawan-kawan garis keras (militant). Disadari apa tidak, hal ini sangatlah kentara dalam dunia kampus yang idealis dan dinamis. Keberagamaan yang lebih menekankan militansi dan kekakuan dalam penafsiran agama, membuat para mahasiswa ini menjadi kaku dan keras dalam menghadapi persoalan umat. Alih-alih menjadi penyatu dalam nadi-nadi umat dan persoalan hubungan masyarakat, mereka tidak sadar menempatkan diri secara elitis dan tempat yang “suci” diantara lingkungannya seperti mereka melakukan apa yang ada dalam kandungan agama. Ini terlihat ketika mereka membentuk lembaga kajian-kajian yang mengkhususkan diri untuk golongannya saja dan bangga mematerialkan symbol-simbol agama seperti model pakaian, cara penampilan dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Diakui memang kerja dakwah mereka sangat keras, sehingga mampu menarik perhatian para mahasiswa paham keagaamanya kurang tapi haus akan ilmu agama. Inilah salah satu sasaran utama mereka, yang secara umum mereka ini dalam media pembelajaran agamanya terbatas dibangku sekolah dan kurang tersentuhnya dunia pesantren dalam pembentukan jiwa keagamaan. Tak ayal jika mereka hanya memiliki fikih-fikih agama yang hanya didapat dari kajian-kajian kampus atau halaqoh sejenisnya yang sudah dimasuki nuansa agama hitam dan putih. Kalau tidak hitam ya putih, kalau tidak mereka ya salah atau kurang valid agamanya. Dan kesemuanya itu ujung-ujung masih sama yaitu berlari ke dunia politik sebagai salah satu cara terampuh untuk berkuasa sehingga dengan mudah membangun pengaruh dan wacana di kampus, terlepas dari fasilitas-fasilitas yang ada. Tetapi biasanya untuk mahasiswa yang mempunyai basic keilmuan agama yang kuat sebelum masuk dunia kampus tidak banyak yang tertarik dengan model-model seperti itu. Biasanya mereka kalaupun berafiliasi dengan gerakan, lebih senang masuk dalam wadah kemahasiswaan seperti PMII, HMI, GMNI atau lembaga-lembaga independent yang sifatnya advokasi, keilmuan maupun pemberdayaan yang jelas.

Akhirnya temanku satu ini menjelaskan kegamangannya tentang peranan mahasiswa sekarang dalam mempelopori dinamisasi dan mengiring jalannya reformasi. Salah satu buktinya kurangnya kepekaan dan tidak bersatunya perjuangan mahasiswa dalam menyikapi otonomi kampus, sehingga kini di malang khususnya dan didaerah umumnya, banyak kampus-kampus yang dijadikan ajang bisnis para birokrat kampus dan minimnya hasil yang dirasakan oleh mahasiswa secara keseluruhan, malah biaya pendidikan kampus menjadi kian mahal. Selain itu kurangnya mahasiswa yang menyuarakan dampak lingkungan sebagai akibat globalisasi dan kompetisi bisnis, sehingga banyak bangunan bisnis yang tidak memperhatikan tata kota dan mematikan penghasilan ekonomi lemah disekitarnya serta AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) yang jelek.

Mungkin seharusnya gerakan kemahasiswaan harus ditata ulang dan dirumuskan kembali secara bersama. Selain itu kurikulum yang bukan hanya sesuai dengan market saja yang diperhatikan tetapi juga realitas masyarakat yang tidak lepas dari kultur, ekonomi, dan karakteristik social yang mana tidak bias lepas dari masyarakat itu sendiri. Sehingga mahasiswa tidak tebuai oleh pengaruh-pengaruh budaya kapitalistik yang mana pasar memegang peranan utamanya. Dan tidak melulu concern pada politik – politik praktis yang pragmatis dimana inilah biang dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Terakhir, hubungan masyarakat akan terjalin secara baik jika didalamnya didasari ukhwah yang saling mengikat antara individu dengan individu, antar golongan dan unsur-unsur kemasyarakatan lainya sehingga ketenteraman dan keharmonisan terjaga. Bukan disekat oleh paham-paham keagamaan yang tidak toleran dan ekslusif.

Pleasantville, NY. 2.37 am. Jan 30, 2008.

1 Comment

  • Temanmu siapa gung?
    Btw, aq sepakat ama dy. Q jg sedih klu liat para mahasiswa itu yg sok idealis, tp sebenarnya mereka kurang paham dg apa yg diteriakkan.
    Apa ini karena teknologi yg smakin canggih? Dmn smua bs di dpat dg mudah??


Leave a Reply