September 25, 2009

Investasi

Menjadi orang sukses adalah dambaan setiap orang. Sayangnya,  kini lebih dominan jika diwujudkan dengan ukuran materi yang dimiliki seseorang. Akhirnya banyaklah orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi kaya dengan berbagai caranya masing-masing. Apalagi urusan menjadi kaya dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dapat menjadi bagian yang menyatu sama lain. Dengan kata lain jika kaya maka kebutuhan akan tercukupi, begitu juga sebaliknya. Dalam istilah ilmu ekonomi pedagang kaki lima, kaya adalah situasi dimana kita mempunyai persediaan uang yang berbanding lebih dengan kebutuhan yang ada. Untuk selanjutnya uang adalah kata kuncinya untuk mencapai kemakmuran

Ada yang berhasil, ada yang tidak dalam kompetisi  adalah hal yang biasa, yang penting kerja, kerja dan kerja terus pantang mundur untuk mencukupi kebutuhan. Tidak heran jika seorang orang tua umumnya akan menanyakan calon menantunya dengan pertanyaan sudah bekerja dimana Mas?   Sudah tahukan maksudnya? Akan tetapi, dibalik itu semua, jika kita kerja terus tanpa perhitungan yang matang dan kreatif, maka kerja akan sebanding dengan uang (gaji) yang kita terima.

Permasalahannya yang ada, biasanya tingkat kebutuhan akan selalu meningkat seiring dengan kemampuan kerja seseorang. Dulu seseorang akan cukup dengan naik metromini jika bepergian, tetapi setelah kenaikan pangkat rasanya naik motor akan lebih baik dan seterusnya. Apalagi jika melibatkan keadaan yang lebih lebar lagi, seperti kebutuhan anak-anak yang semakin besar, rekreasi, pensiun, amal dan sebagainya. Malah mungkin saja yang terjadi akan selalu timpang antara kebutuhan dan kemampuan finansial yang ada.

Jalan keluarnya adalah dengan melakukan investasi. Selain bekerja seperti biasanya, haruslah menyisihkan sebagian hartanya untuk investasi dengan harapan dimasa depan akan mendapat imbal hasilnya. Kalaupun nantinya porsi investasi banyak dan menghasilkan lebih dari cukup, toh akhirnya mungkin orang tersebut malah tidak usah bekerja dengan kekayaan melimpah.

Berdasarkan pengertiannya dari media online, Investment (investasi) is a term with several closely-related meanings in business management, finance and economics, related to saving or deferring consumption. Disini berarti  investasi lebih pada kegiatan menunda pemenuhan kebutuhan (menabung) secara ekonomis dan sangat berbeda dengan konsumsi (pembelanjaan). Permasalahannya, investasi apa yang memberikan imbal hasil yang menarik? Bagaimana parameter invetasi itu menarik atau tidak? Berikut dibawah penjelasan lebih lanjut beserta ilustrasinya untuk mempermudah pemahaman.

Anda tidak harus menjadi pakar ekonomi atau keuangan untuk menjadi orang kaya. Banyak orang kaya yang kurang pendidikan atau mempunyai kemampuan pas-pasan. Akan tetapi sekarang ini, parameter-parameter ekonomi sekarang dapat diperoleh dengan mudah untuk pembanding sebelum membuat keputusan. Contohnya informasi bunga deposito bank yang ada yang biasanya selalu diatas bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jika ada memulai sebuah usaha atau investasi bandingkan dengan bunga diatas, mana yang lebih menguntungkan.

Beberapa waktu lalu pemerintah dalam usaha menutupi deficit anggaran mengeluarkan surat utang seperti obligasi, SUN dan sukuk adalah dapat dijadikan alternative karena semua surat utang diatas memberikan yield diatas bunga SBI. Kedepan, dengan memperhatikan kondisi ekonomi dan keuangan negara, kesempatan itu masih ada.  Disamping itu resiko (gagal bayar) untuk investasi dengan pemerintah adalah kecil. Inilah kelebihannya. Mengenai resiko akan dijabarkan lebih lanjut.

Parameter ekonomi yang lain adalah inflasi. Inflasi pengertian singkatnya adalah  dimana kondisi atau nilai uang kita yang kita mempunyai   sekarang akan menurun disbanding di masa datang. Contohnya, uang Rp 100 ribu sekarang ini karena pengaruh inflasi, nilainya akan tidak sama (menurun) beberapa waktu di depan. Berkebalikan dengan deflasi, akan tetapi penggunaannya tidak sesering inflasi. Beda lagi dengan ilustrasi ekonomnya yaitu jika anda hari ini membawa segenggam uang ke pasar akan mendapatkan satu truk barang, karena pengaruh inflasi, jika anda membawa satu truk berisi uang ke pasar akan mendapatkan segenggam barang.

Disini, jika misalnya inflasi sekarang ini adalah 7% pertahun maka sebisa mungkin investasi kita harus diatasnya. Jika tidak, sama saja asset (uang) kita akan tergerus nilainya. Inflasi diukur secara berkala, tapi lazimnya perhitungan kumulatif selama setahun digunakan dengan alasan efektifitas. Besaran nilainya jika berubah-ubah bergantung pada kondisi perekonomian secara agregat.

Selanjutnya, parameter yang diperhatikan sebelum berinvetasi adalah resiko yang melekat pada investasi tersebut.  Resiko biasanya berbanding positif dengan return investasi. Semakin tinggi tingkat resiko (gagal/rugi) maka semakin tinggi pula imbal hasilnya. Tidak menutup kemungkinan ada juga tapi jarang  bentuk investasi yang resikonya relatif kecil  tetapi sangat menguntungkan. Beruntung sekali jika mendapatkannya.

Untuk itu pakar investasi menganjurkan don’t put all your eggs on  one basket. Tujuannya adalah menyebar resiko yang ada, ketika salah satu  investasi kita  mengalami kerugian dapat dibacked up dengan investasi lainnya. Beda lagi jika pakar investasi tersebut jika melakukan investasi sendiri. Anjuran diatas mungkin tidak dilakukannya, karena kelemahan-kelemahannya, antara lain tidak maksimalnya keuntungan yang didapatkan dan kekurang-efektifannya. Bagi mereka, investasi akan mendapatkan keuntungan maksimal jika kita tahu betul investasi yang kita tanamkan. Persoalan kurang efektif tidak lain karena pengetahuan kita sendiri dan concerning yang banyak akan menyita banyak waktu. Terserah anda apakah anda termasuk pakar atau tidak? Kembali lagi pada perilaku investasi kita sendiri.

Waktu adalah parameter berikutnya. Kadang orang bilang hoki jika menjadi kaya. Tetapi terlepas dari nasib, perhitungan waktu yang tepatlah yang mendatangkan berkah kepada kita. Invest on the right time dan on the right place.

Kita seyogyanya mempunyai gairah untuk hidup 1000 tahun lagi jika berpikir tentang investasi. Dengan rentang masa hidup yang lama, tentunya kita tidak ingin terlunta-lunta dalam hidup. Dengan persiapan yang matang dan rencana yang sistematis tentang kondisi financial kita akan lebih baik. Akan berbeda jika kita berleha-leha sambil menunggu nasib baik menjemput kita.

Ada masanya kita mempunyai uang lebih juga ada masanya kita butuh lebih. Ketika kita mendapat rejeki ada baiknya ditabung (investasi) dan pada akhirnya dapat menutupi kebutuhan di kemudian hari diwaktu kekurangan. Selain itu investasi juga membutuhkan kesabaran, tidak bisa serta merta seperti orang berspekulasi membeli lottery.

Terakhir adalah alokasi investasi. Seperti diungkap anjuran pakar investasi diatas adalah bagian dari alokasi yang berhubungan dengan resikonya. Dengan alokasi yang tepat dan cermat kita juga dapat memberikan keleluasaan kita untuk tidak terlalu disibukkan atau dihantui perasaan rugi. Ini berarti tidak menutup kemungkinan untuk mengenal jenis-jenis investasi yang ada.

Secara umum investasi dibedakan menjadi investasi keuangan dan riil. Boleh juga jika ada yang menambahkan investasi pendidikan, jabatan, jasa, anak,  budi baik dan sebagainya. Disini, hanya akan diulas apa-apa saja jenis produk-produk investasi di keuangan dan riil saja.

Di sektor keuangan, kita bisa mengenal saham, reksadana, deposito, surat utang, obligasi, sukuk, unit link, asuransi, arisan dan sebagainya yang berhubungan dengan nilai uang secara langsung (non tangible).

Pada masa sekarang tren berinvestasi kedalam unit link ada baiknya untuk dicermati. Unit link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Disatu sisi kita dapat berjaga-jaga dalam kebutuhan asuransi, juga diwaktu bersamaan melakukan investasi. Macam unit link ini terdapat banyak macamnya. Oleh karenanya jika memutuskan untuk ikut sesuaikan dulu dengan kebutuhan kita, pengelolaannya, biaya-biaya dan perusahaan yang menaunginya.

Lain lagi dengan dengan tren reksadana yang marak akhir-akhir ini. Reksadana adalah salah satu instrumen investasi dimana  pola pengelolaan dana/modal dari pengumpulan investor untuk berinvestasi kedalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana tersebut akan dikelola dari oleh manajer investasi dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.

Tentang jenis-jenisnya reksadana terbagi yaitu reksadana pendapatan tetap, saham, campuran dan pasar uang. Kesemuanya dengan dengan karakteristik yang berbeda baik return maupun resikonya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli reksa dana adalah kebutuhan kita, besarnya nominal investasi, profil manajer investasi (perusahaan), fees, mekanisme administrasi maupun karakteristik alokasi  (diversifikasi), transparansi informasi dan likuiditasnya.

Jenis investasi selain keuangan adalah investasi riil. Ini berbeda dengan yang pertama diatas. Investasi riil lebih mudahnya diartikan dengan jenis investasi kepada sesuatu yang berwujud (material). Dari segi historisnya, jenis investasi ini lebih dahulu daripada jenis keuangan. Bentuk-bentuknya antara lain property (rumah, tanah, kos-kosan, apartemen, ruko), pertanian (sawah, kebun, kolam), perusahaan (produksi, jasa) dan masih banyak lagi.

Prospek investasi ini biasanya bergantung pada pasar, waktu, geografis, trend dan keadaan ekonomi sekitar. Contohnya, investasi dibidang transportasi akan mempunyai  prospek lebih jika didirikan di perkotaan, bisnis kos-kosan akan menguntungkan jika berada dekat pabrik atau kampus.

Karakteristik lainnya, investasi riil lebih tahan dari krisis ekonomi dari pada investasi keuangan. Hal ini tidak lain karena investasi riil mempunyai pasar (konsumen) nyata yang merupakan urat nadi perkembangannya. Tidak berlebihan jika dalam perekonomian nasional selama krisis berlangsung, investasi (ekonomi) riil menjadi tulang punggung selama pemulihannya. Dus, Konsumen yang nyata pula menjadikannya  lebih adaptif dari konjungtur dan terhadap ekspektasi  pasar yang ada.

Terlepas dari perbedaan dan untung rugi dari jenis investasi keuangan dan riil diatas akan tentunya keduanya mempunyai resiko yang tidak dapat dihindari. Akhirnya kembali lagi kepada si  calon investor dalam melihat peluang-peluang yang mendatangkan keuntungan baginya atau tidak?

Selamat berinvestasi. Semoga bermanfaat.

June 26, 2009

Starbucks dan warung kopi pak Sabran

Taken from flickr

Di Amerika memang tidak ada warung kopi ala pak Sabran, warung ketan kopi yang melegenda di dekat rumah saya sewaktu kecil. Warung tersebut tidaklah besar dan luas, akan tetapimempunyai keunikan dibanding warung-warung malam disekitar. Selain lama  jam operasional buka juga menu makanan yang disediakan berbeda antara pagi, siang dan malam. Tidak heran jika menjadi jujugan orang-orang yang kelaparan khususnya dimalam hari.
Salah satu menu favorit adalah kopi panas dengan ketan hangatnya. Dengan seduhan air panas di campur kopi goreng asli lokal menjadikan aroma yang semerbak sewaktu dihidangkan. Sedang ketannya di labur dengan bubuk kacang menambah kenikmatan dirasa.
Itu cerita jaman dulu, kini tidak tahu lagi bagaimana kelanjutannya. Apalagi jaman sudah berubah demkian pesat. Banyak bisnis-bisnis serupa bukan saja merambah di perkotaan saja tetapi juga di pedesaan serasa tidak ada bedanya. Persaingan bisnis yang semakin kompetitif di segala lini, memaksa pelaku usaha untuk berkreativitas dan mengembangkan ide-ide yang lebih baik.

Kalau dulu, orang berjualan sederhana saja, tinggal menaruh barang di meja atau digantung dalam sebuah geledak toko, tinggal menunggu konsumen datang untuk membeli. Sekarang berjualan konvensional tersebut mungkin akan ditinggal oleh penjual maupun pembeli. Seperti  kasus warung kopi Pak Sabran diatas, yang hanya mengandalkan kebutuhan makan konsumen dan kurang mengindahkan lokasi, modifikasi serta elemen manajemen lainya. Dan, bandingkan dengan kualitas café-café maupun restoran masa kini.

Budaya konsumerisme dalam kehidupan kita menuntut hal yang demikian. Semakin banyak persaingan, semakin banyak pilihan. Akhirnya, semakin banyak yang jatuh, juga yang bangun. Begitulah kira-kira menurut asumsi pasar bebas.

Era globalisasi sudah mulai terasa di kampung-kampung tempat tinggal kita dibesarkan. Ini bukan berarti tidak baik, dan kita tidak boleh antipati terhadapnya. Segi positif dan negatifnya selalu ada, tergantung kita cenderung ke arah mana. Tidak ada bedanya dengan globalisasi, yang berarti peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia diseluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer dan bentuk interaksi-interaksi lainnya sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. (wikipedia; globalisasi)

Sering pula dapat dikatakan dengan universalisasi, dimana kita mempunyai kesamaan sikap dan selera satu sama lain. Suatu yang unik kalau melihat fenomena bertebarannya aneka globalisasi dibidang ekonomi dengan bertebarannya perusahaan multinasional  di nusantara kita seperti Shell, Mc Donald, Carrefour, Starbucks Coffe dan lain sebagainya di belantara nasional kita. Ironinya, alih-alih kita menyadari dengan bijak, terkalahkan dengan budaya hedonis dan konsumerisme yang masuk dalam keseharian. Begitu juga dengan para pejabat negara yang masih terlihat lebih memihak pada  asing demi kepentingan pragmatis ekonomisnya, daripada memberikan perlindungan pada ekonomi lokal dan potensi-potensi dalam negeri.

Kembali kepada cerita warung kopi, saya mempunyai pengalaman menarik dimana seorang teman dengan bangga mengatakan kalau suka hang out dan minum kopi di Starbucks Coffe. Aroma dan rasa kopinya terasa beda dengan kopi yang lain. Tidak heran jika ia rela merogoh koceknya lebih daripada membeli kopi di warung kaki lima. Padahal kalau mau jujur, banyak juga kopi-kopi yang merupakan produk lokal Indonesia yang dibuat di Starbucks. Kalau sudah begitu, rasanya tidak ada yang beda dengan semuanya, kecuali budaya, brandednya dan kemasannya.

Berbeda dengan orang amerika, mereka pergi ke Starbucks Coffe karena disana kurang adanya  kedai kopi yang rasanya memadai. Kopi sekedar untuk mengopi, di starbucks menawarkan rasa, makanya orang-orang sana memilihnya. Bagaimana dengan kita? Akankah lebih mengutamakan gengsi dan pamornya? Ataukah lebih baik ikut andil dalam melestarikan budaya dan ekonomi lokal kita? Saya pikir masih banyak diantara kita yang salah persepsi dalam memandang globalisasi? Mungkin karena definisinya sendiri yang masih berubah bentuk bergantung cara memandangnya. Semoga masih banyak warung-warung kopi Pak Sabran yang menawarkan rasa dan diminati oleh orang banyak.

11.36 EST. June 25, 2009

Pleasanville, NY

June 25, 2009

Catatan singkat; Kepala Daerah dan Pembangunan Daerah

Kepala Daerah (KD) adalah sebuah jabatan eksekutif ditingkatan daerah, adalah tidak beda dengan pejabat negara lainnya maupun presiden yang mempunyai garis-garis besar dalam bekerjanya maupun hubungan antar lembaga. Hal tersebut untuk menjaga tidak tumpang tindihnya birokrasi dalam pemerintahan yang mengakibatkan inefisiensi implementatif. Singkatnya, hal ini membantunya dalam menjalankan pemerintahan yang syarat dengan elemen hukum dan politik.

Demikian juga pengertiannya dalam hukum-hukum yang mempunyai tingkat diatasnya. Kelanjutan, pengembangan dan kreativitas terhadap penerjemahanlah yang diperlukan, dan bukan merubah serta menabraknya. Fenomena itu bukan satu dua kali terjadi, jika suatu daerah mempunyai peraturan-peraturan daerah yang bertentangan  dengan undang-undang sehingga dibatalkan akhirnya. Sia-sia jadinya, karena pada dasarnya daerah merupakan bagian dari kekuasaan pemerintah pusat. Ketertiban produk-produk hukum adalah wajib ditaati oleh semua daerah tanpa terkecuali. Begitulah, Indonesia yang menganut negara kesatuan.

Selanjutnya Kepala Daerah (KD) haruslah seorang yang mempunyai visi dan misi yang jelas yang terutama dalam kepemimpinan daerahnya. Selain itu tidakkah lebih baik jika seorang kepala daerah yang amanah, dalam arti mampu memujudkan apa yang dijanjikan selama kampanye? Disini stategi-strategi pembangunan yang efektif diperlukan guna  menjaga kestabilan serta kelancaran dalam merealisasikannya, bukan kalkulasi dukungan politik semata.

Strategi efektif memaksimalkan kinerja

Secara pribadi, kesemuanya berpusat pada satu inti yaitu kinerja. Sebuah janji, tujuan ataupun cita-cita pasti akan terletak pada proses kinerja bagaimana mencapainya. Demikian juga dengan seorang KD, akan semakin bermanfaat bagi masyarakat daerahnya  jika mengandalkan kinerja-kinerja  yang kongkrit. Apalagi dalam era otonomi daerah sekarang ini yang memberikan keleluasaan yang lebih pada daerah sehingga dapat dikatakan awal yang baik dalam pengembangan dan pembangunan.

Untuk kelanjutannya agar kebijakan pemerintah daerah sinkron dengan kenyataan dilapangan serta berguna untuk memberikan poin-poin determinasi maupun kolaborasi target-target pembangunan, sebaiknya dilakukan upaya-upaya dasar seperti penyerapan aspirasi masyarakat, pemetaan geografis daerah, pemahaman kondisi sosial budaya maskarakat lokal serta pemahaman ekonomi lokal. Secara empiris, hasil-hasil tersebut diatas berbeda satu sama lain setiap daerah.  Untuk itulah dapat kita simpulkan bahwa setiap daerah memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda yang tentunya menuntut perlakuan berbeda pula. KD haruslah benar-benar mengerti akan daerahnya. Bukan sekedar figur terkenal, tokoh maupun emosi putra daerah belaka.

Selanjutnya dibawah ini filing aspek-aspek dalam suatu daerah sebagai berikut;

  1. a. Aspek ekonomi

Gerak ekonomi adalah salah satu yang terpenting dalam suatu daerah. Perkembangannya juga tidak lepas dari  geologis ekonomis dan historis masyarakat setempat, sehingga hal ini memungkinkan perbedaan karakteristik perekonomian satu daerah dengan yang lain. misalnya daerah A yang tanahnya subuh untuk pertanian maka mayoritas penduduknya bergerak dibidang pertanian. Berbeda dengan daerah B yang dekat dengan pantai dan tanah yang kurang subur sehingga tidak cocok untuk lahan pertanian, maka dari itu penduduknya lebih banyak yang bekerja dibidang perikanan dan pariwisata.

Dari ilustrasi diatas, salah satu strategi untuk menyiasati  dalam hubungannya dengan  pengembangan ekonomi  adalah memakai konsep keunggulan komparatif, yaitu pembangunan dengan mengembangkan keunggulan ekonomis setempat, dimana tidak terdapat ditempat lain. Pola ini memungkinkan untuk membentuk identitas dan meningkatkan daya saing tersendiri satu sama lain antar daerah. Hal tersebut dengan membawa dampak positif dalam pembangunan nasional karena akan banyak terbantu dalam menentukan kebijakan dan efisiensi. India dengan keunggulan komparatifnya dibidang teknologi informasi dan Cina yang memilikinya dalam produksi manufakturnya adalah contohnya  serta mampu mengangkat perekonomian nasional mereka secara signifikan.

Selain itu, tugas pemerintah daerahlah yang memberikan tatanan pijakan dan dukungan yang penuh pada kewirausahaan dan kegiatan ekonomi lainnya. Secara lebih nyata dalam dunia bisnis membutuhkan stimulus-stimulus seperti penyediaan infrastruktur, birokrasi perijinan yang praktis, insentif pajak, aturan-aturan main yang jelas dalam berbisnis, pengelolaan kekayaan alam yang tidak monopolitik, perlindungan, pendidikan dan pelatihan usaha, upah minimum daerah, memberdayakan organisasi-organisasi pekerja  dan kebijakan supported sektoral lain-lainnya yang sesuai.

Masalah pengangguran dan tingginya angka angkatan kerja juga tidak kalah penting untuk diselesaikan dengan menciptakan program-program kerja yang padat karya maupun memberikan insentif kepada usaha yang melibatkan tenaga yang banyak. Surplus anggaran daerah seharusnya dimaksimalkan dengan program diatas serta dalam rangka menyediakan infrastruktur usaha yang berkesinambungan.

b.   Aspek Kesehatan

Aspek ini meliputi tingkat kelahiran, tingkat umur rata-rata hidup, kebersihan, kondisi Mandi cuci kakus (MCK), populasi penduduk dalam hubungannya dengan kesehatan, pemahaman masyarakat tentang kesehatan, pelayanan  dan kuantitas publik kesehatan didaerah, program vaksinasi, disease preventives dan masih banyak lagi. Secara ringkas, program-program yang berhubungan dengan kesehatan lokal sangat mendukung berjalannya aspek  lain. Oleh karena itu concerning akan meningkatkan kualitas kesehatan, akan memudahkan masyarakat dalam mengakses kebutuhan sehatnya. Ada semacam timbal balik positif jika semakin sejahtera suatu daerah maka semakin tinggi kualitas kesehatan masyarakat, semakin mudah pemerintah menjalankan proses pembangunan, begitu sebaliknya.

c.   Aspek tata ruang kota

masalah ini mungkin menjadi permasalahan daerah dimana-mana yaitu kurang tertatanya tata ruang kota yang baik. Akibatnya terjadinya tumpang tindih pembangunan pemukiman, areal pendidikan, perkantoran, mall, pelayanan public lainnya, hotel, bangunan-bangunan  yang mempunyai historikal yang tinggi dan lain-lainnya. Jika kita melihat situasi-situasi  urban khususnya sangatlah crowded berserta aktivitas masyarakatnya yang berjejal-jejalan.

Ada baiknya untuk mengatasinya dibuat cities designs planning yang membantu pengaturan dan alokasi konsentrasi pembangunan infrastruktur. Untuk memperkuatnya maka memasukkannya dalam salah satu orientasi kebijakan-kebijakan daerah sangatlah mendukung selain memberikan landasannya berupa payung hukum atas implementasinya.

Strategi yang lain adalah memangkas birokrasi proyek-proyek yang ada dengan mekanisme satu pintu, memungkinkan terkontrolnya di dilapangan dan memperkecil inefisiensi yaitu pungutan, korupsi, kolusi maupun pajak berganda.

d.   Aspek Pendidikan

Aspek ini tidak kalau pentingnya dengan yang lain. Dus, sangat berhubungan dengan kebijakan pemerintah pusat.

Memajukan pendidikan adalah suatu keharusan yang di amanatkan undang-undang dan menjadi ujung tombak pembangunan bangsa negara di masa depan.

Perkembangan pembangunan nasional di dunia pendidikan sudah ada peningkatan meski berjalan lambat. Program wajib belajar, sekolah gratis dan peningkatan anggaran pendidikan diharapkan mampu memperbaiki kualitas dan kuantitas warga negara.

Di tingkatan daerah, dukungan pemerintah daerah untuk mengembangkan dan meneruskan kebijakan tersebut dengan mempersiapkan  pelaksanaan dan teknis program-program yang ada, selain mengontrol hambatan-hambatannya, seperti pungutan diluar pendidikan, bocoran alokasi anggaran pendidikan dan sebagainya.

Diluar itu tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah memajukan pendidikan dengan kreativitas sendiri sepanjang tidak keluar kebijakan nasional, misalkan peran aktifnya dalam sekolah-sekolah alternatif,  memfasilitasi sekolah dengan dunia usaha, dukungan kepada sekolah selain negeri dan sebagainya.

Masih banyak lagi pembahasan-pembahasan diluar kontek diatas yang seperti saya ulas diatas. Perbedaan sangat mungkin terjadi satu daerah dengan daerah lain tentang prioritas kerja kepala daerah sehingga sinergi dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya. Cakupan diatas  menggambarkan situasi dan solusi singkat atas daerah-daerah secara general yang semoga dapat memaksimalkan pembangunan tentunya.

Bagaimana dengan anda?

11.36 EST, June 24, 2009

Pleasantville, NY

June 24, 2009

People Can Change, People Can’t Change

Menarik jika mencermati perubahan-perubahan hidup disekitar kita. Tidak kalah menariknya juga ketika bagaimana memandang perpektif perubahan itu sendiri beserta reaksi sosialnya.
Sebagai bagian dari masyarakat sosial yang saling berinteraksi satu sama lain tentunya banyak pengalaman dan pelajaran diperoleh terus-menerus. Dalam konteks tersebut secara individual maupun kelompok akan membentuk identitas yang membedakan satu sama lain. Pembentukannya jika dalam waktu yang lama dan bersifat komunal sering disebut stereotypes. Berbeda dengan yang bersifat spesifik, individual dan partikular dinamakan dengan sikap kepribadian seseorang.
Dalam note kali ini saya hanya akan membahas perubahan sikap seseorang yang ternyata kurang diikuti asumsi dan penerimaan publik terhadap perubahan itu sendiri. Bahkan untuk sebuah perubahan, seseorang harus mengorbankan sesuatu yang melebihi dari kesalahan atau pun kekhilafannya.
Sebagai contoh, seorang mantan pencuri atau preman ketika mau bertobat akan mengeluarkan pengorbanan yang lebih ketimbang orang biasa yang ingin menjadi orang baik. Disinilah kesabaran dan konsistensi yang bersangkutan diuji oleh masyarakat. Jika berhasil maka penerimaan pun tidak serta merta  akan tetapi berlangsung lambat meski kadang ada pula yang masih meragukannya.
Benar pepatah bilang ’sekali arang tercoreng di dahi maka selamanya tidak akan hilang’ masih berlaku dimasyarakat. Orang berbuat sesuatu maka kita akan mengingatnya, terlebih pada perbuatan yang negatif.
Sebenarnya juga bisa dibilang fair dan tidak fair pepatah diatas. Dikatakan fair karena hal demikian sebagai bentuk hukuman, pelajaran untuk yang lain dan mengurangi disorientasi perilaku yang merugikan orang lain. Dengan begitu, orang yang sadar akan berpikir dua tiga kali untuk berbuat kesalahan.
Sebaliknya, sering kali masyarakat tidak punya ampun terhadap kesalahan meski dalam kekhilafan seseorang. Tidak fair jika mereka mengakui kesalahan dan telah mendapat Hukuman setimpal, kita masih saja apriori dan atau tidak pernah percaya ketika berusaha mereka memperbaikinya.
Dari sinilah kita mendapat pelajaran betapa mulianya sikap integritas, tanggung jawab, jujur dan nilai – nilai universal lainnya di mata masyarakat. Di junjung tinggi, tidak pernah dipermainkan dari dulu hingga sekarang.
Nah, tinggal kita yang mempunyai banyak pilihan hidup mau bagaimana dan mau apa?
Hidup kekinian menawarkan berbagai keragaman tingkah laku dan tren yang aneh-aneh. Malah penjungkirbalikan nilai dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Sesuatu yang tidak baik dahulu belum tentu sama dengan sekarang, mungkin saja sebaliknya.

Mohegan lake, NY
15.31 EST, June 23, 2009

Sent from my iPod

June 17, 2009

Andai, Aku Seorang Pengusaha

Saya akan melihat apapun keadaan yang ada di Indonesia adalah sebagai peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan. Terlebih menghadapi persaingan-persaingan bisnis yang semakin crowded dan lingkungan usaha yang tidak sekondusif yang diharapkan. Itulah tantangan seorang pengusaha, bak seorang pemimpin dengan segala kemampuan dan kreativitasnya mampu bertahan bagi dirinya dan orang-orang disekitar.

Idealnya, seorang pengusaha ialah orang yang bebas dari keterikatan dan mampu menjaga idealiasasi ekonomisnya secara terukur dan terstruktur. Tidak banyak yang dapat melakukannya, karena ini dibutuhkan nyali, instuisi dan dedikasi dalam karakternya. Wirausaha tepatnya jika diartikan.

Untuk memulai sebuah usaha, seorang pengusaha percaya harus memulainya dengan satu langkah, betapa pun besar kecilnya bisnisnya. Perhitungan ekonomi tentunya yang menjadi parameter utama, disamping perhitungan lainnya seperti sosial, hukum dan budaya setempat. Ini tidak lain, tujuan bisnis itu sendiri yang mempunyai keterikatan satu sama lain.

Untuk memilahnya, saya bagi menjadi 2 aspek, yaitu dalam dan luar. Aspek dalam meliputi kesemua yang berhubungan langsung dengan dengan operasional usaha, antara lain ; modal, tenaga kerja, bahan baku, budaya perusahaan, manajemen dan infrastruktur. Disini peranan masing-masing sangat dibutuhkan untuk kelancaran  dan tercapai keuntungan bagi perusahaan.

Secara particular seperti tenaga kerja misalnya, jumlah tenaga kerja, kapasitas produksi dan job description perusahaan haruslah seimbang sehingga menghasilkan kinerja yang efektif dan efisien. Untuk itu maka sistem pengajian, koperasi dan andil serikat buruh sangatlah diharapkan mendukung semua.

Aspek keluar, yaitu aspek-aspek yang mendukung secara tidak langsung operasional usaha. Peluang bisnis, birokrasi, lingkungan sekitar dan jaringan bisnis adalah yang termasuk didalamnya.

Sebagai pengusaha haruslah memahami seluk beluk hal diatas jika ingin memenangi kompetisi bisnisnya, serta memasukkan dalam keputusan-keputusan manajemennya.

Hambatan-hambatan usaha seperti ruwetnya birokrasi, aspek luar yang mempengaruhi mahalnya biaya produksi, persaingan competitor yang tidak sehat, pungutan liar, masalah sosial di lingkungan sekitar dan sebagainya harus ditangani dengan baik, kalau perlu memiliki SDM yang kredibel dan intregitas untuk menanganinya. Selain memiliki kualifikasi dalam aspek dalam yang disebut diatas.

Secara komprehensif, perusahaan dapat berjalan lancar dan dapat menyelesaikan masalah setiap masalah yang ada. Untuk itu  professional system-lah yang mendasarinya, bukan keluarga, patron  atau sistem yang tidak sehat lainnya. Intinya, sistem didalam akan berpengaruh dengan sikap atau manajemen perusahaan keluar.

Tentunya, saya sadar tidak sesimpel dari yang diungkap diatas. Permasalahan-permasalahan biasanya dapat muncul diluar teori-teori atau kebiasaan-kebiasaan. Bahkan bisa juga menuntut jalan keluar yang non kenvensional. Semuanya tidak bisa dijabarkan disini, apalagi ini adalah sebuah lamunan.

Pleasantville, NY

June 17, 2009

June 11, 2009

Nasionalisme

Siapa yang tidak kenal Amerika? Negera besar dengan beragam julukan. Bagi sebagian orang, adalah mimpi untuk dapat hidup disana. Dalam bahasa cina disebut dengan Mei-guo (negeri yang indah). Tidak tahu persis mengapa dikatakan seperti itu. Tetapi yang jelas, tak dipungkiri disanalah setidaknya sampai sekarang masih dijadikan kiblat modernitas dan kemapanan sebuah bangsa.

Ada yang lebih ektrem lagi yaitu hal-hal yang berbau Amerika pasti disukai, terlepas secara rasional sesuai tidak atas karakternya. Ironisnya, mereka bukan orang Amerika, tetapi orang disekitar kita.

Mungkin kadang terkesan memaksakan diri, tetapi begitulah kiranya kecintaan kita pada budaya sendiri kian terkikis, berganti dengan pragmatisme. Tren inilah yang berkembang di kehidupan sehari-hari. Merasa memiliki budaya bangsa lain daripada mempertahankan ciri khas dan keunikan bangsa sendiri. Dengan kata lain, jiwa nasionalisme semakin luntur.

Kini, nasionalisme terasa lebih bersifat formal, dan dapat diartikan sengan ritualitas-ritualitas yang membosankan seperti upacara dan peringatan hari-hari besar nasional. Minus mendalami dan menghayatinya. Selebihnya kita lebih “memilih” kembali mengekor pada bangsa lain lagi.

Identitas nasional, keunggulan budaya lokal beserta keragamannya menjadi usang dan tercerabut akarnya khususnya dikalangan anak-anak muda. Mereka lebih nyaman dan terbiasa ala barat, gengsi jika memakai produk made in Indonesia.

Celakanya, dalam lingkungan pemerintahan juga terjangkit terkikisnya nasionalisme ini. Alih-alih sebagai penjaga nasionalisme, mereka tidak segan-segan menjual asset-aset berharga nasional (privatisasi) dengan murah kepada asing, dengan dalih pemulihan krisis ekonomi dan optimalisasi BUMN. Sesuatu yang tidak sepatutnya terjadi jika ada niat sungguh-sungguh melakukan restrukturisasi dan reformasi birokrasi.

Selain itu, banyak juga di antara kita yang plesiran ke negera tetangga hanya sekedar belanja murah dalam musim diskon. Bukankah kita tidak sekreatif mereka untuk menciptakan semacam itu?

Korupsi, kolusi dan nepotisme yang masih tumbuh subur di negeri kita tidak lain karena gejala menipisnya nasionalisme. Bayangkan jika seluruh elemen bangsa bersatu mempunyai kesadaran dan pemahaman kolektif akan hal itu, bukan tidak mungkin kita telah menjadi bangsa yang besar dan berwibawa diantara negara lain.

Menuju bangsa yang mandiri

Berbicara nasionalisme bukanlah bicara bagaimana kita mencintai dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Lebih dari itu, bagaimana kita menghormati, mempertahankan dan mengembangkan negara bangsa kita sehingga tercipta kemakmuran dan kemandirian.

Semangatnya disamping ditanamkan juga diperjuangkan terus-menerus.

Para pahlawan pejuang kemerdekaan pun rela berguguran demi mempertahankan semangat dan cita-cita nasionalismenya. Kita pun sebagai penerusnya seharusnya bersikap demikian pula.

Tidak ada salahnya kita belajar dari negara lain untuk itu. Di jepang,  Restorasi Meiji berhasil mentransformasikan teknologi dan pendidikan barat dengan masih memegang teguh budaya Bushido-nya.

Tengoklah negara Cina yang sedemikian pesat perkembangan ekonominya tidak lain hasil kerja keras semua bangsanya untuk membangun negaranya. Baik didalam negeri mapun diperantauan, semangat kecintaan kepada tanah air masih besar hingga sekarang.

Untuk mengikutinya keberhasilannya kita tidak harus meniru jalan mereka. Bisa saja kita memiliki jalan lain dengan mengmbil dari sendi-sendi budaya bangsa kita dengan penggalian yang terus-menerus dan melakukan revitalisasi terhadapnya. Mungkin juga didapat ide yang lain yang lebih baik.

Pintu reformasi 1998 seharusnya dijadikan tonggak perubahan ke arah  yang lebih baik bagi bangsa kita, bukan malah sebaliknya. Demokratisasi dan nasionalisme seharusnya berjalan beriringan.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai semuanya, sepanjang ada konsepsi kolektif kita untuk memujudkan negara Indonesia yang maju dan mandiri.

Pleasantville, NY

1.50 am. June 11, 2009.

June 11, 2009

Konsistensi dan Kesabaran

Konon, Pak karim, seorang penjual mie ayam sekitar kampus di malang. Bertahun-tahun menjalankan pekerjaan tetapnya dengan sabar. Sebelumnya ia adalah bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan yang akhirnya terkena PHK. Kebutuhan dan tuntutan hidup keluarga, ia harus merelakan semua dan menjadikan ia menjadi seorang penjual mie ayam.

Waktu itu, anak-anaknya sudah muali memasuki masa sekolah. Tentu membutuhkan biaya secara kontinyu, supaya mereka tidak putus sekolah. Pak Karim adalah seorang yang hidup diantara harapan dan realita. Ia sadar bahwa anak adalah amanah sekaligus investasi dunia akhirat. Keberhasilan anak  tidak lain adalah keberhasilan orang tuanya juga.

Setiap sore dengan gerbong yang didorong mengitari kawasan kos-kosan mahasiswa, pak Karim kerap kali membayangkan  kelak anak-anaknya jika sudak besar dapat  melanjutkan ke perguruan tinggi seperti para konsumennya. Hanya itulah seakan-akan semangat dan tekad usahanya, sehingga kebutuhan sehari-hari terukupi dan anak-anak dapat membayar SPP.

Dengan pendapatan yang tidak seberapa dari penjualan Mie ayam setiap malam hari, kemudian paginya dibuat belanja barang bahan, kebutuhan rumah dan sisanya ditabung. Pak Karim melihat hasil kerja kerasnya  20 tahun setelahnya. Kini, anaknya baru saja lulus dari perguruan tinggi negeri.

Sebuah kisah yang mungkin tidak bisa kalau dijelaskan dengan logika semata. Akan tetapi begitulah keadaannya dan sering kali terjadi keajaiban yang ada disekitar hidup kita.

Dalam hidup, orang kadang membuat keputusan tidak serta merta dengan kebebasan memilih. Kadang orang membuat keputusan berawal dari tidak adanya pilihan, seperti Pak Karim diatas.

Banyak juga diantara kita terbuka mata ketika melihat keberhasilan orang. Sayangnya, kita sering kali tidak tahu-menahu pengorbanan dan perjuangan seseorang meraihnya.

Pak Karim dengan sabar dan konsiten dengan gerbong mie ayamnya bertahun-tahun memetik hasilnya kini. Mungkin juga jika Pak karim senantiasa tidak bersikap demikian, keluarganya menjadi berantakan dan bahkan anaknya tidak sampai masuk perguruan tinggi. Itulah nilai-nilai dibaliknya.

Konsisten merupakan ketetapan ataupun kesamaan kita akan pada suatu perbuatan. Disini peranan emosional sangat diperlukan. Sedangkan sinergisitas kecerdasan emosional dan spiritual membuat seseorang akan sukses dan berhasil termasuk diantaranya dalam tempat bekerja (Agustian, 2001). Begitulah sikap konsisten akan parallel dengan kesabaran.

Kesabaran sendiri berarti sikap menahan diri (betah) pada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Sabar tidak pula sifat yang menunggu-nunggu tanpa melakukan sesuatu. Sikap pak Karim diatas bentuk contohnya.

Semakin tinggi keimanan (spiritual forms)seseorang , maka akan lebih tinggi pula kesabarannya. Begitu pula dengan kesabaran hidup semakin damai dan tidak mudah berubah pikiran serta tujuan akan senantiasa hanya masalah waktu.

Dalam surat Al baqarah: 156, Allah SWT berfirman, “sesungguhnya Allah selalu menyertai orang-orang yang sabar”. Kesabaran kita akan selalu mendapat keridhoanNYA.

Setiap kesabaran kita juga bukan berarti dalam keputuasaan, tetapi dalam berusaha (Ikhtiar).

Semoga kita dapat meneladani nilai-nilai pak Karim diatas di kehidupan keseharian kita. Bukankah kesuksesan dan keberhasilan yang kita cita-citakan?

10.53 am. June 10, 2009.

Pleasantville, NY

June 9, 2009

Amerika yang Liberal Sosialis, Indonesia?

Tampaknya kita semua sudah mahfum dengan kata liberal, Neolibs, kapitalisme dan bahkan sosialisme sekalipun. Kata-kata memang tersebut memang mencuat dalam topic-topik politik ekonomi sekarang ini menjelang pemilihan presiden (pilpres).

Krisis finansial global benar-benar sangat terasa di Amerika serikat sebagai episentrum krisis. Perusahaan-perusahaan berskala global bertumbangan satu per satu, akhirnya memaksa pemerintah amerika mengucurkan bail out serta memasukkan sisanya kedalam program Troubled Asset Relief Program (TARP) untuk menyelamatkan perekonomian nasionalnya. Indikasi perokonomian yang berbalik arah semakin kentara beberapa waktu lalu. Pengangguran, kesempatan kerja, tingkat kebangkrutan korporasi semua level, inflasi, kepercayaan pada perbankan adalah beberapa masalah kompleks implikasi dari krisis tersebut. Amerika telah memasuki resesi ekonomi.

Dalam pemerintahan Obama, Amerika sepertinya didera berbagai masalah krusial dalam negeri dan luar negeri. Pada perekonomian dalam negeri, Obama mau tidak mau harus memaksa untuk turun tangan langsung sebagai mediator antara kepentingan pengusaha, masyarakat dan The House (DPR); regulator yaitu menata ulang dan memberikan batasan ulang kerangka-kerangka ekonomi yang sudah kebablasan, serta motor untuk melakukan recovery ekonomi seefektif mungkin.

Hal ini merubah dengan cepat wajah perekonomian yang berbasis liberal kepada adanya pengaruh campur tangan pemerintah kepada ekonomi, seperti yang dianjurkan oleh ekonom-ekonom berhaluan Keynesian. Mereka telah menuding sistem new liberalisme selama ini dengan sifat keserakahan dan kebebasannya telah menyengsarakan seluruh warga negara amerika yang nota bene pembayar pajak.

Sekarang amerika tidak ubahnya seperti negara yang liberal sosialis, setidaknya untuk sementara, akibat pengambil-alihan “kepemilikan saham” korporasi besar seperti citigroup, American express, Ford, Chrysler, General Motor, bank of America dan sebagainya. Meskipun demikian laju PHK dan pengangguran tidak serta merta terkurangi dengan cepat. Bahkan berbagai analisis menambahkan, usaha-usaha keluar dari krisis semakin lambat setelah kebangkrutan General Motor terakhir.

Begitulah gambaran singkat perekonomian Amerika dalam krisis kali ini. Akan tetapi, dilain pihak sektor-sektor usaha kecil menengah masih saja berjalan meski tidak sekencang sebelumnya.

Bagaimana di Indonesia?

Semakin menarik mengikuti masa-masa kampanye pilpres kali ini. Perdebatan isu neo liberal (Neolib) dan ekonomi rakyatan menjadi topic utama di media-media nasional. Semua calon presiden rata-rata menolak sebagai penganut paham neo liberal, dan sebaliknya berebut visi ekonomi kerakyatan jika nanti terpilih. Singkatnya, ada kesepahaman jika neolib menjadikan rakyat Indonesia menjadi sengsara dan pembangunan kian jalan ditempat, sehingga harus dijauhi.

Paham neolib sebenarnya muncul dari definisi ulang liberalisme klasik, sebagai counter menguatnya paham keynesian paska depresi besar tahun 1930an di Amerika. Saat itu setelah kerusakan dan kehancuran ekonomi akibat doktrin kebebasan berusaha dan kompetisi (neo klasik), John Maynard Keynes menganjurkan terlibatnya peranan pemerintah pada sirkulasi ekonomi untuk memulihkan resesi dan menjaga kebebasan tanpa batas pasar.

Akan tetapi nafsu kapitalisme menguat kembali seiring perekonomian mulai membaik waktu itu. Sampai pada akhirnya semakin mengokohkan keberadaannya dengan adanya perjanjian Bretton Woods, Washington consensus, NAFTA dan seterusnya.

Menilik neo liberalisme sendiri di Indonesia sebenarnya sudah ada dari dulu meski tidak tampak nyata. Keikutsertaan Indonesia dalam hubungan perdagangan luar negeri (Free trade Zone) salah satunya, dengan tidak serius concern pada sektor ekonomi kecil menengah dan pemberdayaan ekonomi dalam negeri.

Bergonta-ganti pemerintahan, seakan tetap sama saja. Ketergantungan terhadap utang luar negeri masih belum bisa dihentikan, privatisasi BUMN dalam program restrukturisasi dan masih banyak lagi efek dan ciri dari liberalisasi ekonomi. Belum ada langkah stategis serta kesungguhan dalam memutus mata rantai tersebut.

Secara jujur, sistem demikian belum dapat diterapkan di Indonesia karena berbagai pertimbangan, seperti kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang tinggi, mapannya infrastruktur yang menunjang langsung, efektifitasnya birokrasi, memadainya regulasi-regulasi yang mengaturnya serta kecilnya tinggat KKN dan sejumlah elemen-elemen lainnya.

Sedangkan paham ekonomi kerakyatan sebagai titik baliknya, dimana lebih menitikberatkan pada kepentingan rakyat banyak dalam rangka pembangunan dari pada kepentingan asing. Lebih lanjut, pola kemandirian dan pemberdayaan lokal sebagai punggawa perekonomian nasional.

Menimbang antara ekonomi kerakyatan dan ekonomi pancasila seperti yang dijabarkan dalam UUD 1945, tidak berlebihan jika keduanya tidak ada perbedaan. Bahkan ekonomi pancasila lebih mengindonesia dan lengkap dalam arti menyerap nilai-nilai lokal kita. Bukanlah lebih baik dan efektif jika topic kampanye pada visi dan penguatan ekonomi pancasila yang semakin asing dan masih terkesan “orde baru” untuk direvitalisasi kembali.

Terlepas dari kesemua itu, siapa pun yang terpilih presiden nanti, haruslah menunjukkan kesungguhan dalam pemberdayaan sumber-sumber daya lokal dan merealisasikan jan-janji selama kampenyenya yang tidak lain adalah menjalankan strategi ekonomi yang berbasis kerakyatannya.

02.27 am. June 09, 2009.

Pleasantville, NY

April 30, 2009

Demokrasi, Kelompok “Penggugat” dan Facebook

Dunia demokrasi sebenarnya bisa dikatakan dunia yang tanpa bentuk. Hal ini dikarenakan sifat demokrasi itu sendiri yang lebih merupakan tataran nilai sebagai layaknya paham counterpart-nya yaitu sosialisme.
Dari Tanpa bentuk inilah, dalam perkembangannya dapat dijumpai banyak varian-variannya seperti demokrasi liberal, parlementer dan seterusnya sesuai dengan kepentingan yang merupakan konsesus bersama yang biasanya dikenal dengan konstitusi.
Demokrasi itu sendiri selain mempunyai konstitusi sebagai pilarnya juga terdapat element-elemen seperti media, lembaga peradilan, pemerintah, partai politik sebagai pendukung berlangsungnya demokratisasi.
Menilik lagi demokrasi dalam tataran nilai maka kita akan dihadapkan dengan kebebasan-kebebasan itu sendiri sehingga bentuknya akan selalu berubah-ubah.
Salah satu produknya yang unik yang saya jumpai adalah munculnya kelompok-kelompok ‘penggugat’ (criticm)sebagai kekuatan penyeimbang maupun pengontrol. Kelompok ini tumbuh subur dialam ini karena sistem yang ada sedemikian bebas dan terbuka sehingga memungkinkan  mereka untuk membentuk kekuatan baru dan biasanya mengambil posisi yang berlawanan dengan kekuatan penguasa, serta nilai idealisasi-idealisasi melekat didalamnya.
Saya katakan unik, karena kelompok ini cenderung memiliki beraneka ragam kepentingan didalamnya tetapi mempunyai kesamaan yaitu idealisasi dan nilai-nilai universal.

Lebih ektrimnya ‘penggugat’ bahkan dapat dijadikan sebuah pekerjaan, serta dibagi menjadi 2 yaitu motivasi karena uang atau kekuasaan dan dilakukan secara sukarela. Untuk golongan pertama, sudah tentu kepentingan-kepentingan yang diambil selalu pragmatis, dan biasanya tidak konsisten alias mengikuti motivasi dan dicocokkan dengan kepentingan yang ada.

Berbeda dengan golongan yang terakhir yaitu konsistensi dapat diandalkan dan kepentingan-kepentingan lebih mengarah pada idealisasinya. Kelompok ini dapat dijumpai lingkungan kemahasiswaan dan pribadi atau kelompok yang tidak terikat pada kekuasaan serta biasanya bercukupan.

Ada pengalaman pribadi yang menarik bersama seorang teman yang kebetulan sama-sama berpergian ke Boston, Massachusetts, mengatakan bahwa para penggugat (baca; pengkritik) itu ada yang pekerjaannya mengkritik kelemahan-kelemahan penguasa, meski tanpa harus memberikan solusi. Jika penguasa complaint, mereka bisa dengan mudah mematahkan dengan penguasa otoriter, alergi kritik, kuper dan sebagainya. Jika penguasa meminta solusi dari kritikan, maka dengan mudah mereka menjawab juga dengan serahkan kekuasaan dulu kemudian akan kami beri solusi dari kelemahan yang ada. Tentunya teman berkata demikian dengan nada bercanda.

Terlepas dari kesemua itu saya juga menjumpai banyak kelompok maupun individu dengan bebas dan sesuai dengan teman saya katakan diatas; kritik tanpa solusi, di media jejaring sosial dunia maya, facebook. Banyak kritikan, notes, shouted maupun komentasi yang ada bercampuk aduk dari yang konstruktif sampai yang destruktif, minus solusi. Hal ini memungkinkan terjadi karena media ini bersifat horizontal dan bebas. Beginilah efek dunia semakin datar menjadikan kita borderless dan civil journalism semakin nyata.

Akhirnya, Gotthold Ephraim Lessing, seorang philosopher jerman, mengatakan “not every critic is a genius, but every genius is born a critic…genius has the proof of all rules within itself.” Sedangkan dalam bentuknya kritik di indikasikan Jane Kneller dalam Kant’s Critique of the Power of Judgement: Critical Essay (2003), menyatakan bahwa “Genius demonstrates its autonomy not by ignoring all rules, but by deriving the rules from itself.” Dengan demikian kritik konstruktiflah yang menurut hemat saya yang terbaik seharusnya kita kedepankan dalam dunia demokrasi dan facebook. Dan ini tidaklah semudah mengatakan kelemahan sesuatu tanpa mendasar. Sebaliknya, membutuhkan kejelian, objectivitas, keterbukaan, penggunaan kata-kata yang baik dan tentu saja solusi.

Pleasantville, NY.

April 29, 2009.

April 21, 2009

Grameen, Kredit Mikro dan Usaha Kecil

Sepanjang perjalanan bus antara Boston-new york adalah sangat membosankan. Untuk menghilangkannya, saya sempatkan membaca laporan-laporan ekonomi serta menulis artikel dibawah ini.

Adalah seorang profesor ekonomi yang berkebangsaan bangladesh telah berhasil memperoleh penghargaan Nobel bidang ekonomi tahun 2004. Muhammad yunus, nama yang telah mengharumkan salah satu bangsa akan berkembang dan terlebih lagi pada jasa-jasanya yang mengangkat masyarakat usaha mikro dalam usahanya.
Dengan ide gagasan dan ketekunan implementasi usahanya, Grameen Bank mampu berkembang pesat serta menjadikan salah satu pemain penting ekonomi khususnya dalam penyaluran kredit di negara tersebut.
Salah satu diantaranya adalah grameen yang aktif terjun langsung pada mereka yang membutuhkan. Selain itu dengan persyaratan yang mudah, tanpa birokrasi dan mekanisme yang memudahkan mereka untuk menerima kredit, tentunya dengan mengindahkan akuntabilitas dan lainnya.
Hal tersebut secara langsung juga peranan geameen bank dalam menggerakkan sektor riil sangatlah besar, jika dilihat dari besaran nominal kucuran kredit tahun demi tahun. Meski dalam pemberian bunga kredit, grameen menetapkan juga relatif tinggi daripada bank-bank lokal disana maupun dengan bank di negara-negara regional, termasuk indonesia. Berdasarkan perkembangan terakhir, suku bunga kredit grameen adalah sekitar 20 persen, coba kita bandingkan dengan kisaran bunga kredit perbankan nasional antara 14-16 persen. Sebuah interval kredit yang sangat tinggi, sehingga seharusnya menjadikan peluang kita dalam recovery krisis finansial global sekarang ini. Bahkan juga banyak pengamat yang memperkirakan bunga kredit bisa lebih dari 25 persen dikarenakan krisis kepercayaan perbankan dengan dunia usaha. Begitu juga sebaliknya.
Untuk kasus grameen diatas, adalah fenomena yang menarik untuk kita ambil pelajaran dalam perbaikan sistem penyaluran kredit mikro. Apalagi jika kebijakan pemerintah yang mau concern pada rakyat, khususnya usaga-usaha kecil dan menengah.
Seperti kita ketahui jumlah mereka sangatlah dominan dalam perekonomian nasional terutama disektor informal. Ditambah lagi dengan jumlah pengangguran akibat PHK selama krisis sekarang ini, tentunya menambah semakin banyak saja yang lari mengisi sektor usaha informal. Inilah karateristik asal sektor mikro informal yang berpangkal pada pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari dan bukan semata-mata untuk investasi saja.
Disinilah kita akan menjumpai bagaimana keuletan, ketangguhan dan sikap yang adaptif dalam berbagai masa ekonomi pada sektor mikro. Dus, mereka juga telah terbukti dalam ketahanannya dalam krisis ekonomi 1997.
Pemerintah seharusnya melihat ini sebagai peluang dalam memulihkan imbas krisis kali ini dengan memperbaiki kehidupan sebagian besar rakyatnya dengan kembali pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor ini, daripada lebih banyak membantu dan memberikan kemudahan sektor finansial nasional yang sensitif dengan krisis serta begitu juga korporasi-korporasi besar.
Sudah waktunya pemerintah menarik perhatian rakyatnya, sehingga menjadikan seperti keloyalan para nasabah kecil pada grameen.

April 20, 2009

Sent from my iPod

March 31, 2009

Kenikmatan dalam kekurangan

Kehidupan seseorang tidak bisa serta merta dapat disimpulkan berbanding lurus dengan kualitas hidupnya. Maksudnya, kita tidak bisa selalu tepat dalam menelaah hidup seseorang dari gaya hidupnya saja.
Mari kita perhatikan kasus orang kaya dengan si miskin. Kehidupan orang kaya yang terbiasa hidup serba wah dan berkecukupan, ternyata ada  saja perilaku yang aneh dikerjakan, seperti mencoba hidup selayaknya orang yang sengsara. Mencoba hidup ala kadarnya atau bahkan kembali hidup secara primitif. Tayangan survival di televisi yang mempertontonkan uji nyali dan ketahanan hidup di tengah hutan ala tarzan adalah satu contoh dari ungkapan diatas.
Suatu logika hidup bisa memungkinkan berjalan terbalik ketika hidup tersebut terus-menerus dalam kemapanan, atau dapat dikenal dengan postmodernisme.
Dalam  makalah psikologi yang masih kontroversial, A Theory of Human Motivation yang memperkenalkan teori hierarki kebutuhan (Abraham Maslow;1943)
Menerangkan bahwa kebutuhan manusia secara umum dapat dibedakan kedalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid hierarki yaitu psicological, safety, love/belonging dan self -actualization. Kesemuanya merepresentasikan kebutuhan hidup secara berurutan (dan bisa juga acak).
Pada contoh kasus  diatas tampaknya sangat relevan untuk menjawab ‘keanehan-keanehan’ yang mereka perbuat. Ketika kebutuhan  dasar (psycological) orang terpenuhi maka tingkat kebutuhan mereka akan berkembang pada tahap-tahap lebih lanjut. Demikian seterusnya sampai tahap akhir  dimana kemudian mereka mengimprovisasi arti dan makna hidup dengan berbagai cara.
Pada titik puncaknya akan mengalami kejenuhan serta melahirkan perilaku dan tindakan – tindakan yang tidak biasa.

Dalam kekurangan ada kenikmatan

Seorang  yang miskin tidak mempunyai apa-apa tiba-tiba karena sesuatu mendapat pekerjaan sebagai pegawai negeri. Baginya ini sebuah kepuasan tersendiri mendapat pekerjaan tetap dan dapat mencukupi kebutuhannya.
Selanjutnya tingkat kepuasan si miskin akan bertambah lagi ketika ia dapat membeli rumah dan mobil baru dan akan meningkat lagi jika mempunyai villa, jabatan yang lebih tinggi, bisnis dimana-mana dan seterusnya. Sampai pada  akhirnya tingkat kepuasannya menemui titik jenuh. Ia merasa sudah semua telah dipunyai dan dilakukan. Sampai tiba-tiba ia ingin mencoba kembali hidup seperti awalnya yang serba terbatas.
Perilaku diatas menunjukkan seperti yang diulas sebelumnya yaitu ketika pemenuhan suatu kebutuhan terus-menerus memungkinkan nilai kepuasan tersebut akan berubah. Disini, si miskin yang berubah menjadi berpunya pada akhirnya ingin merasakan kembali kenikmatan di waktu susah. Meski kadang kalaupun terjadi di kehidupan nyata, tidak serta merta dapat dilakukan terkait dengan status sosial dan hal tertentu pada seseorang.
Di sebut kenikmatan dalam kekurangan karena dalam hidup serba kekurangan ternyata terdapat nilai kenikmatan yang tidak dimiliki ketika dalam keadaan berlebih. Untuk itulah dalam ajaran agama kita dianjurkan untuk tidak berfoya-foya dan menekankan pentingnya membantu orang lain dengan sedekah. Ajaran agama mengajarkan demikian supaya kita terhindar dari sikap sombong dan suka menghambur-hamburkan. Lebih pentingnya lagi jika kita berusaha berempati dan menolong orang lain maka dalam kehidupan sosial akan tercipta keadilan dan keharmonisan.
Bukankah hal tersebut adalah hal yang baik?

New York, NY
March 30,2009

Sent from my iPod

March 29, 2009

Politik kita

Rasanya kita yang hidup di Indonesia hampir setiap hari  selalu menyempatkan membahas perkembangan politik tanah air dalam pembicaraan-pembicaraan. Terlebih sekarang ini pada musim kampanye menjelang pemilu menjadi topik yang menarik dan harus diulas secara bersama.
Entah karena mungkin kita adalah bangsa yang mempunyai sense politik yang sangat tinggi ataukah pemahaman kita akan arti penting dan proses politik  sehingga partisipasi  atasnya kadang melebihi yang lain.
Sudah mahfum kita menemui obrolan tentangnya di warung kaki lima, tempat ibadah, kantor-kantor, mall sampai pasar malam pun selalu ada.
Memang topik politik memang selalu menarik dan berkembang. Apalagi setelah kita melihat manuver-manuver para politisi yang kadang membingungkan, kadang pula memprihatinkan. Ditambah dengan pemberitaan media-media yang masif. Tambah klop semua.
Pemberian porsi yang ‘berlebihan’ sudah pasti tidaklah baik. Apalagi kurang dibarengi kesadaran dan aktualisasi yang benar maka akan menimbulkan masalah-masalah ditengah jalan.
Dalam proses demokrasi kita sekarang telah terjadi hal demikian. Politik kekuasaan cenderung lebih mengemuka daripada politik yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Slogan-slogan partai politik serta janji para politikus  tidak lebih hanyalah untuk mendapatkan simpati dan dukungan suara untuk mendapatkan kedudukan.
Di sisi lain partisipasi aktif masyarakat dalam  politik semakin rendah. Banyak juga oknum-oknum diantaranya melibatkan diri dalam aksi dukung-mendukung untuk sekedar mendapatkan uang semata.
Singkatnya, semuanya semakin serba pragmatis. Disinilah mengapa biaya politik kita menjadi relatif mahal daripada negara lain.
Begitulah fenomena-fenomena yang terjadi proses politik kita. Hambatan-hambatan dalam proses transisi demokrasi kita seharusnya dapat dilalui dengan baik, melangkah terus ke perubahan yang lebih baik. Bukannya menjadi patron akan kekuasaan dan jabatan semata.
Kadang saya berpikir demikian. Masalah-masalah  kebangsaan makin silang sengkarut bukan karena orang atau hal-hal lain, melainkan kita sendiri yang menutup mata dan semakin mempertajam kepentingan-kepentingan pribadi, golongan, partai dan sebagainya diatas kepentingan bangsa.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari kesalahan masa lalu dan menatap ke masa depan dengan penuh percaya diri. Bukankah begitu?

March 29, 2009

Sent from my iPod

March 27, 2009

Ekonomi riil

Bahasa krisis memang telah menjadi bahasa umum sehari-hari. Buktinya tetangga saya, Bu astrid yang berjualan nasi di dekat pasar dengan terpaksa menaikkan harga sepiring nasinya karena kenaikan harga bahan-bahan pokok akhir-akhir ini semakin menyulitkannya meski hanya untuk kembali modal.
Sama halnya dengan pak ahmad, sopir angkot,  yang biasa melewati jalan utama di daerah pemukiman kami terus terang menaikkan tarifnya jika tidak mau tekor. Harga bensin mahal, belum lagi ongkos spare part dan biaya perawatan lainnya yang melangit.
Pendeknya, bu Astrid, pak Ahmad dan orang-orang yang bekerja di sektor riil tingkat bawah semakin susah usahanya. Uniknya, rata-rata mereka menjawab lantaran krisislah mereka harus pandai-pandai memutar usahanya.
Krisis finansial global sekarang ini memang mendera ke segala lapisan ekonomi, parahnya jika sudah menghantam sektor bawah  yang didominasi sektor riil masyarakat tidak dihentikan maka kegagalan ekonomi bangsa tinggal menunggu waktu.
Pengalaman membuktikan sektor ekonomi riil khususnya ritel telah menjadi penyangga ekonomi nasional selama krisis moneter 1998. Ketangguhan dan kemampuan adaptif di berbagai kondisi adalah salah satu keunggulannya. Apalagi sektor ini digerakkan sebagian besar masyarakat Indonesia, sudah pasti menyangkut hajat hidup orang banyak sebagai sumber penghidupan.
Berbeda dengan sektor ekonomi keuangan yang dari dulu rawan gejolak dan konjungturnya mengikuti pasar. Susahnya jika pasar dikuasai oleh akumulasi modal investor yang besar yaitu institusi-institusi keuangan dan orang-orang  kaya saja, tentunya jumlah masyarakat yang terlibat jauh lebih sedikit daripada pelaku ekonomi riil.
Mencermati hal diatas sudah semestinya kebijakan pemerintah lebih berpihak pada ekonomi riil dan tanpa mengesampingkan sektor yang lain. Alasannya, di sektor inilah ekonomi kerakyatan relatif dibangun dan berjalan.

Bagaimana sektor ekonomi riil  berjalan?

Untuk lebih mudahnya berikut  ilustrasinya; seorang pengusaha akan membuka perusahaan tekstil di suatu daerah tentunya membutuhkan lahan dan bangunan. Untuk itu ia membeli lahan dan mempekerjakan tukang untuk bangunannya.
Pemilik lahan dan para tukang tersebut akan mendapatkan modal yang dapat dipakai memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dan itu berarti mereka secara tidak langsung mempekerjakan orang lain lagi untuk pemenuhannya. Begitu seterusnya.
Kembali ke pengusaha, ketika perusahaannya beroperasi maka membutuhkan banyak tenaga kerja. Ia juga membutuhkan supplier, pasar, akomodasi, dan sebagainya yang membuka lahan bisnis bagi orang lain.
Belum lagi di sekitar perusahaannya yang bermunculan usaha seperti kos-kosan, warung makan, toko, angkot, ojek dan seterusnya.
Kesemuanya adalah domino effect dari perusahaan si pengusaha dan hal tersebut diataslah ekonomi riil berjalan.
Oleh karena itulah sangat penting bagi pemerintah sebagai regulator menjaga kelangsungan hidup mereka yang nyata-nyata berjasa bagi perekonomian nasional.
Baru-baru ini pemerintah dan DPR telah mengesahkan stimulus ekonomi sebesar Rp 73 trilliun. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah recovery ekonomi dan belum teruji kefektifannya.
Untuk itu pemerintah juga harus mempersiapkan tatanan regulasinya  serta kontrol ketat terhadap stimulus ini, sehingga para pemburu rente ekonomi tidak merajalela dan berdampak positif langsung bagi pemulihan ekonomi.
Lebih jauh lagi pemerintah dapat menyeimbangkan harga-harga kebutuhan pokok, sehingga orang-orang seperti tetangga saya; bu Astrid dan pak Ahmad, dan mayoritas bangsa indonesia dapat menikmati manfaat darinya.
Pada akhirnya, ekonomi yang berasis kerakyatan dapat berjalan dengan baik sebagai pondasi ekonomi nasional yang kuat.

March 27, 2009

Sent from my iPod

March 25, 2009

Menulis, Mari Menulis

Ada sesuatu yang berbeda setelah bertemu pembicaraan dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Selain menanyakan kabar dan seterusnya obrolan mengalir begitu saja mengenai perkembangan lokal disini serta isu-isu nasional di Indonesia. Akan tetapi kali ini ia menegaskan bahwa bahasan-bahasan sewaktu obrolan akan lebih baik jika ditulis dalam bentuk artikel-artikel sehingga kita bisa tracking isu bahasan juga menurutnya banyak ide-ide yang keluar waktu itu.
Sebuah penegasan yang baik dan mencoba mensistemasi topik-topik selama ini yang selalu berkembang kemudian mengkomparasikan antara isu dengan ide secara partikular. Saya pikir bukanlah hal yang muluk-muluk apalagi utopist jika kita dapat merekam hal-hal tersebut diatas karena kadang juga terbesit penyikapan sesuatu dalam perspektif yang berbeda atau bahkan diluar pandangan secara umum. Sungguh sayang jika dibiarkan begitu saja dan selesai hanya pada tahap diskusi argumentatif. Coba bayangkan kesemuanya ditata lagi dalam bentuk tulisan, tentu lain lagi ceritanya. Lebih bermanfaat dan memungkinkan kita untuk mengembangkan lebih lanjut tentang topik ada.
Intinya adalah marilah menulis dan mencoba memaparkan ide, analisa, masalah dan sebagainya dalam berbagai bentuk tulisan.
Sebuah adagium menegaskan bahwa the pen is mightier than the sword yang berarti tulisan mempunyai kekuatan yang lebih daripada sebilah pedang. Daya manfaat dan bahayanya tentunya bergantung kepada siapakah yang menulis dan tujuannya.
Bagaimana cara membuat atau memulainya? Secara singkat relatif tidaklah sulit untuk menjawabnya. Tetapkanlah ide kemudian jabarkan sesuai dalam bentuk dan konsep yang telah ditentukan.
Terahir, kegiatan menulis lebih merupakan sebuah ketrampilan daripada unsur bakat didalamnya. Semakin banyak menulis berarti semakin terasah kemampuan kita.
Bagaimana dengan anda?

Tulisan ini didedikasikan untuk pak Dedy dan pak Iskandar.

New York, NY.

March 24, 2009

New York, sosial dan Efisiensi waktu

Tak terasa sudah sekian waktu saya menjadi bagian hiruk pikuk Kota new york. Aktivitas pluralisme masyarakat yang padat dan kompleks membentuk sikap dan kepribadian Kota megapolitan tersebut yang unik.
Asimilasi antara budaya, ekonomi dan modernitas secara tidak langsung menumbuhkan pola pikir yang efektif dan efisien pada individu-individu secara umum disamping nilai-nilai rasionalisme dan pragmatisme.
Pola-pola diatas memang semakin mengukuhkan terhadap nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya serta terelaborasi  kedalam tatanan sosial yang lebih mapan. Begitu juga peranan aktivitas ekonomi yang dinamis semakin mengimbangi proses industrialisasi dulu hingga sekarang.
Suatu tinjauan yang menarik terhadap masyarakat kota beserta ekses-ekses pembentuk dan penentu perilaku mereka dalam hubungan kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Bentukan-bentukan fisik dari hal diatas antara lain tersedianya fasilitas-fasilitas umum yang memudahkan akselerasi kinerja ekonomi sosial masyarakat lokal berupa Mass tranportation (subway, bus dan ferry) yang connectable, intensitas tinggi dan scheduling yang baik.
Beragam julukan terhadap kota ini seperti kota budaya, hiburan, finansial maupun wisata menunjukkan eksistensinya diantara kehidupan kota yang lain. Begitulah singkat kota new york yang menawarkan sejuta impian dan harapan kepada penduduknya.
Satu lagi yang menarik selain fenomena sosial diatas yaitu pemanfaatan waktu yang cepat dan ekonomis (lebih singkatnya ; efisiensi waktu) diberbagai hal. Satu contoh adalah fenomena berjalan setengah berlari ditempat-tempat umum sewaktu berangkat maupun pulang kerja. Dengan waktu yang terbatas, jadwal yang padat dan banyaknya orang yang menggunakan fasilitas umum seakan-akan kompetisi satu sama lain akan ketepatan waktu dan efisiensi kerja.
Time is money lebih tepatnya diterapkan benar-benar di kota ini.
Dulu waktu pertama kali disini saya sempat tidak bisa mengimbangi mereka yang lalu lalang didalam dan luar stasiun dengan pola berjalan yang terbiasa santai. Akan tetapi sekarang mungkin akan malu sendiri jika tidak merubahnya, seperti tidak mempunyai kesibukan saja. Pelan tapi pasti memang akulturasi telah terjadi, tentunya terhadap hal- hal yang positif. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak?

New York