Menjadi orang sukses adalah dambaan setiap orang. Sayangnya, kini lebih dominan jika diwujudkan dengan ukuran materi yang dimiliki seseorang. Akhirnya banyaklah orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi kaya dengan berbagai caranya masing-masing. Apalagi urusan menjadi kaya dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dapat menjadi bagian yang menyatu sama lain. Dengan kata lain jika kaya maka kebutuhan akan tercukupi, begitu juga sebaliknya. Dalam istilah ilmu ekonomi pedagang kaki lima, kaya adalah situasi dimana kita mempunyai persediaan uang yang berbanding lebih dengan kebutuhan yang ada. Untuk selanjutnya uang adalah kata kuncinya untuk mencapai kemakmuran
Ada yang berhasil, ada yang tidak dalam kompetisi adalah hal yang biasa, yang penting kerja, kerja dan kerja terus pantang mundur untuk mencukupi kebutuhan. Tidak heran jika seorang orang tua umumnya akan menanyakan calon menantunya dengan pertanyaan sudah bekerja dimana Mas? Sudah tahukan maksudnya? Akan tetapi, dibalik itu semua, jika kita kerja terus tanpa perhitungan yang matang dan kreatif, maka kerja akan sebanding dengan uang (gaji) yang kita terima.
Permasalahannya yang ada, biasanya tingkat kebutuhan akan selalu meningkat seiring dengan kemampuan kerja seseorang. Dulu seseorang akan cukup dengan naik metromini jika bepergian, tetapi setelah kenaikan pangkat rasanya naik motor akan lebih baik dan seterusnya. Apalagi jika melibatkan keadaan yang lebih lebar lagi, seperti kebutuhan anak-anak yang semakin besar, rekreasi, pensiun, amal dan sebagainya. Malah mungkin saja yang terjadi akan selalu timpang antara kebutuhan dan kemampuan finansial yang ada.
Jalan keluarnya adalah dengan melakukan investasi. Selain bekerja seperti biasanya, haruslah menyisihkan sebagian hartanya untuk investasi dengan harapan dimasa depan akan mendapat imbal hasilnya. Kalaupun nantinya porsi investasi banyak dan menghasilkan lebih dari cukup, toh akhirnya mungkin orang tersebut malah tidak usah bekerja dengan kekayaan melimpah.
Berdasarkan pengertiannya dari media online, Investment (investasi) is a term with several closely-related meanings in business management, finance and economics, related to saving or deferring consumption. Disini berarti investasi lebih pada kegiatan menunda pemenuhan kebutuhan (menabung) secara ekonomis dan sangat berbeda dengan konsumsi (pembelanjaan). Permasalahannya, investasi apa yang memberikan imbal hasil yang menarik? Bagaimana parameter invetasi itu menarik atau tidak? Berikut dibawah penjelasan lebih lanjut beserta ilustrasinya untuk mempermudah pemahaman.
Anda tidak harus menjadi pakar ekonomi atau keuangan untuk menjadi orang kaya. Banyak orang kaya yang kurang pendidikan atau mempunyai kemampuan pas-pasan. Akan tetapi sekarang ini, parameter-parameter ekonomi sekarang dapat diperoleh dengan mudah untuk pembanding sebelum membuat keputusan. Contohnya informasi bunga deposito bank yang ada yang biasanya selalu diatas bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jika ada memulai sebuah usaha atau investasi bandingkan dengan bunga diatas, mana yang lebih menguntungkan.
Beberapa waktu lalu pemerintah dalam usaha menutupi deficit anggaran mengeluarkan surat utang seperti obligasi, SUN dan sukuk adalah dapat dijadikan alternative karena semua surat utang diatas memberikan yield diatas bunga SBI. Kedepan, dengan memperhatikan kondisi ekonomi dan keuangan negara, kesempatan itu masih ada. Disamping itu resiko (gagal bayar) untuk investasi dengan pemerintah adalah kecil. Inilah kelebihannya. Mengenai resiko akan dijabarkan lebih lanjut.
Parameter ekonomi yang lain adalah inflasi. Inflasi pengertian singkatnya adalah dimana kondisi atau nilai uang kita yang kita mempunyai sekarang akan menurun disbanding di masa datang. Contohnya, uang Rp 100 ribu sekarang ini karena pengaruh inflasi, nilainya akan tidak sama (menurun) beberapa waktu di depan. Berkebalikan dengan deflasi, akan tetapi penggunaannya tidak sesering inflasi. Beda lagi dengan ilustrasi ekonomnya yaitu jika anda hari ini membawa segenggam uang ke pasar akan mendapatkan satu truk barang, karena pengaruh inflasi, jika anda membawa satu truk berisi uang ke pasar akan mendapatkan segenggam barang.
Disini, jika misalnya inflasi sekarang ini adalah 7% pertahun maka sebisa mungkin investasi kita harus diatasnya. Jika tidak, sama saja asset (uang) kita akan tergerus nilainya. Inflasi diukur secara berkala, tapi lazimnya perhitungan kumulatif selama setahun digunakan dengan alasan efektifitas. Besaran nilainya jika berubah-ubah bergantung pada kondisi perekonomian secara agregat.
Selanjutnya, parameter yang diperhatikan sebelum berinvetasi adalah resiko yang melekat pada investasi tersebut. Resiko biasanya berbanding positif dengan return investasi. Semakin tinggi tingkat resiko (gagal/rugi) maka semakin tinggi pula imbal hasilnya. Tidak menutup kemungkinan ada juga tapi jarang bentuk investasi yang resikonya relatif kecil tetapi sangat menguntungkan. Beruntung sekali jika mendapatkannya.
Untuk itu pakar investasi menganjurkan don’t put all your eggs on one basket. Tujuannya adalah menyebar resiko yang ada, ketika salah satu investasi kita mengalami kerugian dapat dibacked up dengan investasi lainnya. Beda lagi jika pakar investasi tersebut jika melakukan investasi sendiri. Anjuran diatas mungkin tidak dilakukannya, karena kelemahan-kelemahannya, antara lain tidak maksimalnya keuntungan yang didapatkan dan kekurang-efektifannya. Bagi mereka, investasi akan mendapatkan keuntungan maksimal jika kita tahu betul investasi yang kita tanamkan. Persoalan kurang efektif tidak lain karena pengetahuan kita sendiri dan concerning yang banyak akan menyita banyak waktu. Terserah anda apakah anda termasuk pakar atau tidak? Kembali lagi pada perilaku investasi kita sendiri.
Waktu adalah parameter berikutnya. Kadang orang bilang hoki jika menjadi kaya. Tetapi terlepas dari nasib, perhitungan waktu yang tepatlah yang mendatangkan berkah kepada kita. Invest on the right time dan on the right place.
Kita seyogyanya mempunyai gairah untuk hidup 1000 tahun lagi jika berpikir tentang investasi. Dengan rentang masa hidup yang lama, tentunya kita tidak ingin terlunta-lunta dalam hidup. Dengan persiapan yang matang dan rencana yang sistematis tentang kondisi financial kita akan lebih baik. Akan berbeda jika kita berleha-leha sambil menunggu nasib baik menjemput kita.
Ada masanya kita mempunyai uang lebih juga ada masanya kita butuh lebih. Ketika kita mendapat rejeki ada baiknya ditabung (investasi) dan pada akhirnya dapat menutupi kebutuhan di kemudian hari diwaktu kekurangan. Selain itu investasi juga membutuhkan kesabaran, tidak bisa serta merta seperti orang berspekulasi membeli lottery.
Terakhir adalah alokasi investasi. Seperti diungkap anjuran pakar investasi diatas adalah bagian dari alokasi yang berhubungan dengan resikonya. Dengan alokasi yang tepat dan cermat kita juga dapat memberikan keleluasaan kita untuk tidak terlalu disibukkan atau dihantui perasaan rugi. Ini berarti tidak menutup kemungkinan untuk mengenal jenis-jenis investasi yang ada.
Secara umum investasi dibedakan menjadi investasi keuangan dan riil. Boleh juga jika ada yang menambahkan investasi pendidikan, jabatan, jasa, anak, budi baik dan sebagainya. Disini, hanya akan diulas apa-apa saja jenis produk-produk investasi di keuangan dan riil saja.
Di sektor keuangan, kita bisa mengenal saham, reksadana, deposito, surat utang, obligasi, sukuk, unit link, asuransi, arisan dan sebagainya yang berhubungan dengan nilai uang secara langsung (non tangible).
Pada masa sekarang tren berinvestasi kedalam unit link ada baiknya untuk dicermati. Unit link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Disatu sisi kita dapat berjaga-jaga dalam kebutuhan asuransi, juga diwaktu bersamaan melakukan investasi. Macam unit link ini terdapat banyak macamnya. Oleh karenanya jika memutuskan untuk ikut sesuaikan dulu dengan kebutuhan kita, pengelolaannya, biaya-biaya dan perusahaan yang menaunginya.
Lain lagi dengan dengan tren reksadana yang marak akhir-akhir ini. Reksadana adalah salah satu instrumen investasi dimana pola pengelolaan dana/modal dari pengumpulan investor untuk berinvestasi kedalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana tersebut akan dikelola dari oleh manajer investasi dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.
Tentang jenis-jenisnya reksadana terbagi yaitu reksadana pendapatan tetap, saham, campuran dan pasar uang. Kesemuanya dengan dengan karakteristik yang berbeda baik return maupun resikonya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli reksa dana adalah kebutuhan kita, besarnya nominal investasi, profil manajer investasi (perusahaan), fees, mekanisme administrasi maupun karakteristik alokasi (diversifikasi), transparansi informasi dan likuiditasnya.
Jenis investasi selain keuangan adalah investasi riil. Ini berbeda dengan yang pertama diatas. Investasi riil lebih mudahnya diartikan dengan jenis investasi kepada sesuatu yang berwujud (material). Dari segi historisnya, jenis investasi ini lebih dahulu daripada jenis keuangan. Bentuk-bentuknya antara lain property (rumah, tanah, kos-kosan, apartemen, ruko), pertanian (sawah, kebun, kolam), perusahaan (produksi, jasa) dan masih banyak lagi.
Prospek investasi ini biasanya bergantung pada pasar, waktu, geografis, trend dan keadaan ekonomi sekitar. Contohnya, investasi dibidang transportasi akan mempunyai prospek lebih jika didirikan di perkotaan, bisnis kos-kosan akan menguntungkan jika berada dekat pabrik atau kampus.
Karakteristik lainnya, investasi riil lebih tahan dari krisis ekonomi dari pada investasi keuangan. Hal ini tidak lain karena investasi riil mempunyai pasar (konsumen) nyata yang merupakan urat nadi perkembangannya. Tidak berlebihan jika dalam perekonomian nasional selama krisis berlangsung, investasi (ekonomi) riil menjadi tulang punggung selama pemulihannya. Dus, Konsumen yang nyata pula menjadikannya lebih adaptif dari konjungtur dan terhadap ekspektasi pasar yang ada.
Terlepas dari perbedaan dan untung rugi dari jenis investasi keuangan dan riil diatas akan tentunya keduanya mempunyai resiko yang tidak dapat dihindari. Akhirnya kembali lagi kepada si calon investor dalam melihat peluang-peluang yang mendatangkan keuntungan baginya atau tidak?
Selamat berinvestasi. Semoga bermanfaat.
